Suara.com - Sejak 25 tahun lalu setelah prediksi bahwa tempat pembuangan sampah komunal akan penuh pada tahun 2004, dua wilayah di Jepang Selatan, yakni Shibushi dan Osaki memutuskan untuk mengambil tindakan radikal dalam mengelola sampah. Hal tersebut tidak terkecuali pada produk popok sekali pakai.
Mengutip laporan dari phys.org, saat ini teknologi daur ulang popok sekali pakai tengah diuji untuk mengatasi penumpukan limbah di tempat pembuangan akhir.
Program percontohan yang dipelopori oleh perusahaan Unicharm ini bertujuan mengubah bahan utama dari popok kotor menjadi bahan baku popok baru.
Langkah ini diambil sebagai respons terhadap keterbatasan lahan pembuangan sampah dan perubahan demografi di Jepang, di mana penggunaan popok dewasa kini telah melampaui penggunaan popok bayi.
Terjadi Peningkatan Volume Sampah
Berdasarkan data dari Japan Hygiene Products Industry Association, pada tahun 2024, negara tersebut memproduksi sekitar 9,6 miliar popok dewasa dan pembalut inkontinensia.
Angka ini lebih tinggi dibandingkan produksi popok bayi yang berjumlah delapan miliar unit. Kelompok tersebut memprediksi bahwa pada tahun 2030, jumlah sampah popok kotor akan mencapai 2,6 juta ton per tahun, naik dari 2,2 ton pada tahun 2020.
Secara bobot beratnya, presentase popok kotor dalam total sampah di Jepang diperkirakan meningkat menjadi 7,1% pada tahun 2030 yang awalnya di angka 5,2 persen pada tahun 2020. Kondisi ini menjadi tantangan besar mengingat tingkat daur ulang sampah kota di Jepang masih berada di bawah 20 persen, jauh lebih rendah dibandingkan Jerman (67 persen), Inggris (44 persen), dan Amerika Serikat (32 persen).
Mekanisme Daur Ulang dan Inovasi Teknologi
Baca Juga: Presiden Prabowo Pimpin Rapat Percepatan Pengolahan Sampah Menjadi Energi
Wilayah Shibushi dan Osaki dikenal memiliki tingkat daur ulang sampah rumah tangga sebesar 80 persen. Di bawah program ini, warga diwajibkan mengumpulkan popok kotor dalam kantong sampah khusus yang ditandai dengan nama mereka.
Proses pengolahan dimulai dengan pencacahan dan pencucian popok kotor untuk memisahkan komponen utamanya, yaitu bubur kertas, plastik, dan polimer super-penyerap (SAP). Unicharm menggunakan teknologi perlakuan ozon khusus untuk proses sterilisasi, pemutihan, serta penghilangan bau pada bubur kertas.
Meskipun saat ini plastik dan polimer hasil ekstraksi baru digunakan untuk produk dengan standar sanitasi yang lebih rendah (kertas toilet), perusahaan menargetkan untuk mampu mendaur ulang seluruh komponen tersebut menjadi popok baru sepenuhnya pada tahun 2028.
Target Jangka Panjang
Saat ini, produk popok hasil daur ulang sudah tersedia di beberapa toko lokal dengan harga sekitar 10 persen lebih tinggi dibandingkan produk berbahan baku baru. Selain dijual secara retail, produk ini juga didistribusikan ke pusat penitipan anak dan fasilitas perawatan lansia tertentu.
Pemerintah Jepang menargetkan setidaknya 100 kota dari total 1.700 kotamadya untuk mulai menerapkan atau setidaknya mendiskusikan sistem daur ulang popok pada tahun 2030. Sementara itu, Unicharm berambisi untuk menjalin kerja sama dengan 20 kotamadya pada tahun 2035 guna memperluas jangkauan inisiatif ini.
Pihak pengelola lingkungan di Shibushi menyatakan bahwa prioritas utama dari program ini adalah memperpanjang masa pakai tempat pembuangan sampah komunal. Dengan sistem pengelolaan sampah yang radikal ini, lokasi pembuangan sampah yang awalnya diprediksi penuh pada tahun 2004 kini diperkirakan tetap dibuka hingga empat dekade mendatang.
Penulis: Vicka Rumanti
Berita Terkait
Terpopuler
- Gaji di Bawah Rp 8 Juta Kini Masuk Kategori Berpenghasilan Rendah
- 4 Genset Mini Portable Praktis dan Senyap, Solusi Saat Mati Listrik
- Mahasiswa UBK Tuntut Pengurus BEM Mundur usai Diduga Terima Suap dari Wapres Gibran
- Ikuti Jejak Hotel Sultan, Otto Hasibuan Diminta Ikhlas Lepas Lapangan Golf Ottolima ke Negara
- Isu Rapat Khusus Berisi Perintah Awasi Gibran, Gerindra Sebut Hanya Mengawasi Harga Sembako
Pilihan
-
Program Ayah Ambil Rapor Tuai Dilema, Anak Yatim hingga Buruh Harian Punya Cerita Berbeda
-
Jelang Lawan Mesir, Striker Iran Mehdi Taremi Ditahan Otoritas AS
-
Semua Pengurus BEM FH UBK Dipecat, Kasus Suap Rp 20 Juta dari Polisi
-
Satu Kapal Tanker Pertamina Lolos dari Selat Hormuz
-
Tahan Inggris, Pelatih Ghana Sindir VAR: Saya Tak Yakin Masih Berfungsi
Terkini
-
Wajah Baru Halte Patra Kuningan 2 Ternoda Vandalisme, Begini Respons Transjakarta
-
Kasus Penyekapan di Bandung Harus Dijerat Pasal Berlapis, Fokus pada Dampak Korban
-
KPK Dalami Penghasilan Maruf Cahyono di Kasus Dugaan Gratifikasi Pengadaan MPR
-
Gaya Jokowi Berbaju PSI, Mulai Blusukan Tiga Hari di Lampung
-
OTW Lampung Pakai Outfit 'Gajah', PSI Tegaskan Jokowi Tak Lagi di Partai Lama
-
Jakarta Luncurkan Website HUT ke-500, Warga Bisa Daftar Jadi Mitra Perayaan
-
Dugaan Aliran Uang ke BEM UBK Bentuk Represi Halus terhadap Mahasiswa
-
Demonstrasi Bayaran Rusak Demokrasi, Dalangnya Harus Ditindak
-
Kantor BGN dan DPR RI Dijaga Ketat, 1.287 Personel Amankan Aksi Unjuk Rasa di Jakpus
-
Jenguk YTR di RSHS, KSP Dudung Langsung Hubungi Dirut BPJS Soal Biaya Perawatan