Suara.com - Munculnya wabah Hantavirus di atas kapal MV Hondius yang merenggut nyawa tiga orang penumpang menjadi alarm keras bagi sistem kesehatan global. Insiden ini memicu kekhawatiran serius, terutama terkait potensi penularan antarmanusia yang jarang terjadi namun sangat mematikan. Dilansir dari suara.com (8/5/2026), saat ini pihak World Health Organization (WHO) tengah menyelidiki kasus tersebut.
Diketahui, proses penyebaran hantavirus berasal dari hewan pengerat seperti hamster dan tikus, sebagaimana dilaporkan CFR.org yang mengutip Centers for Disease Control and Prevention (CDC) (8/5/2026).
Lantas, bagaimana negara-negara menghadapi ancaman Hantavirus?
Strategi Pengelolaan Kasus di Amerika
Hantavirus bukanlah virus baru. Virus ini telah lama ditemukan di sejumlah negara, khususnya di kawasan Amerika Tengah dan Selatan yang beberapa kali mengalami kemunculan kasus Hantavirus Pulmonary Syndrome (HPS). Sebagai respons terhadap ancaman tersebut, negara-negara di kawasan itu meningkatkan pengawasan kasus dan pelacakan kontak secara agresif untuk menekan penyebaran penyakit.
Otoritas kesehatan setempat juga meluncurkan kampanye kesadaran publik yang mendorong masyarakat menghindari kontak dengan hewan pengerat. Namun, langkah ini masih menjadi tantangan besar, terutama di komunitas pedesaan miskin yang memiliki risiko paparan lebih tinggi terhadap tikus dan hamster pembawa virus.
Selain itu, langkah teknis seperti pengendalian hewan pengerat melalui pemasangan perangkap serta perbaikan sistem pembuangan limbah menjadi prioritas utama untuk memutus rantai penularan. Meski demikian, pengelolaan kasus hantavirus masih memiliki celah besar karena hingga saat ini belum tersedia vaksin berlisensi, meskipun beberapa kandidat vaksin tengah berada dalam tahap pengembangan intens.
Upaya yang Perlu Dilakukan oleh Negara-negara
Beberapa studi mengungkap bahwa hantavirus memiliki kaitan dengan perubahan iklim. Salah satunya adalah dengan meningkatnya curah hujan diketahui dapat meningkatkan populasi hewan pengerat yang menjadi penyebab penyebaran hantavirus. Meski belum banyak penelitian yang membahas hubungan tersebut secara mendalam, sebuah studi spesifik menunjukkan bahwa keduanya berpotensi saling berkaitan.
Baca Juga: Perang Masih Panas, Donald Trump Urus Hantavirus: Semua Aman, AS Punya Orang Hebat
Asisten Profesor Lingkungan dan Masyarakat serta Epidemiologi di Universitas Brown, Rachel Baker, mengatakan bahwa perubahan iklim memperburuk penyebaran penyakit menular.
“Sulit untuk menyangkal bahwa perubahan iklim memperburuk beban penyakit menular,” kata Rachel Baker.
Oleh karena itu, pencegahan penyakit yang dipicu oleh perubahan iklim mengharuskan manusia mengurangi pelepasan gas rumah kaca. Tanpa intervensi terhadap pembakaran bahan bakar fosil, peningkatan suhu global akan terus menciptakan kondisi ideal bagi penyebaran patogen mematikan seperti hantavirus.
Dokter sekaligus Direktur Center for Health, Environment and Society di Universitas Wisconsin–Madison, Jonathan Patz, menilai bahwa penanganan krisis iklim harus diperlakukan sebagai kebutuhan kesehatan yang mendesak.
“Kita perlu melakukan intervensi di berbagai tingkatan, termasuk pembakaran bahan bakar fosil, dan memperlakukannya sebagai kebutuhan kesehatan yang mendesak,” ujar Jonathan Patz.
Namun, para peneliti juga menekankan pentingnya langkah pendukung lain, seperti peningkatan riset dan surveilans, pengembangan vaksin, reformasi kerja sama global, serta pendanaan demi mewujudkan kesetaraan kesehatan dalam menghadapi ancaman hantavirus.
Berita Terkait
Terpopuler
- 10 Pantangan Feng Shui Rumah yang Sebaiknya Dihindari, dari Pintu hingga Kamar Mandi
- 3 HP Infinix Memori 256 GB dan NFC Harga Rp1 Jutaan, Solusi Multitasking hingga Gaming
- 3 HP Xiaomi RAM 8 GB Murah di Bawah Rp1 Juta, Ini Pilihannya
- KPAI Desak Audit Total MBG: Tata Kelola Gagal, Anak-anak Jadi Korban Ambisi Program
- Ramalan Shio 9 Agustus 2026: 5 Shio Bakal Buang Kesialan dan Buka Jalan Keberuntungan
Pilihan
-
Sudah Dibangun Sejak 2023, Sejauh Mana Bibit Sriwijaya Kemampo Pulihkan Hutan Sumsel?
-
Napak Tilas Jejak Kolonial Londo Ireng di Makam Kherkof Purworejo
-
100 Personel Damkar Masih Berjibaku Padamkan Kebakaran Gedung Bapenda DKI
-
Kantor Bapenda DKI Jakarta Dilalap si Jago Merah, Api Semakin Membesar
-
Bocoran Reshuffle Kabinet Agustus: Norman Joesoef Bakal Dilantik Jadi Wamenhan RI
Terkini
-
Gelar Dicopot! Profil Menantu Sultan Brunei yang Bikin Penasaran Publik, Ternyata Ini Kasusnya
-
PSSI Murka! Justin Hubner dan Keluarga Jadi Sasaran Ancaman, Publik Diminta Hentikan Serangan
-
Ridwan Kamil Siap-Siap, KPK Buka Peluang Panggil Lagi terkait Kasus Korupsi Bank BJB
-
Siswi Tertemper Kereta di Jurangmangu, 4 Perjalanan Commuter Line Terdampak
-
Dedi Mulyadi Ancam Tahan Bantuan Desa, Ini Penyebabnya!
-
Viral Pungli Wisata Air Panas Karo Berujung Blokade Jalan, 3 Orang Ditangkap
-
KPK Tahan 4 Tersangka Korupsi Dana Iklan Bank BJB, Kerugian Negara Rp223,6 Miliar
-
Mengenal Spesifikasi Isuzu New mu-X SUV Tangguh yang Siap Melibas Berbagai Medan
-
Bukan Cuma Gizi, Ini 4 Fondasi Utama Tumbuh Kembang Anak di 1.000 Hari Pertama
-
Olahraga Jadi Cara Pelaku Industri Panas Bumi Bangun Koneksi