Lifestyle / Female
Selasa, 21 April 2026 | 12:25 WIB
Jual koleksi barang mewah tanpa ribet. (Dok. Allu)
Baca 10 detik
  • Perusahaan Jepang, ALLU, meresmikan gerai ketiganya di Pakuwon Tower, Surabaya, pada 17 April 2026 untuk layanan jual putus.
  • ALLU menerima barang mewah dalam kondisi apa pun tanpa syarat bukti pembelian guna meningkatkan nilai jual aset konsumen.
  • Layanan ini menjamin privasi tinggi melalui sistem transaksi privat serta opsi kunjungan rumah untuk wilayah Jakarta dan Surabaya.

Suara.com - Bagi sebagian pemilik barang mewah, lemari bukan sekadar tempat menyimpan tas atau jam tangan mahal, melainkan sebuah brankas investasi yang cair. Namun, ada satu tabu yang jarang dibicarakan secara terbuka: proses pelepasannya. Menjual barang mewah sering kali dilakukan secara sembunyi-sembunyi untuk menjaga privasi atau sekadar menghindari stigma sosial. Padahal, ada risiko besar yang mengintai di balik keputusan menjual secara diam-diam ini.

Menurut data sekunder dari Bank Indonesia (BI), sektor barang budaya dan rekreasi memang menunjukkan pertumbuhan yang stabil pada awal 2026, yang mencerminkan tingginya daya beli masyarakat pada barang gaya hidup. Namun, bagi konsumen yang ingin melakukan resale, tantangannya adalah transparansi harga. Menjual secara "bawah tangan" atau terburu-buru tanpa melalui kurator ahli sering kali membuat pemilik kehilangan nilai aset yang signifikan.

Kerugian utamanya adalah posisi tawar yang lemah. Banyak kolektor terpaksa menerima harga rendah karena mereka tidak memiliki bukti pembelian atau karena kondisi fisik barang yang sudah tidak sempurna. Di sinilah letak dilemanya: ingin cepat cair dan terjaga privasinya, namun harus mengorbankan nilai jual.

Solusi Jual Putus di Tengah Kota

Menjawab fenomena tersebut, ALLU hadir dengan pendekatan yang berbeda. Perusahaan asal Jepang ini baru saja meresmikan gerai ketiganya di Surabaya, tepatnya di Pakuwon Tower lantai 19, Tunjungan Plaza 6, pada 17 April 2026. Sebagai platform pre-loved luxury brand buyer, mereka tidak menggunakan sistem titip jual yang memakan waktu lama, melainkan sistem jual putus.

Keunggulan yang paling menonjol adalah fleksibilitas terhadap kondisi barang. Daisuke Oya, Product Specialist ALLU dari Jepang, memberikan penegasan yang menjadi angin segar bagi para pemilik koleksi lama:

"Kami menerima barang dalam kondisi apa pun. Pada dasarnya kami menerima jam tangan, tas, perhiasan, bahkan tanpa kotak maupun tanpa struk pembelian. Ada beberapa kompetitor yang hanya mau membeli jika ada bukti pembelian, sementara kami tidak mensyaratkan hal tersebut," ujarnya dalam keterangan yang diterima Suara.com.

Menjamin Kerahasiaan Lewat Layanan Premium

Hal lain yang kerap luput dari perhatian namun krusial bagi pelanggan kelas atas adalah soal keamanan informasi. Menjual barang mewah adalah keputusan personal yang sensitif. ALLU memahami bahwa tidak semua orang nyaman berpapasan dengan kenalan saat sedang bertransaksi.

Baca Juga: Aset Kripto Jadi Pelarian Saat Saham Loyo, Tapi Tetap Berisiko

"Store kami premium. Pengecekan dilakukan langsung oleh ekspert, prosesnya cepat, dan pelayanannya one-on-one. Jadi pelanggan punya privasi. Ketika mereka menjual, tidak akan bertemu dengan pelanggan lain," kata Daisuke. Setiap transaksi dilakukan di ruang khusus, memastikan bahwa identitas dan nilai aset yang dilepaskan tetap menjadi rahasia antara pemilik dan pihak pembeli.

Bagi mereka yang membutuhkan privasi tingkat tinggi, tersedia layanan Home Service untuk area Jakarta dan Surabaya dengan nilai minimal transaksi Rp30 juta. Tim ahli akan datang langsung ke kediaman pelanggan, melakukan pemeriksaan secara profesional, dan mencairkan dana saat itu juga jika harga sudah disepakati.

Keamanan dari Rekam Jejak Global

Kepercayaan masyarakat dibangun di atas reputasi. ALLU merupakan bagian dari Valuence Holdings Inc., perusahaan global asal Jepang yang memiliki lebih dari 170 gerai di 17 negara. Kredibilitas mereka di pasar internasional terbukti lewat keberhasilan memenangkan lelang tas Hermès Birkin milik Jane Birkin seharga Rp163 miliar di Sotheby’s Paris pada Juli 2025.

Dengan model bisnis yang mengutamakan kecepatan likuiditas dan kerahasiaan, koleksi tas atau jam tangan yang tersimpan di lemari kini bisa dikelola sebagai aset finansial yang produktif tanpa perlu rasa khawatir. Informasi lebih lanjut mengenai layanan dan promo pembukaan gerai baru ini dapat diakses melalui akun media sosial resminya.

Load More