Selama perbincangan, penjelasannya mengalir tanpa banyak jeda. Di luar, hujan masih turun, tapi di dalam ruangan perhatian tertuju pada proses yang sedang dijelaskan—bagaimana sampah dipilah, bagaimana nilainya dibangun kembali.
Ikbal juga terbuka soal tantangan. Menurutnya, persoalan utama bukan pada sistem, melainkan perilaku. Mengajak orang memilah sampah, katanya, tidak bisa instan.
“Ini soal perubahan kebiasaan. Butuh waktu. Setiap orang punya momennya sendiri untuk mulai,” ucapnya.
Untuk mendorong itu, Kertabumi mencoba berbagai cara. Salah satunya dengan mengaitkan keanggotaan bank sampah dengan kemudahan urusan administratif di lingkungan warga. Pendekatan ini terdengar tegas, tapi ditujukan untuk membentuk kebiasaan baru yang lebih konsisten.
Di balik upaya itu, prosesnya tidak ringan. Namun hingga sekarang, tim Kertabumi tetap menjalankannya. Pelan, berulang, dan terus mencoba mengubah cara orang melihat sampah, dari sesuatu yang dibuang menjadi sesuatu yang bisa dikelola.
Perspektif yang Salah Mengenai Produk Daur Ulang
Di tengah perbincangan, ada satu momen yang mengubah cara pandang saya. Selama ini, saya terbiasa mengira barang daur ulang seharusnya murah. Logikanya sederhana: bahan dasarnya sampah.
Tapi di Kertabumi Recycling Center, prosesnya tidak sesederhana itu.
Satu kantong plastik dibuka, isinya dipilah satu per satu. Yang masih bisa dipakai dipisahkan, lalu dicuci sampai bersih, dijemur, dicacah, baru kemudian diolah lagi jadi bentuk baru. Semuanya dilakukan berulang, pelan, dan tidak bisa dipercepat begitu saja. Dalam beberapa kasus, satu produk butuh waktu sampai dua hari.
“Buang sampah itu tidak bisa gratis, karena pengolahannya butuh biaya,” kata Ikbal Alexander.
Baca Juga: Belanja Online Naik Pesat, Siapa yang Mesti Bertanggung Jawab Beban Sampahnya?
Kalimat itu terasa masuk akal di ruang ini. Di sisi lain, serpihan plastik kecil dikumpulkan lagi ke dalam wadah. Tidak ada yang dibiarkan tercecer lama. Bahkan sisa-sisa kecil pun masih dicari kemungkinan pakainya.
Saya berkeliling ditemani Deri. Ia menjelaskan sambil sesekali berhenti, menunjuk proses yang sedang berjalan.
Di sini, hampir tidak ada sampah yang benar-benar selesai sebagai limbah. Semua masih tengah menunggu untuk diolah agar jadi punya 'nyawa kedua'.
Ketika Cerita Liputan Mengubah Perspektif Pribadi
Di akhir kunjungan, kami sempat berhenti sejenak. Tim Kertabumi Recycling Center mengajak kami berfoto. Sederhana, tapi hangat. Momen singkat itu jadi salah satu yang paling melekat.
Dalam perjalanan pulang, satu hal terasa jelas bagi saya: urusan sampah tidak berhenti di pemerintah. Ia juga butuh keterlibatan kita—ke kebiasaan kecil, ke pilihan sehari-hari.
Di Kertabumi, saya melihatnya langsung. Dengan proses yang dijaga dan kerja yang konsisten, sampah tidak selalu berakhir di tumpukan. Ia bisa diproses ulang, diberi fungsi, dan—dalam cara tertentu—punya 'nyawa kedua'.
Berita Terkait
Terpopuler
- Sejumlah Harga BBM Naik Hari Ini, JK: Tidak Bisa Tahan Lagi Negara Ini, Keuangannya Defisit
- 10 Bulan di Laut, 4000 Marinir di Kapal Induk USS Gerald Ford Harus Ngantri Buat BAB
- 5 Tinted Sunscreen yang Bagus untuk Flek Hitam dan Melasma
- 7 Bedak Compact Powder Anti Luntur Bikin Glowing Seharian, Cocok Buat Kegiatan Outdoor
- Kecewa Warga Kaltim hingga Demo 21 April, Akademisi Ingatkan soal Kejadian Pati
Pilihan
-
Gempa 7,5 M Guncang Jepang, Peringatan Tsunami hingga 3 Meter Dikeluarkan
-
Respons Santai Jokowi Soal Pernyataan JK: Saya Orang Kampung!
-
Pemainnya Jadi Korban Tendangan Kungfu, Bos Dewa United Tempuh Jalur Hukum
-
Penembakan Massal Louisiana Tewaskan 8 Anak, Tragedi Paling Berdarah Sejak Awal Tahun 2024
-
Viral Tendangan Kungfu ke Lawan, Eks Timnas Indonesia U-17 Terancam Sanksi Berat
Terkini
-
Jadi Bupati Minimal Lulusan Apa? Ini Aturan dan Latar Pendidikan Jeje Govinda yang Viral
-
Boiyen Ungkap Rahasia Percaya Diri di Hari Kartini: Mental Glow Up hingga Senyum Tanpa Insecure
-
Cara Cek E-Meterai Asli atau Palsu, Jangan Salah saat Daftar Manajer Koperasi Merah Putih
-
5 Arti Mimpi Buang Air Kecil di Toilet Menurut Psikologi dan Primbon Jawa
-
Apa Merk Sampo yang Tidak Mengandung SLS? Ini 5 Pilihan Produknya agar Rambut Tidak Kering
-
5 Zodiak Paling Bersinar Mulai 21 April 2026, Pintu Rezeki Terbuka Lebar
-
Gaya Hidup Modern: Saat VR Jadi Bagian dari Cara Kita Menikmati Aktivitas Sehari-hari
-
Sepeda Dewasa Merek Apa yang Murah dan Awet? Ini 5 Pilihan Terbaik untuk Harian
-
5 Parfum Pria Wangi Tahan Lama dari Brand Lokal, Versi Murahnya Dior Sauvage!
-
Sabun Cuci Muka Pria Apa yang Bagus? Ini 7 Pilihan untuk Kulit Berminyak