- Bank Indonesia menaikkan suku bunga menjadi 5,5 persen melalui RDG mingguan guna merespons tekanan serius terhadap nilai tukar rupiah.
- Langkah ini merupakan tindakan pencegahan dini dan bukan pertanda bahwa perekonomian Indonesia sedang berada dalam fase krisis ekonomi.
- Pemerintah perlu menjaga kredibilitas fiskal serta kepastian kebijakan untuk mendukung upaya Bank Indonesia dalam menstabilkan kondisi ekonomi nasional.
Suara.com - Keputusan Bank Indonesia (BI) menaikkan suku bunga 5,5 persen secara mendadak bukan pertanda Indonesia masuk krisis.
Pasalnya, kenaikan BI Rate diputuskan dalam Rapat Dewan Gubernur (RDG) secara mingguan. Dalam hal ini, Ekonom Bank Permata, Josua Pardede, mengatakan keputusan ini merupakan cepat tanggap BI dalam mengurangi tekanan pada rupiah.
"Menurut saya, RDG mingguan dan keputusan kenaikan BI Rate menjadi 5,50 persen tidak otomatis berarti Indonesia sudah masuk fase krisis. Ini lebih tepat dibaca sebagai sinyal bahwa tekanan terhadap rupiah sudah cukup serius sehingga BI perlu bergerak lebih cepat, tidak menunggu jadwal RDG bulanan," katanya saat dihubungi Suara.com.
Dia mengatakan, ini langkah pencegahan dini. Dan menegaskan bukan pengakuan bahwa ekonomi Indonesia sedang runtuh.
Dalam kondisi nilai tukar bergerak terlalu cepat, respons yang lebih cepat justru dibutuhkan agar pelemahan rupiah tidak menjalar ke inflasi, arus modal, imbal hasil SBN, dan kepercayaan pelaku pasar.
"Namun, kita juga tidak boleh meremehkan sinyal ini. RDG di luar jadwal bulanan menunjukkan bahwa tekanan pasar sudah melebihi perkiraan BI sebelumnya," katanya.
Dia mengatakan, penyebabnya bukan hanya faktor global seperti suku bunga Amerika Serikat (AS) yang tinggi, penguatan dolar AS, harga energi, dan ketegangan geopolitik, tetapi juga faktor domestik, seperti meningkatnya kebutuhan valas, keluarnya dana asing dari pasar saham dan SBN.
Ditambah, kekhawatiran investor terhadap arah kebijakan fiskal dan kepastian kebijakan ekonomi.
"Artinya, Indonesia belum krisis, tetapi sedang menghadapi tekanan kepercayaan yang perlu dijawab dengan kebijakan yang lebih kuat dan konsisten," katanya.
Baca Juga: Kewalahan Rupiah Terus Loyo, BI Keluarkan 5 Jurus
Josua menambahkan, ekonomi Indonesia masih memiliki bantalan yang cukup kuat.
Cadangan devisa masih memadai, inflasi masih dalam sasaran, sistem perbankan masih kuat, dan aktivitas ekonomi domestik belum menunjukkan pelemahan yang ekstrem. Namun, kualitas ketahanannya sedang diuji.
"Pertumbuhan masih ada, tetapi pasar menilai risiko ke depan meningkat, terutama terkait tekanan rupiah, defisit eksternal, beban fiskal, arah belanja pemerintah, dan kepastian regulasi," katanya.
Menurutnya, persoalan bukan ekonomi Indonesia buruk secara menyeluruh, melainkan pasar sedang meminta bukti bahwa kebijakan ekonomi tetap disiplin dan dapat dipercaya.
Perbedaan antara tekanan pasar dan krisis perlu ditegaskan. Krisis biasanya ditandai oleh cadangan devisa yang tidak memadai, inflasi tidak terkendali, kepanikan perbankan, pembiayaan pemerintah sulit dilakukan, dan ekonomi riil jatuh tajam.
"Kondisi Indonesia saat ini belum mengarah ke sana. Tetapi tekanan pasar bisa berubah menjadi masalah yang lebih besar jika otoritas terlambat merespons atau komunikasi kebijakan tidak meyakinkan," imbuh dia.
Berita Terkait
-
BI Ikut Urus Sektor Riil dan Ciptakan Lapangan Kerja di RUU P2SK, Purbaya Akui Tiru AS
-
Purbaya Ungkap DPR Bisa Evaluasi LPS, OJK, dan BI berkat RUU P2SK
-
Bank Indonesia Optimistis Inflasi Terkendali, Apa Buktinya?
-
Prabowo Soroti Ketimpangan Ekonomi: RI Kaya Nikel hingga Emas, Rakyat Jangan Hanya Jadi Penonton
-
Bank Indonesia Bongkar Penyebab Rupiah Terus Tertekan
Terpopuler
- 4 HP realme dengan Chipset Snapdragon dan RAM 8 GB Termurah Juni 2026
- HP Rp1,5 Jutaan yang Bagus Merek Apa? Ini 5 Rekomendasi Terbaik David GadgetIn
- 5 Kulkas 1 Pintu Anti Bunga Es dan Hemat Listrik, Harga Mulai Rp1 Jutaan
- Tok! Panja DPR Sepakati RUU Polri: Usia Pensiun Bintara 59 Tahun, Perwira 60 Tahun
- Resmi! Chatib Basri Dapat Jabatan Baru Hari Ini
Pilihan
Terkini
-
OJK Redakan Isu Panas Ekonomi Indonesia, 'Sell Indonesia' Jadi Sorotan Investor
-
Update Harga BBM Pertamina Hari Ini, Pertamax Hampir Sentuh Rp17.000
-
OJK Panggil PT Toyota Astra Financial Services, Apa Kasusnya?
-
Digital Edge Kucurkan Investasi Rp73 Triliun, Bangun Kampus Data Center AI Terbesar
-
Jakpro Buka Tender Sponsor Raksasa untuk Naming Rights JIS 5 Tahun
-
Diam-diam Pertamina Kerek Harga Pertamax dari Rp12.300 ke Rp16.250 per Liter, Ini Daftar Lengkapnya
-
Perhatian! Harga Pertamax Naik Jadi Rp 16.250/Liter
-
MBG Sukses Ciptakan Ekosistem Rantai Pasok Baru di Daerah
-
Chatib Basri Blak-blakan ke Prabowo soal Tergerusnya Kepercayaan pada Pemerintah
-
Indonesia Tak Bisa Ekspor Listrik ke Singapura Tahun Ini, Airlangga Bongkar Alasannya