- Sidi Rana Menggala meneliti peran vital lebah Apis dorsata dalam menjaga ekosistem serta ekonomi masyarakat di sekitar perkebunan sawit.
- Alih fungsi lahan dan fragmentasi hutan mengancam habitat alami lebah yang berfungsi sebagai penyerbuk penting bagi keanekaragaman hayati.
- Industri sawit diharapkan mengintegrasikan upaya konservasi seperti perlindungan pohon besar untuk menjaga keseimbangan ekosistem dan kesejahteraan ekonomi lokal.
Suara.com - Di tengah meningkatnya perhatian terhadap dampak lingkungan industri sawit, satu aktor penting sering luput dari pembahasan: lebah hutan raksasa atau Apis dorsata.
Padahal, spesies asli Asia Tenggara ini tidak hanya berperan menjaga keseimbangan ekosistem, tetapi juga berkontribusi terhadap penghidupan masyarakat yang tinggal di sekitar kawasan hutan dan perkebunan melalui jasa penyerbukan serta produksi madu hutan.
Dalam penelitian berjudul Apis dorsata, the Giant Honey Bee in the Indonesian Palm Oil Sector and Its Environmental and Local Economic Impacts, Sidi Rana Menggala dari Faculty of Bioscience Engineering, Ghent University, Belgia, menyoroti pentingnya jasa ekosistem yang selama ini kerap luput dari perhatian dalam industri sawit.
Menurut Sidi, pembahasan mengenai sawit umumnya lebih banyak berfokus pada produk akhir, mulai dari minyak goreng, bahan baku kosmetik, hingga biofuel. Padahal, produktivitas perkebunan juga sangat bergantung pada proses-proses alami, termasuk penyerbukan yang dilakukan oleh berbagai jenis serangga.
"Ketika berbicara tentang sawit, kita sering lupa bahwa keberhasilan produksi buah juga bergantung pada proses penyerbukan yang terjadi di alam," tulis Sidi, yang juga menjabat sebagai Koordinator Nasional GEF SGP Indonesia serta Bioscience Engineer and Sustainable Development Leader.
Ia menekankan bahwa keberadaan penyerbuk seperti lebah bukan hanya penting bagi keberlanjutan ekosistem, tetapi juga memiliki nilai ekonomi yang mendukung produktivitas sektor pertanian dan perkebunan.
Meski penyerbukan utama kelapa sawit banyak dibantu kumbang Elaeidobius kamerunicus, keberadaan lebah tetap memiliki peran penting dalam menjaga keanekaragaman hayati di sekitar lanskap perkebunan. Lebah membantu proses reproduksi berbagai tanaman berbunga yang tumbuh di kawasan hutan maupun area penyangga perkebunan.
Namun, keberadaan lebah hutan kini menghadapi tantangan yang semakin besar. Alih fungsi lahan, fragmentasi hutan, dan perubahan bentang alam menyebabkan habitat alami berbagai spesies lebah terus menyusut.
Menurut Sidi, kondisi tersebut dapat mengancam populasi lebah liar yang selama ribuan tahun menjadi bagian penting dari ekosistem hutan tropis Asia Tenggara.
Baca Juga: India 'Buang Muka' dari Sawit Indonesia, Harga Referensi CPO Juni 2026 Terkoreksi 1,91 Persen
Lebah Hutan yang Menghidupi Masyarakat
Di Indonesia, Apis dorsata dikenal luas sebagai penghasil madu hutan. Lebah ini membangun sarang terbuka berukuran besar yang menggantung di pohon-pohon tinggi dan dapat dihuni hingga puluhan ribu individu dalam satu koloni.
Nilai pentingnya tidak hanya terletak pada fungsi ekologis, tetapi juga manfaat ekonomi yang dihasilkan.
Di berbagai wilayah Indonesia dan Asia Tenggara, masyarakat menggantungkan sebagian penghasilannya dari panen madu hutan. Praktik ini bahkan berkembang menjadi bagian dari model konservasi berbasis masyarakat. Warga didorong menjaga pohon-pohon besar dan kawasan hutan karena keberlanjutan produksi madu sangat bergantung pada kelestarian habitat lebah.
"Apis dorsata secara tidak langsung berkontribusi pada kesejahteraan ekonomi masyarakat sekaligus mendukung konservasi hutan," tulis Sidi.
Temuan tersebut menunjukkan bahwa perlindungan lingkungan dan peningkatan kesejahteraan masyarakat tidak selalu berada di dua kutub yang berseberangan. Keduanya dapat berjalan beriringan melalui pemanfaatan hasil hutan bukan kayu yang berkelanjutan.
Berita Terkait
Terpopuler
- 5 Motor yang Jadi Mimpi Buruk Mekanik, Montir Langsung Pura-Pura Sibuk
- 5 Sunscreen Lokal untuk Hempas Flek Hitam, Lengkap dengan Review dan Harganya
- Sepatu Lari Cocok untuk Jalan Kaki? Ini 3 Sepatu Terbaik Menurut Pakar Beserta Harganya
- realme C100i Jadi Andalan Anak Muda, Baterai Awet 6 Tahun dan Reverse Charging
- Akhir Dilema PCX vs Vario: Skutik Baru Honda Hadir Bawa Kamera Dashcam dan Mesin Lebih Buas
Pilihan
-
4 Anggota TNI Penyiram Air Keras ke Andrie Yunus Dituntut 2,5 Tahun, Jaksa Sebut Aksi Balas Dendam
-
Eks Kepala BGN Dadan Hindayana Diperiksa Kejagung, Lodewyk Pusung dan Sony Sanjaya Ikut Diciduk
-
Eks Kepala BGN Dadan Hindayana Dijemput Kejagung, 2 Lainnya Dikejar untuk Ditangkap
-
KPK Gelar OTT di Kantor Imigrasi Jakarta Barat, Jadi Operasi Ke-11 Sepanjang 2026
-
Kejagung Geledah Kantor BGN, Dilakukan di Tengah Pencopotan Dadan dan Dugaan Jual Beli Titik MBG
Terkini
-
Berapa Gaji Nanik S Deyang sebagai Kepala BGN Baru?
-
Bak Bumi dan Langit, Kekayaan Seskab Teddy vs Dino Patti Djalal Jomplang Banget
-
4 Merk Bedak Tabur yang Aman untuk Bumil, Tetap Glowing Selama Kehamilan Tanpa Was-was
-
Cari Cushion yang Bagus? Ini 5 Pilihan dengan Daya Tahan hingga 24 Jam
-
Dicopot dari Kepala BGN, Berapa Harta Kekayaan Dadan Hindayana?
-
Sunscreen Viva SPF Berapa? Cek Tingkat Perlindungan dan Harganya Sebelum Membeli
-
10 Sunscreen Favorit Tasya Farasya, Mana yang Paling Cocok untuk Kulitmu?
-
5 Camilan yang Bagus Dimakan Malam Hari, Bisa Bantu Tidur Lebih Nyenyak
-
Bakal Diperiksa Polisi, Siapa Influencer yang Pernah Promosikan Hanania Travel?
-
Mengenal Apa Itu Top, Middle, dan Base Notes pada Parfum