-
Harga BBM nonsubsidi di Indonesia akan mengalami penyesuaian mulai 1 April 2026 mendatang.
-
Australia memotong pajak BBM 50 persen guna meredam dampak kenaikan harga minyak mentah.
-
Konflik Iran dan AS-Israel memicu lonjakan harga Brent hingga US$115,66 per barel.
Suara.com - Beda di Indonesia dan Australia. Rakyat Presiden Prabowo Subianto pemilik kendaraan bermotor di tanah air harus bersiap menghadapi perubahan biaya operasional dalam waktu dekat.
Keputusan mengenai harga BBM kategori nonsubsidi akan segera terungkap ke publik.
Momen penentuan harga bahan bakar minyak ini dijadwalkan jatuh pada pergantian hari menuju Rabu, 1 April 2026 tepat pukul 00.00 WIB.
Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral telah memberikan indikasi mengenai arah kebijakan harga untuk jenis Pertamax dan kawan-kawan.
Langkah ini diambil sebagai respons terhadap dinamika pasar energi global yang sedang mengalami guncangan cukup hebat belakangan ini.
Direktur Jenderal Minyak dan Gas Bumi Kementerian ESDM, Laode Sulaeman, memberikan pernyataan singkat terkait jadwal evaluasi harga tersebut.
"Untuk BBM nonsubsidi kita tunggu 1 April saja ya," ujar Laode singkat.
Pernyataan ini menjadi sinyal bahwa penyesuaian harga komoditas RON 92 ke atas akan mengikuti tren harga minyak mentah.
Kendati nasib harga Pertamax Turbo hingga Dexlite masih belum pasti, pemerintah menjamin keamanan stok bagi masyarakat luas.
Baca Juga: Rupiah Sudah Tembus Rp17.000, Bukan Tanda Ekonomi Indonesia Memburuk
Stabilitas harga tetap menjadi prioritas utama bagi jenis bahan bakar yang paling banyak digunakan oleh masyarakat menengah bawah.
Di belahan bumi lain, Pemerintah Australia mengambil langkah drastis dengan memotong pajak bahan bakar hingga 50 persen.
Kebijakan ini diambil oleh Perdana Menteri Anthony Albanese sebagai tameng untuk melindungi rakyat dari lonjakan harga dunia.
Pengurangan pajak tersebut mencakup sektor bensin serta solar guna menekan biaya hidup yang semakin mencekik warga Australia.
Pemerintah Australia juga memutuskan untuk menghapus biaya pemakaian jalan raya bagi kendaraan bermotor kategori berat selama triwulan.
Langkah berani ini diharapkan mampu memberikan ruang napas bagi ekonomi domestik di tengah ketidakpastian kondisi keamanan global.
Berita Terkait
Terpopuler
- 5 Shio yang Menarik Keberuntungan 28 Juni 2026, Hari Penuh Hoki dan Kesempatan
- 4 Sepatu Kanky Terlaris di Shopee, Nyaman Dipakai Seharian Sesuai Review Pembeli
- HBL Mantiri Dikukuhkan jadi Ketua BPP PPAD Gantikan Try Sutrisno
- 5 Motor Teririt untuk Buruh dan Pelajar, Dompet Tetap Aman Meski Pakai Pertamax
- 10 Promo Sepatu Lari di Sports Station: Adidas, Reebok, dan New Balance Mulai Rp299 Ribuan
Pilihan
-
Kabar Duka! Legenda Persija Si Macan Betawi Tan Liong Houw Tutup Usia
-
Takut PHK, Prabowo Putuskan Harga LNG untuk Industri USD 13/MMBTU
-
Sejarah! Timnas Voli Indonesia Kalahkan Korsel dan Juara AVC Mens Volleyball Cup 2026
-
Bumi Berguncang! Gempa 6,2 M Hantam Afghanistan, Getaran Terasa Hingga India
-
Perang Meletus Lagi! Iran Hantam Basis AS di Teluk, Gencatan Senjata Runtuh
Terkini
-
Taruna Akmil akan Dampingi Siswa Sekolah Rakyat Belajar Mandiri di Asrama Selama 5 Hari
-
Tak Lagi 'Macan Ompong', RUU HAM Beri Komnas HAM Kewenangan Penyidikan
-
Menuju Kota Global, Jakarta Kejar Target Bebas Buang Air Sembarangan
-
Jangan Terkecoh! Pendakian Gunung Merapi Masih Ditutup, Abaikan Ajakan di Medsos
-
Jadi Otak Penyekapan, Bos Percetakan di Senen Perintahkan Anak Buah Pasung Kaki Korban
-
Bertemu Dony Oskaria, KPK Minta Pejabat BUMN Bandel Tak Lapor LHKPN Disanksi
-
Gelar Budaya Jokowi Disorot, Dinilai Jadi 'Senjata' Politik Incar Masyarakat Paternalistik
-
Satu Tahun Menuju 5 Abad, Apakah Jakarta Sudah Layak Kota Global?
-
Sekjen Golkar: Pasar Tak akan Goyang Hanya Karena Gaya Pidato Prabowo
-
Rp1,1 Triliun Anggaran Pendidikan Jakarta Tak Terserap, DPRD: Harusnya Bisa untuk Sekolah Gratis