- IKI, GIZ, dan KLH mengajak 120 pelajar Jakarta belajar langsung tentang peran ekosistem mangrove di TWA Angke Kapuk.
- Kegiatan edukasi lapangan ini bertujuan meningkatkan literasi lingkungan generasi muda dalam menghadapi ancaman abrasi serta perubahan iklim.
- Program ini menjadi implementasi strategi IBSAP untuk mencetak generasi muda sebagai pelopor konservasi demi masa depan berkelanjutan.
Suara.com - Di tengah meningkatnya ancaman krisis iklim, abrasi pantai, dan hilangnya ruang hijau di kawasan perkotaan, upaya menjaga lingkungan tidak cukup hanya mengandalkan kebijakan pemerintah.
Generasi muda juga perlu memahami secara langsung bagaimana ekosistem bekerja dan mengapa keberadaannya penting bagi masa depan kota.
Berangkat dari kebutuhan tersebut, kolaborasi The International Climate Initiative (IKI), Deutsche Gesellschaft für Internationale Zusammenarbeit (GIZ), dan Kementerian Lingkungan Hidup/Badan Pengendalian Lingkungan Hidup (KLH/BPLH) mengajak ratusan pelajar Jakarta belajar langsung tentang peran mangrove sebagai benteng pertahanan ekologis perkotaan.
Kegiatan yang digelar di Taman Wisata Alam (TWA) Angke Kapuk itu melibatkan 120 siswa dan guru pendamping dari berbagai SMA dan SMK di Jakarta. Alih-alih hanya menerima materi di ruang kelas, para peserta diajak mengamati langsung ekosistem mangrove, mengenal beragam flora dan fauna pesisir, hingga memahami bagaimana hutan mangrove membantu menghadapi abrasi dan dampak perubahan iklim.
Lead Communication Unit for Resilient Nature Cooperation Area GIZ Indonesia, Gandabhaskara Saputra, mengatakan TWA Angke Kapuk dipilih karena menjadi salah satu contoh penting ekosistem mangrove urban yang masih bertahan di Jakarta.
"Kegiatan di TWA Angke Kapuk ini merupakan penutup dari peringatan Hari Keanekaragaman Hayati Internasional hasil kerja sama GIZ dan Kementerian Lingkungan Hidup dengan memberikan pengalaman dan edukasi pentingnya keanekaragaman hayati bagi generasi muda langsung di lapangan sebagai frontliners menjaga keberlanjutan lingkungan hidup," ujarnya.
Pendekatan belajar langsung di alam ini menjadi bagian dari upaya memperkuat literasi lingkungan sekaligus menumbuhkan rasa memiliki terhadap ekosistem yang selama ini mungkin terasa jauh dari kehidupan sehari-hari anak muda perkotaan.
Langkah tersebut juga sejalan dengan Indonesian Biodiversity Strategy and Action Plan (IBSAP) 2025–2045 yang menempatkan generasi muda sebagai pelopor konservasi melalui peningkatan pengetahuan dan tanggung jawab menjaga lingkungan.
Bagi sebagian peserta, pengalaman ini membuka perspektif baru mengenai fungsi mangrove yang selama ini kurang dikenal. Salah satunya dirasakan Vincent Suhardo, siswa SMK Yadika 2.
Baca Juga: Bisakah Isu Krisis Iklim Dibuat Lebih Dekat dengan Anak Muda? Komunitas Ini Ungkap Strateginya
"Saya jadi bisa paham soal mangrove, yang sebelumnya saya tidak tahu. Awalnya saya hanya tahu mangrove itu tumbuh di pinggir laut. Melalui kegiatan ini, saya belajar bahwa mangrove bisa mencegah abrasi, menghadapi perubahan cuaca, dan mampu hidup di tanah berlumpur," katanya.
Cerita seperti Vincent menunjukkan bahwa edukasi lingkungan tidak selalu harus dimulai dari isu besar dan rumit. Mengenal satu ekosistem, memahami manfaatnya, lalu menyadari keterkaitannya dengan kehidupan sehari-hari dapat menjadi langkah awal lahirnya kesadaran ekologis.
Kolaborasi antara pemerintah, lembaga pembangunan internasional, dan institusi pendidikan ini juga menawarkan pendekatan yang lebih konstruktif dalam menghadapi tantangan lingkungan. Tidak hanya menyoroti kerusakan alam, tetapi juga membangun kapasitas generasi muda untuk menjadi bagian dari solusi.
Berita Terkait
Terpopuler
- Prabowo Disebut Habiskan Rp5,8 Miliar untuk Hotel di Paris, Sandhy Sondoro: Asoy Geboy Gemoy
- Budget Rp2 Juta Dapat HP Samsung Apa? Ini 3 Pilihan dengan RAM 8 GB, Kamera OIS, Layar AMOLED
- Pandji Pragiwaksono Soroti 'Pengakuan Terbuka' Prabowo Soal Keterlibatan Partai dalam Tender Negara
- Sepatu Lari Cocok untuk Jalan Kaki? Ini 3 Sepatu Terbaik Menurut Pakar Beserta Harganya
- 5 Sunscreen Lokal untuk Hempas Flek Hitam, Lengkap dengan Review dan Harganya
Pilihan
-
Kebakaran Kemayoran: Ratusan KK Terdampak, Korban Dievakuasi ke RS Hermina
-
Atma Jaya Yogyakarta Temukan Empat Mahasiswa Terlibat Kasus Riset AI, Kampus Siapkan Sanksi
-
Prabowo: Kalau Kita Lapar, Tidak Ada Bangsa Lain yang Kasihan dan Bantu
-
Prabowo Tabuh Genderang Perang: Kita Lawan Kelompok Anti Tanah Air
-
Prabowo Pidato 1 Juni 2026: Lawan Asing, Waktunya Kembali ke Ekonomi Pancasila
Terkini
-
Cara Membedakan Sepatu Melissa Ori dan KW, Awas Tertipu Barang Palsu
-
Hukum Menikah saat Hamil Duluan, Apakah Harus Menunggu Lahiran? Ini Kata Ulama
-
Anak Hasil Hamil di Luar Nikah Nasabnya ke Siapa? Ini Pandangan Ulama dan Hukum Indonesia
-
Profil Eka Rismayanti dan Radiansyah, Pasutri Owner WO Marwah yang Tipu 58 Calon Pengantin
-
3 Zodiak yang Keuangannya Paling Bersinar dan Hoki Mulai 2 Juni 2026, Kamu Termasuk?
-
4 Parfum Lokal Aroma Bunga yang Wanginya Elegan Rekomendasi Beauty Vlogger
-
Bolehkah Akad Nikah 2 Kali dalam Islam? Begini Hukumnya Menurut Buya Yahya
-
Bikin Rezeki Seret? Ini Warna Dompet yang Sebaiknya Dihindari Menurut Feng Shui
-
Saat Dunia Kerja Berubah, Generasi Muda Dituntut Siap: Keterampilan Digital Jadi Kunci
-
Daftar Larangan Malam 1 Suro dan Bulan Muharram Menurut Syariat Islam, Jangan Asal Ikut Tradisi