Lifestyle / Komunitas
Selasa, 28 April 2026 | 12:35 WIB
Tersesat di Jagakarsa, Menemukan GUDRND: Cerita di Balik Sampah yang Disulap Jadi Seni. (Dok. Istimewa)

Suara.com - Tercengang dan kaget. Dua kata itu masih melekat di kepala saya sejak liputan hari itu.

Itu kali pertama saya menginjakkan kaki di Jagakarsa, wilayah paling selatan di Jakarta Selatan yang selama ini hanya saya kenal lewat peta.

Perjalanan ke sana langsung memberi kesan yang berbeda. Jalanannya tidak rata, naik-turun, dan berkelok di antara gang-gang sempit. Beberapa kali saya refleks berpegangan lebih erat di motor yang saya tumpangi, mencoba menyeimbangkan diri setiap kali roda menghantam lubang atau tikungan tajam.

Beruntung, cuaca sedang bersahabat. Langit tidak terlalu terik. Angin berembus pelan, cukup untuk menenangkan rasa tegang selama perjalanan. Tapi tetap saja, ada sensasi seperti sedang menjalani ekspedisi kecil, menembus sisi lain Jakarta yang jarang saya lihat.

Hari itu saya ditugaskan untuk bertemu dengan tim dari GUDRND.

Perjalanan menuju markas mereka terasa lebih dari sekadar berpindah tempat. Ada rasa penasaran yang terus tumbuh di sepanjang jalan, seperti sedang mencari sesuatu yang tersembunyi.

Perjalanan Menuju Hidden Gem

Potret Pintu Depan GUDRND (Dok.pribadi/Natasha Suhendra)

Sesampainya di lokasi, saya sempat kebingungan. Alamatnya sudah tepat, tetapi bangunannya tidak langsung terlihat.

Setelah bertanya ke warga sekitar, saya akhirnya menemukan bahwa tempat itu memang workshop GUDRND.

Dari luar, tampilannya seperti rumah biasa—sederhana dan nyaris tak mencolok. Namun begitu masuk, saya langsung disambut tumpukan baliho dan banner bekas.

Baca Juga: Dua Hari Berturut, Langit Kelapa Gading Tercemar Asap Kebakaran Sampah

Pemandangan itu seketika terasa menampar—mengingatkan pada persoalan yang selama ini kerap luput dari perhatian.

Pada Pemilu 2024 saja, volume sampah diperkirakan mencapai sekitar 784 ribu meter kubik atau setara 392 ribu ton. Ribuan ton di antaranya berasal dari alat peraga kampanye (APK) yang, setelah masa pemilu usai, kerap berakhir menumpuk di gudang Satpol PP atau menjadi penghuni abadi tempat pembuangan akhir karena tak mudah diolah.

Tak lama, saya disambut hangat oleh salah satu founder GUDRND, Muhammad Aldino. Sosoknya terbuka dan ramah, membuat suasana terasa cair sejak awal.

Di sudut studio yang dipenuhi material bekas itu, Aldino mulai bercerita, tentang bagaimana GUDRND lahir, dari keresahan sederhana yang perlahan tumbuh menjadi sebuah gerakan.

Bukan Ahli Kimia, Hanya Sekumpulan Seniman

Potret Founder dari GUDRND (Dok.pribadi/ Natasha Suhendra)

Sekilas, nama GUDRND terdengar seperti sesuatu yang rumit dan saintifik. Tapi bagi Aldino dan kawan-kawan, nama itu justru lahir dari hal yang sederhana—bahkan cenderung iseng.

“Gud RND itu kan singkatan dari rekayasa dan dicoba-coba. Jadi diplesetin dari R&D,  research and development,” ujarnya dengan senyum lebar. 

Ia menegaskan, sejak awal mereka memang bukan datang sebagai ahli. “Kita tuh dari awal sering nyoba-nyoba aja. Kita bukan ahli kimia, cuma teman-teman seniman yang belajar bareng,” tambahnya.

GUDRND sendiri digagas oleh enam orang: Moch Hasrul, Untung Sugiyarto, MG Pringgotono, Muhammad Aldino, Kautsar, dan Sultan.

Awalnya bermula di masa pandemi Covid-19, saat ekosistem GUDSKUL memproduksi face shield untuk membantu tenaga kesehatan. Namun di balik produksi itu, ada limbah yang terus menumpuk.

Alih-alih dibuang, limbah itu justru memantik rasa penasaran mereka.

“Akhirnya kita coba macam-macam—direbus, dibakar. Sampai ketemu cara yang paling pas, di-oven. Dari situ, limbah 3D print itu kita olah jadi berbagai produk,” jelasnya.

Dari proses coba-coba itulah, lahir berbagai barang baru—mulai dari kacamata, gantungan kunci, hingga pot tanaman. Sesuatu yang sebelumnya dianggap sisa, perlahan berubah jadi karya.

Dari Limbah Jalanan Jadi Produk Bernilai

Potret Tas dari Limbah Banner yang Diproduksi oleh GUDRND (Dok.pribadi/Natasha Suhendra)

Keresahan mereka kemudian bergeser ke ruang publik, terutama ketika melihat ribuan APK yang memenuhi sudut kota setiap musim pemilu. 

“Setelah ini larinya kemana ya? Setelah dipasang gitu. Jadi bakal kemana ya si banner itu?,” ungkap Aldino. 

Aldino dan kawan-kawan merasa perlu ada yang bertanggung jawab atas limbah APK tersebut. Pertanyaan tersebut mendorong mereka untuk mulai mengambil APK yang terjatuh di jalanan.

Langkah ini dipilh agar tidak menimbulkan konflik dengan pihak tertentu. Saat ini,GUDRND mengolah berbagai jenis limbah, seperti kantong plastik, tutup botol, dan APK. Lalu, mereka juga terus berinovasi dengan melakukan riset terhadap beberapa bahan lain. 

“Bocoran sedikit, saat ini kita lagi mencoba mengolah limbah saset,” ungkap Aldino.

Meluas Lewat Kolaborasi dan Pemberdayaan

Potret Poster Operasi Plastik di Lombok Utara (Instagram/@_gudrnd)

Perjalanan GUDRND tidak hanya berhenti dalam workshop mereka saja. Keterbukaan mereka menjadi kunci mengapa banyak pihak bisa tertarik untuk berkolaborasi. Salah satu kolaborasi yang paling menarik adalah dalam Pekan Kebudayaan Nasional 2023 di Lombok bersama Komunitas Pasir Putih dan Kemendikbud.

“Kita ke sana kalau programnya di GUDRND, kita kebanyakan pemberdayaan masyarakat. Jadi kita bikin workshop di desa-desa habis itu kita kolaborasi untuk pengkaryaannya,” jawabnya. 

Dalam acara tersebut, mereka juga berkolaborasi dengan grup musik tradisional di Lombok. 

“Konsennya kita gabungin kita mengolah limbah plastik itu jadi alat musik kayak gitar, bas, kostumnya sampe visual-nya, dan konsep tata panggungnya, itu semuanya dari Sampah,” timpalnya. 

Selain itu, mereka juga berkolaborasi dengan World Wide Fund for Nature (WWF) selama kurang lebih 10 bulan dalam pengelolaan limbah. Tidak hanya itu, GUDRND juga bekerja sama dengan  festival-festival atau acara besar salah satunya adalah Synchronize Festival.

Lebih dari Sekadar Produksi

Portret Proses Produksi di GUDRND (Dok.pribadi/Natasha Suhendra)

Meski karyanya sudah melanglang buana, GUDRND masih bergulat dengan tantangan yang sangat mendasar: produksi. Hingga kini, mereka mengandalkan mesin rakitan sendiri dengan kapasitas yang terbatas.

“Sehari itu paling cuma bisa jadi satu, dua, tiga produk,” ujar Aldino.

Karena itu, punya mesin yang lebih memadai bukan sekadar soal meningkatkan jumlah produksi. Bagi mereka, ini tentang memperluas dampak, tentang seberapa banyak limbah plastik yang bisa diserap dan diselamatkan dari tumpukan.

Obrolan kami pun perlahan berakhir, di bawah langit sore yang mulai teduh. Di momen itu, saya menyadari bahwa apa yang dilakukan Aldino dan kawan-kawan lebih dari sekadar membuat produk. Mereka mengingatkan bahwa setiap dari kita punya tanggung jawab atas limbah yang kita hasilkan, dan bahwa selalu ada kemungkinan untuk mengubahnya menjadi sesuatu yang bernilai.

Lewat GUDRND, ajakan itu terasa dekat dan nyata. Siapa pun bisa ikut berkontribusi, bahkan dari hal sederhana: tidak langsung membuang. Limbah banner dari acara, sisa bahan, atau plastik yang menumpuk, di tangan yang tepat, semuanya masih bisa punya kehidupan kedua.

Penulis: Natasha Suhendra

Load More