- Minyak goreng bekas yang dibuang sembarangan berpotensi mencemari lingkungan dan menyumbat saluran air pembuangan rumah tangga.
- Masyarakat harus mendinginkan, menyaring, dan menyimpan minyak jelantah dalam wadah tertutup sebelum didaur ulang.
- Penyetoran minyak jelantah kepada pengepul atau bank sampah dapat mencegah pencemaran dan menghasilkan nilai ekonomi tambahan.
Suara.com - Minyak jelantah atau minyak goreng bekas sering kali dianggap sebagai limbah rumah tangga biasa. Padahal, jika dibuang sembarangan, minyak jelantah berpotensi mencemari lingkungan, menyumbat saluran pembuangan, hingga mengganggu ekosistem perairan.
Tidak sedikit orang yang masih membuang minyak bekas menggoreng langsung ke wastafel, toilet, atau tempat sampah. Kebiasaan ini sebaiknya mulai dihentikan karena minyak memiliki sifat yang sulit bercampur dengan air dan dapat menumpuk di saluran pembuangan.
Lantas, bagaimana cara membuang minyak jelantah yang benar dan ramah lingkungan?
Cara terbaik adalah mendinginkan minyak, menyaring sisa makanan, menyimpannya dalam wadah tertutup, kemudian menyetorkannya ke bank sampah atau pengepul minyak jelantah untuk didaur ulang.
Berikut panduan lengkap mengelola minyak jelantah agar tidak mencemari lingkungan.
1. Dinginkan Minyak Jelantah Sebelum Dibuang
Langkah pertama yang harus dilakukan adalah membiarkan minyak goreng bekas hingga benar-benar dingin setelah digunakan.
Jangan langsung menuangkan minyak panas ke dalam botol plastik atau wadah penyimpanan karena suhu tinggi dapat merusak wadah dan meningkatkan risiko tumpah.
Letakkan wajan atau panci di tempat aman dan tunggu sampai suhu minyak turun sebelum memindahkannya.
2. Saring Sisa Makanan dari Minyak
Setelah dingin, saring minyak jelantah menggunakan saringan halus untuk memisahkan remah makanan, tepung, atau kotoran yang masih tercampur.
Sisa makanan sebaiknya tidak dibiarkan menumpuk karena dapat mempercepat pembusukan dan menimbulkan bau tidak sedap selama penyimpanan.
Proses penyaringan juga membantu menjaga kualitas minyak apabila nantinya akan diserahkan kepada pengelola limbah untuk didaur ulang.
3. Simpan dalam Botol atau Jeriken Tertutup
Tuangkan minyak jelantah yang sudah disaring ke dalam botol plastik bekas, jeriken, atau wadah khusus yang bersih dan tidak bocor.
Pastikan wadah memiliki tutup yang rapat agar minyak tidak tumpah, mengundang serangga, atau mencemari lingkungan sekitar.
Simpan wadah di tempat sejuk dan jauh dari sumber panas. Jangan mencampurkan minyak jelantah dengan air, oli, deterjen, maupun bahan kimia lainnya.
Jika minyak sudah terkumpul dalam jumlah cukup, wadah tersebut dapat dibawa ke tempat pengumpulan minyak jelantah.
4. Setorkan ke Bank Sampah atau Pengepul Minyak Jelantah
Alih-alih membuang minyak jelantah ke tempat sampah biasa, masyarakat bisa mencari bank sampah atau pengepul yang menerima minyak goreng bekas.
Beberapa komunitas dan lembaga juga memiliki program pengumpulan minyak jelantah untuk kemudian disalurkan ke industri pengolahan.
Minyak jelantah yang terkumpul dapat dimanfaatkan sebagai bahan baku biodiesel, sabun, lilin, dan berbagai produk turunan lainnya setelah melalui proses pengolahan yang sesuai.
Selain membantu mengurangi pencemaran lingkungan, menyetorkan minyak jelantah kepada pengepul juga berpotensi memberikan nilai ekonomi karena sebagian pengelola bersedia membelinya.
5. Simpan Sementara Jika Belum Menemukan Tempat Pengumpulan
Bagaimana jika di sekitar rumah belum ada bank sampah atau pengepul minyak jelantah?
Jangan langsung membuangnya ke saluran air atau tanah. Simpan minyak dalam botol atau jeriken tertutup rapat sampai menemukan tempat pengumpulan yang sesuai.
Masyarakat bisa menghubungi bank sampah induk, komunitas peduli lingkungan, atau Dinas Lingkungan Hidup (DLH) setempat untuk menanyakan lokasi penampungan minyak jelantah terdekat. Cara ini jauh lebih baik daripada membuang minyak bekas secara sembarangan.
Mengapa Minyak Jelantah Tidak Boleh Dibuang Sembarangan?
Ada beberapa alasan mengapa minyak jelantah harus dikelola dengan benar.
1. Menyebabkan saluran air tersumbat
Minyak yang dibuang ke wastafel atau saluran pembuangan dapat menempel pada dinding pipa. Jika dilakukan terus-menerus, penumpukan lemak dan minyak bisa menghambat aliran air hingga menyebabkan penyumbatan.
2. Mencemari sungai dan perairan
Minyak yang masuk ke sungai atau perairan dapat membentuk lapisan di permukaan air. Kondisi ini berpotensi menghambat pertukaran oksigen dan masuknya cahaya matahari ke dalam air.
3. Mengganggu ekosistem perairan
Pencemaran minyak dapat memengaruhi kualitas habitat dan kehidupan organisme air. Karena itu, minyak jelantah tidak seharusnya dibuang langsung ke sungai, selokan, atau badan air lainnya.
4. Menambah beban pengolahan limbah
Minyak yang masuk ke sistem pembuangan air limbah dapat meningkatkan beban pengolahan dan menyulitkan proses pemisahan kontaminan.