Suara.com - Krisis iklim yang semakin meluas tidak hanya berdampak pada lingkungan, tetapi juga kesehatan mental, khususnya di kalangan generasi muda.
Istilah anxiety kini kerap dikaitkan dengan meningkatnya kecemasan terhadap masa depan bumi, yang banyak dialami oleh Generasi Z.
Gen Z dan Kecemasan Terhadap Iklim
Dalam riset bertajuk “Eco-Anxiety pada Gen Z dan implikasinya pada Kesehatan Mental”, eco-anxiety dijelaskan sebagai respons emosional kronis yang dipicu oleh perubahan iklim.
Kondisi ini muncul seiring meningkatnya paparan informasi terkait krisis lingkungan, terutama melalui media digital yang lekat dengan kehidupan Gen Z.
Fenomena ini juga diperkuat oleh survei global yang melibatkan 10.000 anak muda berusia 16 hingga 25 tahun di 10 negara.
Hasilnya menunjukkan hampir 60 persen responden mengaku sangat khawatir terhadap kondisi lingkungan. Temuan tersebut menandakan bahwa kecemasan terhadap krisis iklim telah menjadi isu yang signifikan di kalangan generasi muda.
Meski demikian, sejumlah kajian menyebut bahwa eco-anxiety tidak selalu berdampak negatif. Dalam beberapa kasus, kecemasan ini justru dapat mendorong kesadaran dan keterlibatan individu dalam aksi-aksi lingkungan.
Dengan demikian, eco-anxiety tidak hanya menjadi cerminan kekhawatiran generasi muda, tetapi juga dapat menjadi titik awal bagi perubahan perilaku menuju gaya hidup yang lebih berkelanjutan.
Baca Juga: Dana Kelola Reksa Dana Makin Tumbuh, OJK Bidik Gen Z Investasi dari Rp10 Ribu
Ada beberapa faktor yang memicu munculnya eco anxiety. Salah satunya adalah paparan informasi yang berlebihan. Saat ini, banyak anak muda menghabiskan waktu di sosial media. Berdasarkan survei Jakpat, sekitar 63 persen responden menyatakan bahwa mereka menggunakan waktu luang untuk scrolling sosial media.
Paparan informasi yang terus-menerus tentang kerusakan lingkungan, bencana alam, dan krisis iklim dapat memperkuat rasa cemas tersebut.
Selain itu, rasa bersalah juga menjadi faktor penting. Banyak gen Z merasa bahwa aktivitas manusia, termasuk diri mereka sendiri turut berkontribusi terhadap kerusakan lingkungan. Perasaan ini kemudian berkembang menjadi beban emosional karena mereka merasa ikut bertanggung jawab atas kondisi bumi saat ini.
Di sisi lain, pengalaman langsung terhadap bencana alam juga memicu munculnya eco anxiety. Individu yang pernah mengalami peristiwa-peristiwa, seperti banjir, tanah longsor, atau kebakaran hutan dapat mengalami trauma yang memperkuat kecemasan terhadap perubahan iklim dan masa depan lingkungan.
Mengubah Rasa Takut Menjadi Kekuatan
Menariknya, eco anxiety tidak selalu berdampak negatif. Banyak gen z yang akhirnya mengubah kecemasan tersebut menjadi dorongan untuk bertindak lebih peduli terhadap lingkungan. Berdasarkan data Alfred 24, ada sebanyak 82 persen gen Z menyatakan keprihatinan terhadap kondisi bumi dan 72 persen di antaranya telah mengubah perilaku mereka menjadi lebih ramah lingkungan.
Perubahan ini terlihat dari banyaknya anak muda saat ini yang aktif menggunakan sosial media mereka sebagai sarana untuk menyuarakan isu lingkungan, mengajak orang-orang untuk lebih peduli terhadap bumi, serta menyebarkan gaya hidup berkelanjutan yang mereka jalani.
Tindakan-tindakan kecil tersebut menunjukkan bahwa eco anxiety tidak hanya membawa dampak negatif , tetapi juga dapat menjadi pemicu perubahan positif.
Namun, jika kecemasan sudah terasa berlebihan dan mengganggu aktivitas sehari-hari, sangat disarankan untuk berkonsultasi dengan psikolog serta melakukan digital detox agar kondisi mental tetap terjaga.
Berita Terkait
Terpopuler
- Menkeu Purbaya Dikabarkan Bakal Dicopot Kamis Hari Ini
- Eks Kepala BGN Dadan Hindayana Diperiksa Kejagung, Lodewyk Pusung dan Sony Sanjaya Ikut Diciduk
- Eks Kepala BGN Dadan Hindayana Dijemput Kejagung, 2 Lainnya Dikejar untuk Ditangkap
- 3 HP Xiaomi dengan Chipset Snapdragon dan RAM 8 GB Termurah Juni 2026
- 4 Sunscreen Terbaik untuk Flek Hitam Usia 40 Tahun ke Atas sesuai Review dan Harga
Pilihan
-
Tersangka Korupsi MBG Sony Sonjaya Ajukan Diri Jadi Justice Collaborator, Siap Ungkap Pihak Lain
-
Terbukti Korupsi! Immanuel Ebenezer 'Noel' Dijatuhi Hukuman 4,5 Tahun dan Denda Rp200 Juta
-
Purbaya Bantah Kabar Akan Dicopot dari Kursi Menteri Keuangan
-
Menkeu Purbaya Dikabarkan Bakal Dicopot Kamis Hari Ini
-
Wamen Imipas Silmy Karim Ditahan KPK, Terborgol Pakai Rompi Oranye Usai Drama Menyerahkan Diri
Terkini
-
Tips Memilih Hunian Premium, Tak Lagi Sekadar Lokasi Tapi Juga Pengalaman Hidup
-
5 Zodiak yang Bakal Bertemu Cintanya Pada Juni 2026, Anda Salah Satunya?
-
Berapa Harga Tiket Piala Dunia 2026? Ini Daftar Harganya di AS, Meksiko, dan Kanada
-
Jerawat Tak Lagi Hanya Diobati dari Permukaan, Teknologi Laser Kini Sasar Sumber Masalahnya
-
Profil Dr. Timothy Astandu, Orang Indonesia Pertama yang Menjelajahi 197 Negara
-
Terpopuler: Sosok Alexandra Askandar hingga Cara Nonton Piala Dunia 2026 di Indonesia
-
Menggambar dan Mewarnai, Cara Menyenangkan Asah Kreativitas Anak Sejak Dini
-
5 Lip Balm Paling Laris dengan Review Positif untuk Lembapkan Bibir Kering
-
5 Moisturizer Lokal Terbaik untuk Usia 40 Tahun ke Atas menurut Review dan Harga
-
Fandom Mark Lee Salurkan 5 Hewan Qurban untuk 300 Warga Pelosok Jawa Barat