Lifestyle / Komunitas
Selasa, 26 Mei 2026 | 22:08 WIB
Ilustrasi Perubahan Iklim. (Freepik.com/vhotomax)
Baca 10 detik
  • Peneliti Indonesia dan Australia mengembangkan board game untuk mengedukasi siswa sekolah dasar mengenai perubahan iklim secara menyenangkan.
  • Uji coba permainan dilakukan di Nusa Tenggara Timur dengan melibatkan anak-anak untuk menyusun materi berdasarkan pengalaman nyata mereka.
  • Pendidikan perubahan iklim bertujuan meningkatkan pemahaman siswa karena mereka merupakan kelompok terdampak krisis serta penentu masa depan.

Sementara itu, Kepala Sekolah Dasar Harkaway, Victoria, Leigh Johnson, mengungkapkan bahwa tantangan yang dihadapi siswa di Australia ternyata tidak jauh berbeda dengan di Indonesia.

“Yang paling penting, para siswa memahami bahwa mereka tidak sendirian menghadapi persoalan ini,” ujar Leigh melalui video conference.

Dari sisi pemerintah, Direktur Diseminasi dan Pemanfaatan Sains dan Teknologi Kemendikti Saintek, Prof. Dr. Yudi Darma, menilai riset di kampus perlu lebih dekat dengan kebutuhan nyata masyarakat.

Menurutnya, pendidikan sejak dini penting agar anak-anak terbiasa melihat persoalan di sekitar dan mencari solusi.

“Kami sangat mendorong kampus dan peneliti untuk mempertimbangkan relevansi penelitian dengan kebutuhan riil masyarakat,” kata Yudi.

Sementara itu, Anggota Komisi X DPR RI, Ledia Hanifa Amaliah, menilai pendidikan perubahan iklim membutuhkan konsistensi kurikulum dan dukungan infrastruktur sekolah yang sesuai dengan kondisi tiap daerah.

“Tidak semua guru paham. Pendidikan perubahan iklim harus konsisten dan guru perlu dipersiapkan,” ujar Ledia.

Ia juga menyoroti pentingnya desain sekolah yang adaptif terhadap kondisi iklim setempat, seperti daerah panas ekstrem, rawan petir, atau banjir rob.

Menurutnya, penguatan pendidikan perubahan iklim harus menjadi komitmen jangka panjang semua pihak, termasuk dalam revisi Undang-Undang Sistem Pendidikan Nasional yang saat ini tengah dibahas DPR.

Baca Juga: Mengapa Krisis Iklim Disebut Bisa Memperparah Penyebaran Hantavirus?

Load More