Suara.com - Sejumlah elemen masyarakat menduga ada pontesi penyalahgunaan jabatan maupun fasilitas negara pada masa kampanye pemilu presiden (pilpres) 2014 oleh kepala daerah maupun menteri di pemerintahan Kabinet Indonesia Bersatu (KIB) II yang masih aktif.
Data yang dihimpun Indonesia Corruption Watch (ICW) dan Indonesia Parliementary Center (IPC) serta Indonesia Budget Center (IBC), ada 25 kepala daerah, baik Gubernur atau Walikota/Bupati, yang mendukung salah satu pasangan capres-cawapres dalam pilpres 2014.
"Dari data yang kami himpun ada 35 orang pejabat negara yang ikut serta menjadi tim sukses atau pendukung pasangan calon. Ini berpotensi terdapat penyalahgunaan jabatan maupun fasilitas negara pada masa kampanye pilpres," ujar peneliti IBC Roy Salam di Kantor Bawaslu, Jakarta, Jumat (6/6/2014).
Dari 35 menteri dan kepala daerah itu, belum ditambah satu anggota Badan Pemeriksa Keuangan (BPK) Ali Masykur Musa yang menjadi anggota dewan pakar tim kampanye Prabowo Subianto-Hatta Rajasa.
Roy menambahkan, keikutsertaan menteri dan kepala daerah menjadi tim kampanye pada pilpres berpotensi menimbulkan sejumlah persoalan baik dari pelanggaran pidana pemilu, pelanggaran kode etik.
Dia juga takut bila dengan jabatannya itu memanfaatkan dana sosial (bansos) untuk kepentingan pemenangan capres-cawapres, serta adanya potensi politisasi birokrasi atas keterlibatan kepala daerah.
Roy menerangkan, dengan jabatannya, tim sukses ini memberikan ruang terseretnya struktur dan jajaran birokrasi sebagai mesin pemenangan.
"Bahkan banyak dari mereka menjadi ketua tim sukses di daerah," katanya.
Sementara itu, Peneliti ICW Abdullah Dahlan mulai menyangsikan sepuluh menteri yang ikut menjadi tim pemenangan salah satu capres-cawapres. Menurutnya, hal itu akan membuat kinerja kementerian menjadi tidak fokus.
"Karena sudah masuk sebagai tim sukses ataupun menyatakan dukungan, nantinya mereka tidak 'concern' pada kerja kementrian tapi lebih pada pemenangan. Jadi sudah tidak fokus. Bahkan kalau masuk dalam tim pemenangan memungkinkan sumber kementrian menjadi modal politik," ujar Dahlan.
Berita Terkait
Terpopuler
- Profil dan Pekerjaan Jhon LBF, Siap Bantu Ruben Onsu Bayar Kerugian Rp3,5 M
- 6 HP Realme RAM 12 GB dengan Performa Kencang, Mulai Rp2 Jutaan
- Erick Thohir Buka Hasil Evaluasi Timnas Indonesia usai Gagal di Piala AFF 2026
- 5 Pilihan Rice Cooker Panci Keramik yang Awet, Tahan Gores, dan Mudah Dibersihkan
- 25 Pengemis Haji Gocap di Kebayoran Baru Dikirim ke Panti Sosial
Pilihan
-
Sempat Serukan Serang Hercules! Admin Akun Pemukiman Setan Ditangkap Polisi karena Molotov
-
Pidato Pertama Sebagai Ketua Umum PBNU, Gus Kikin Berseloroh: Baru Dua Jam Saja
-
Jalani Ritual di Danau Sunter, WNA Aljazair Dievakuasi Setelah Dirayu 3 Jam
-
Diseret dari Gang ke Jalan! Kronologi Pedagang Cermin Tewas Dikeroyok Saat Demo Ricuh
-
Senayan Kondusif: Tol Dalam Kota Normal dan Blokade Jalan Dibuka Pasca Bentrok 27 Agustus
Terkini
-
Alasan Ada Agenda Lain, Anggota DPR Satori Mangkir dari Pemeriksaan KPK
-
Persib Lolos ACL Two dengan Drama! Mariano Peralta Jadi Pahlawan di Menit-Menit Akhir
-
Cegah Risiko Pidana, Pakar Sebut Pemerintah Tepat Atur Pembelian Timah Rakyat
-
Desak Pelaku Pengeroyok Bambang Setiawan Ditangkap, Wamen HAM: Harus Ditindak Tegas!
-
Dedi Mulyadi: Uang Pajak Warga Depok Siap Disulap Jadi Flyover dan Underpass
-
Setengah Karhutla Terjadi di Wilayah Korporasi yang Izinnya dari Negara!
-
Sikap Bupati Bogor Usai KPK Masuk Pemkab: Serahkan Proses Hukum dan Hargai Praduga Tak Bersalah
-
Padam Setelah 30 Jam, Kebakaran Pabrik Plastik di Serang Telan Kerugian Rp41 Miliar
-
Hormati Penyidikan KPK, Bupati Bogor Tegaskan Pelayanan Tetap 'Gas Terus' 100 Persen
-
Kolaborasi Kelompok Tani Cipicung dan SEG, Sulap 15 Ternak Jadi Modal Berkelanjutan