- Lagu "Erika" karya Orkes Semi Dangdut HMT ITB era 1980-an viral kembali karena mengandung lirik yang dianggap melecehkan perempuan.
- Video penampilan lagu tersebut memicu kritik publik di tengah meningkatnya keresahan masyarakat terhadap isu pelecehan seksual di kampus.
- HMT ITB secara resmi meminta maaf, menghapus seluruh konten terkait, dan berkomitmen melakukan evaluasi internal terhadap materi seni mereka.
Suara.com - Jagat media sosial baru-baru ini kembali diramaikan oleh potongan video penampilan Orkes Semi Dangdut Himpunan Mahasiswa Tambang Institut Teknologi Bandung (HMT ITB) yang membawakan lagu berjudul "Erika".
Lirik lagu tersebut menjadi sorotan tajam karena dinilai mengandung unsur pelecehan verbal terhadap perempuan. Lantas, siapa sebenarnya pencipta lagu "Erika" dan bagaimana sejarah di baliknya? Simak ulasan lengkapnya berikut ini.
Sejarah Lagu Erika dan Orkes HMT ITB
Berdasarkan keterangan resmi dari pihak Himpunan Mahasiswa Tambang (HMT) ITB, lagu "Erika" bukanlah karya baru.
Lagu ini lahir dari rahim Orkes Semi Dangdut (OSD) HMT ITB, sebuah unit kegiatan musik di lingkup internal jurusan tambang yang sudah eksis sejak akhir tahun 1970-an.
Lagu "Erika" sendiri diketahui dibuat pada era 1980-an. Pada masa itu, OSD HMT ITB kerap menciptakan lagu-lagu yang mengangkat tema kehidupan mahasiswa, mulai dari impian masa SMA, perjuangan masuk kuliah, cita-cita menjadi direktur perusahaan, hingga persoalan percintaan.
Selain "Erika", beberapa judul lagu lain yang pernah mereka rilis antara lain Anissa dan 25 Karat. Namun, "Erika" menjadi yang paling kontroversial karena liriknya yang berbunyi:
"Oh goyang Erika luar biasa, Oh lebar pinggulnya hampir sedepa, Bila disenggolnya celana pasti terbuka."
Kembali Viral
Baca Juga: Viral Isi Chat Grup Orang Tua Terduga Pelaku Pelecehan Seksual FH UI, Anggap Anak Jadi Korban
Meski diciptakan puluhan tahun silam, video penampilan lagu ini di tahun 2020 kembali mencuat ke permukaan.
Momentum ini bertepatan dengan keresahan publik terhadap kasus pelecehan seksual di lingkungan akademik, termasuk kasus grup chat mahasiswa Fakultas Hukum Universitas Indonesia (FH UI) yang viral beberapa waktu lalu.
Publik menilai lirik lagu tersebut tidak relevan lagi dengan norma kesusilaan masa kini dan justru melanggengkan objektifikasi terhadap perempuan.
Permohonan Maaf dan Evaluasi HMT ITB
Menanggapi gelombang kritik, pihak HMT ITB telah merilis pernyataan resmi. Mereka mengakui adanya kelalaian dalam membawakan lagu tersebut tanpa mempertimbangkan perkembangan norma sosial.
Berikut adalah poin-poin utama dari klarifikasi HMT ITB yang dirilis di website resmi Institut Teknologi Bandung dan akun sosial media HMT ITB:
Berita Terkait
-
Klarifikasi Dikidoy yang Sempat Live TikTok Kasus Pelecehan FH UI
-
Melanie Subono Makin Geram Dengar Pembelaan Pelaku Pelecehan FH UI
-
Kasus Pelecehan Seksual FH UI: Bukti Dunia Pendidikan Kita Sedang Tidak Baik-Baik Saja?
-
Viral Guru Besar Unpad Diduga Chat Mesum ke Mahasiswi Exchange, Minta Foto Bikini
-
Daftar Hotline dan Bantuan Psikologis Korban Kekerasan Seksual di Depok-Jakarta
Terpopuler
- 11 Merek Sepatu Lari Buatan Indonesia yang Populer, Kualitas Lokal Tak Bisa Diremehkan
- Penjelasan Polda Sulsel Terkait Kabar Penangkapan Basri Kajang
- Bagaimana Dody Hanggodo Memanfaatkan Kekuasaannya sebagai Menteri di Kementerian PU
- 5 HP Murah Kamera Bagus Sesuai Review untuk Foto dan Video, Mulai Rp1 Jutaan
- 3 Parfum Mykonos Paling Wangi dengan Aroma Clean dan Tahan Lama Menurut Review Pembeli
Pilihan
-
Banggar DPR Dorong Sinkronisasi Belanja Pusat dan Daerah untuk Percepat Pembangunan Jawa Timur
-
Isu Mutasi Besar-besaran di Kementerian PU Buntut Dokumen Menteri Dody Tersebar
-
Gianni Infantino Resmi Digugat! Hubungan Gelap dengan Donald Trump Dibongkar
-
Niat Hindari Ribut dengan Alasan Beli Kuota, Pria Palembang Malah Dikejar dan Ditembak
-
Kejagung Akhirnya Buka Suara Soal Temuan 74 Kg Emas di Rumah Febrie Adriansyah: Kami Tak Tahu
Terkini
-
Polemik Berkas Korupsi PLTU Batubara, Langkah Polri Dinilai Lawful dan Rasional
-
Nobar Piala Dunia TNI AD di 25 Ribu Titik Sedot 1,1 Juta Penonton, Roda Ekonomi Tembus Rp5 Triliun
-
Dimulai dari Reservasi, Hotel di Gading Serpong Ini Andalkan Pengalaman Serba Digital
-
Kronologi Dugaan Guru SD Hukum Murid Pakai Mistar di Lubuklinggau, Polisi Periksa TKP
-
Daftar Brand yang Paling Sering Masuk Keranjang Belanja Warga Indonesia
-
Kenapa Harga Pemain EA FC 26 Naik-Turun Setiap Pekan? Ini Polanya
-
Flu Singapura Merebak di Sumsel, Mengapa Palembang Jadi Daerah dengan Kasus Terbanyak?
-
Statistik Apik Youri Tielemans, Pengganti Casemiro yang Lebih Efisien untuk MU
-
Purbaya Jamin Kopdes Merah Putih Pasti Untung, Asal Tak Dikorupsi
-
Jembatan Musi V Segera Dibuka, Perjalanan Palembang-Betung Bakal Cuma 1 Jam