LINIMASA - Orang tua memiliki peran sentral bagi anak saat memasuki masa pubertas. Sampai kapanpun, anak menjadi tempat bergantungnya kekhawatiran para orang tua, termasuk saat sang anak memasuki fase dewasa atau pubertas.
Psikolog Klinis Anak, Remaja, dan Keluarga, Roslina Verauli M.Psi mengatakan peran orang tua menjadi sangat penting saat anak memasuki fase pubertas. Orang tua diharapkan menjadi teman diskusi yang mengasyikan bagi anak.
Hal itu bisa menghindari ledakan emosional dan perilaku berisiko. Saat memasuki fase pubertas selain mengalami perubahan fisik, anak akan mengalami perubahan emosional pula.
"Orang tua menjadi jaring pengaman bagi putra putri ketika mereka memiliki problem. Pendampingan di ruma adalah landasan dari segalanya," kata Roslina, melansir Antara.
Roslina mengatakan peran orang tua sangat besar dalam psiko sosial remaja, di antaranya menunjukkan penerimaan dan kasih sayang, memberi model afeksi yang tepat, memberi informasi tentang pendidikan seksualitas, memberi akses ke profesional untuk remaja, dan melatih membuat keputusan seksual yang sehat.
"Tugas kita sebagai orang tua memberikan pendidikan seks berkualitas dan gender agar putri kita nanti mampu membuat keputusan seskusal yang teapt untuk dirinya hingga nanti di usia dewasa 20 tahun," katanya.
Saat anak bercerita, lanjut dia, orang tua harus menunjukkan penerimaan terhadap apa yang diceritakan sang anak. Apabila komunikasi orang tua negatif, maka anak akan cenderung mengindar dan menutup komunikasi dengan orang tua.
Saat anak memasuki fase pubertas, maka dukungan dari orang tua akan sangat mereka butuhkan. Jangan biarkan anak lari ke media sosial saat menghadapi masalah dalam berkomunikasi.
"Dekati anak sesuai dengan zamannya, dengan teknik yang sesuai dengan si anak. Contohnya dengan membahas film, lirik lagu atau sosial media yang mereka ikuti," ujar psikolog lulusan Universitas Tarumanegara tersebut.
Baca Juga: Ganjar Ditunjuk Jadi Capres oleh PDIP, Tagar Mega Kalahkan Happy Eid Mubarak di Twitter
Terkait kesehatan reproduksi, ia mengatakan anak remaja harus dipenuhi kebutuhan nutrisi dan aktivitasnya untuk mengeluarkan hormon yang terjadi selama masa pubertas.
"Anak remaja membutuhkan energi besar. Mereka harus cukup tidur, walaupun di usia remaja mereka susah tidur. Bahkan, jumlah jam tidur remaja lebih besar daripada anak SD. Cukupkan exercise atau olahraga karena ini baik untuk release hormon, dan berikan nutrisi yang sesuai," ucapnya.
Berita Terkait
Terpopuler
- Promo JSM Superindo Minggu Ini, Kue Lebaran dan Biskuit Kaleng Cuma Rp15 Ribuan
- Daftar Lokasi ATM Pecahan Rp10 Ribu dan Rp20 Ribu di Palembang
- Apakah Ada Penukaran Uang Baru BI Pintar Periode 3? Ini Pengumuman Pastinya
- 5 Body Lotion Terbaik untuk Memutihkan Kulit Sebelum Lebaran
- Di Balik Serangan ke Iran: Apa yang Ingin Dicapai AS dan Israel?
Pilihan
-
Sejumlah Artis Mendatangi Rumah Duka Vidi Aldiano, Wartawan Dilarang Masuk
-
Setelah Bertahun-tahun Berjuang, Inilah Riwayat Kanker Ginjal Vidi Aldiano
-
Vidi Aldiano Meninggal Dunia Sabtu 7 Maret Pukul 16.33 WIB
-
Vila di Bali Disulap Jadi Pabrik Narkoba, Bea Cukai-BNN Tangkap Dua WN Rusia dan Sita Lab Rahasia!
-
Shin Tae-yong Gabung FC Bekasi City, Ini Jabatannya
Terkini
-
Gaya Hidup Sehat dan Aktif Makin Jadi Pilihan Masyarakat Modern Indonesia
-
Peluang Karier di Industri Ekowisata Makin Terbuka, Apa Saja yang Perlu Dipersiapkan?
-
Tragis! Bocah 8 Tahun Tewas Terseret Arus Sungai Kalibaru Banyuwangi
-
Waka BGN Temukan Pasokan Bahan Pangan di 9 SPPG Pekanbaru Dimonopoli Mitra
-
Jelang EPA U-19, Kendal Tornado FC Youth Simulasi Jadwal Kompetisi
-
Kenang Sosok Vidi Aldiano, Lyodra Ginting: Kalau Sama Dia Pasti Senyum Terus
-
Kisah Pak Minta: Curi Labu Siam Demi Menu Buka Puasa Ibu yang Renta hingga Tewas Dipukuli Tetangga
-
Promo Sirup dan Biskuit di Indomaret 2026, Belanja Hemat buat Persiapan Lebaran
-
Ular Piton 4 Meter Telan Kucing di Penangkaran Surabaya, Evakuasinya Dramatis
-
Kecelakaan Maut di Blora! Truk Rem Blong Tabrak 5 Motor, Satu Orang Tewas