Suara.com - Lebih dari satu abad setelah letusan dahsyat pada 1883, pulau-pulau di kawasan Krakatau, Selat Sunda, kembali ditumbuhi hutan lebat. Proses pemulihan ekosistem tersebut ternyata tidak hanya berlangsung melalui regenerasi alami tumbuhan, tetapi juga berkat peran kelelawar buah dan burung yang menyebarkan biji tanaman.
Temuan ini terungkap dalam penelitian Robert J. Whittaker dan Stephen H. Jones dari Universitas Oxford yang diterbitkan dalam Journal of Biogeography pada 1994. Keduanya menelusuri catatan sejarah dan hasil survei lapangan dari 1883 hingga 1992 untuk mengetahui bagaimana tumbuhan kembali menghuni pulau-pulau yang sebelumnya kehilangan hampir seluruh kehidupan akibat letusan.
Penelitian tersebut mengidentifikasi 124 jenis tanaman yang diperkirakan menyebar melalui biji yang ditelan dan kemudian dikeluarkan oleh burung atau kelelawar. Sebanyak 49 jenis lainnya juga mendapat bantuan satwa dalam proses penyebarannya.
Jika seluruh jalur penyebaran oleh hewan diperhitungkan, jumlahnya mencapai 173 jenis atau sekitar 42 persen dari keseluruhan tumbuhan berbunga di Krakatau.
Jarak Krakatau yang hanya sekitar 40 kilometer dari Pulau Jawa dan Sumatra memungkinkan burung serta kelelawar membawa biji dari daratan utama.
Pada awal abad ke-20, vegetasi di Krakatau masih didominasi padang rumput atau sabana. Namun, pohon dan semak mulai tumbuh berkelompok hingga akhirnya membentuk tutupan hutan.
Catatan botanis Docters van Leeuwen yang dikutip dalam penelitian tersebut menunjukkan bahwa proses pembentukan tutupan hutan berlangsung cepat dan hampir selesai pada akhir 1920-an.
Salah satu kelompok tumbuhan yang paling berhasil berkembang adalah Ficus atau keluarga beringin. Sebanyak 24 jenis tumbuhan dari kelompok ini ditemukan di Krakatau, dengan 13 jenis di antaranya diketahui disebarkan oleh kelelawar.
Kelelawar buah membantu penyebaran biji melalui kotoran maupun muntahan. Salah satu jenis yang tercatat di Krakatau sejak 1919 adalah Cynopterus sphinx. Sementara itu, koloni kalong besar (Pteropus vampyrus) ditemukan di Pulau Sertung pada 1985. Empat tahun kemudian, populasinya tercatat mencapai lebih dari 600 individu.
Burung juga memiliki kontribusi penting. Kelompok merpati dan punai, termasuk pergam (Ducula), berpotensi membawa biji berukuran lebih besar antarpulau.
Para peneliti menyimpulkan bahwa burung dan kelelawar memiliki peran yang saling melengkapi dalam pemulihan vegetasi Krakatau. Keduanya membantu menyebarkan jenis tumbuhan dengan karakteristik berbeda.
Temuan tersebut juga memberikan pelajaran bagi upaya restorasi hutan yang terdegradasi. Peneliti menyarankan penanaman kelompok kecil pohon dan semak berbuah untuk menarik burung serta kelelawar. Satwa tersebut kemudian dapat membantu menyebarkan biji ke kawasan sekitarnya.
Namun, upaya ini tetap membutuhkan perlindungan habitat, pencegahan kebakaran, dan pelestarian populasi satwa penyebar biji.
Kisah pemulihan Krakatau menunjukkan bahwa burung dan kelelawar bukan sekadar bagian dari keanekaragaman hayati. Keduanya juga berperan sebagai penyebar benih alami yang membantu hutan tumbuh kembali.