Lifestyle / Komunitas
Rabu, 10 Juni 2026 | 11:53 WIB
Potret Elang Jawa Di Desa Jatimulyo (Instagram/@burungjatimulyo)

Melalui skema ini, warga ikut menjaga sarang burung sampai anak burung menetas dan dapat terbang bebas. Aktivitas perlindungan tersebut kemudian dikaitkan dengan dukungan ekonomi yang diterima masyarakat.

“Kalau misalnya burungnya bertelur dan membuat sarang sampai menetas, mereka melakukan program adopsi sarang. Jadi masyarakat yang menjaga sarang tersebut juga mendapat manfaat ekonomi,” katanya.

Dampaknya tidak berhenti pada perlindungan satwa.

Bertambahnya jumlah pengunjung yang datang untuk mengamati burung turut menciptakan aktivitas ekonomi baru di desa. Warga mulai membuka penginapan, menyediakan jasa pemandu, hingga mengembangkan usaha pendukung pariwisata lainnya.

Model seperti ini menjadi contoh bahwa konservasi dapat dirancang tidak hanya untuk memulihkan ekosistem, tetapi juga memperkuat ekonomi lokal.

Ketika Alam dan Kesejahteraan Bisa Berjalan Bersama

Bagi Mudi, pengalaman Jatimulyo menunjukkan bahwa perlindungan lingkungan akan lebih bertahan ketika masyarakat merasakan manfaatnya secara langsung.

“Yang paling aku kagumin adalah NGO-NGO lokalnya berusaha semaksimal mungkin untuk nggak cuma melindungi satwa, tapi juga mensejahterakan manusia dan warga-warganya. Jadi bisa balance antara aspek ekonomi sama aspek menjaga lingkungannya,” tuturnya.

Penulis: Natasha Suhendra

Baca Juga: BI Rate Naik Mendadak, Pertanda Apa untuk Ekonomi Indonesia?

Load More