Suara.com - Hakim Suwidya mencecar pertanyaan seputar ruang karaoke yang berada di rumah dinas Ketua Mahkamah Konstitusi (MK) di Widya Chandra, Jakarta, kepada mantan Ketua MK Mahfud MD.
Namun, Mahfud membantah bila ruang tersebut disebut ruangan karaoke. Sebab, menurutnya, itu ruang biasa yang diberi bahan kedap suara.
"Tidak ada. Itu yang disebut ruang karaoke adalah kamar tidur biasa yang kemudian saya beri DVD Player dan seperangkat monitor. Nah itulah yang kemudian disebut ruang karaoke karena di tembok-tembok itu dipasang alat peredam agar suaranya tidak mengganggu keluar," kata Mahfud.
Hal itu dikatakan saat bersaksi untuk Akil Mochtar dalam sidang lanjutan kasus suap Pilkada Banten yang bersengketa di MK, yang digelar di Pengadilan Tindak Pidana Korupsi (Tipikor) Jakarta, Senin (5/5/2014).
Ruangan ini sempat menjadi masalah, sebab di sana ditemukan uang senilai Rp2,9 miliar yang berbentuk mata uang pecahan asing di dalam lemari yang tersembunyi di dinding. Uang ditemukan saat Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) melakukan penggeledahan.
Mahfud mengatakan ruangan itu sudah ada sejak pertama kali ia tinggal di sana, Agustus 2008. Bahkan ruangan tadi sudah ada sejak jaman Ketua MK sebelumnya, Jimly Asshidiqie.
"Itu nampaknya dulu jaman Pak Jimly, itu tempat tidur, tempat menyimpan baju, karena ada hanger, dan tempat buku-buku," tuturnya.
Mahfud mengatakan di ruangan itu memang terdapat lemari, tempat uang Akil ditemukan KPK. Lemari itu, kata Mahfud, berukuran sekitar 1,5 meter dengan tinggi dua meter dan berfungsi sebagai lemari biasa.
"Kalau pintu (lemari) terbuka pasti terlihat ada lemari. Karena itu kotak-kotak bisa meletakkan DVD, juga gantung baju. Kalau ditutup kelihatan tembok," tuturnya.
"Lemari itu melekat ke tembok. Itu fisiknya dan itu hanya ditambah alat peredam yang harganya tidak mencapai Rp2 juta. Dan pintu itu bisa dibuka sehingga seakan-akan kelihatan tembok kalau dari luar tapi sebenarnya itu lemari yang melekat seperti di hotel-hotel," Mahfud menambahkan.
Tag
Berita Terkait
Terpopuler
- Mengenal Lisda Cancer, Perwira Tinggi Polri yang Pensiun Tak Lama Usai Jadi Brigjen
- Pelatih FC Twente Usir Mees Hilgers: Saya Tak Berharap Dia Kembali ke Klub!
- PIP Termin II 2026 Kapan Cair? Ini Jadwal Lengkap dan Cara Ceknya agar Dana Tidak Hangus!
- Skenario Timnas Indonesia Jika Imbang atau Kalah dari Vietnam di Piala AFF 2026
- Sunscreen Apa yang Bagus untuk Menghilangkan Flek Hitam di Wajah? Ini 3 Rekomendasi sesuai Review
Pilihan
-
Aktris Sali Irsalina Dianiaya Pacar di Fatmawati, Mata Lebam Hingga Diselamatkan Polantas
-
Dipilih Lewat Seleksi Ketat, Bank Dunia Kembali Tunjuk Sri Mulyani Duduki Jabatan Strategis
-
Pagar Besi di Mal-mal, Benarkah untuk Antisipasi Plot Kerusuhan Agustus?
-
Desa Kecil, Mimpi Mendunia: Ketika Kolaborasi Mengubah Wajah Kemiren
-
Kejagung Geledah Rumah Eks Jampidsus Febrie yang Pernah Dijaga TNI
Terkini
-
Menyoal PHK 178 Buruh Garmen di Cimahi, Dedi Mulyadi Minta Pekerja Fleksibel Ikuti Peta Industri
-
Kronologi Misteri Jasad Mutilasi dalam Karung di Pancoran Mas Depok
-
Final Piala Presiden 2026 Antara Persib vs Persebaya Digelar Tanpa Penonton, Ini Alasannya
-
Potongan Kaki Masih Dicari, Polisi Buru Motif Pelaku Mutilasi Pria Tanpa Identitas di Depok
-
Lawan Kejagung dan Polri, Sidang Perdana Praperadilan Febrie Digelar Usai HUT RI
-
Waktu Istirahat Minim Jelang Final, Pelatih Persib: Mari Kita Lihat Siapa yang Bisa Bertahan
-
Gubernur Andra Soni Sebut Gedung Baru DPD RI Rp4,1 M Kebutuhan Daerah, Bukan Senator
-
Pelaku Mutilasi Depok Semula Korban? Polisi Diminta Uji Klaim Percobaan Pelecehan
-
Soroti Kasus 46 Juta Obat Ilegal di Tangsel, DPR: Bongkar Mata Rantai Distribusi Sampai ke Akar!
-
BRI Perkuat Sinergi dengan Ditjenpas DIY Melalui Optimalisasi Layanan Pemasyarakatan