Suara.com - Seorang bekas tentara infanteri Inggris, yang pernah berperang di Afghanistan, menjadi satu dari beberapa warga Inggris yang ikut membantu para pejuang Kurdi menumpas kelompok Negara Islam Suriah dan Irak di Timur Tengah.
Menurut penelusuran Observer seperti yang dikutip The Guardian, James Hughes - seorang warga Reading, Berkshire, Inggris - kini sedang berada di Rojava, wilayah Suriah utara, bergabung bersama pejuang Kurdi dalam mempertahankan kota Kobani dari gempuran ISIS.
Dalam akun Facebooknya Hughes menulis bahwa dirinya pernah tiga kali bertugas di Afghanistan. Ia mundur dari militer pada 2014, setelah lima tahun berdinas.
Ia tampaknya berjuang membantu pejuang Kurdi bersama rekannya, Jamie Read, yang berasal dari Newmains, Lanarkshire, Inggris. Dalam akun Facebooknya, Read menulis pernah berlatih bersama militer Prancis dan terlibat dalam pertempuran sengit melawan ISIS pekan lalu.
Sementara itu kepolisian Inggris juga sedang mencari seorang perempuan berusia 17 tahun dari Haringey, London utara, yang pekan lalu pergi ke Belgia, dan diduga sedang menuju Suriah. Ia diyakini adalah perempuan Inggris pertama yang bergabung dalam perang melawan ISIS.
Gadis itu masih berdarah Kurdi dan diyakini ingin memberikan bantuan kemanusiaan atau justru bergabung dengan pasukan perempuan Kurid (YPJ), ikut bertempur di Kobani.
Para warga Inggris itu diduga direkrut oleh seorang warga Amerika Serikat, yang dinamai Jordan Matson yang tergabung dalam "Singa-singa Rojava", kelompok yang dijalankan oleh kelompok pejuang Kurdi.
Matson, yang cedera dalam pertempuran melawan ISIS, memastikan bahwa Hughes dan Read kini bergabung dengan dirinya.
"Kalian bisa datang ke Rojava dan bertemu dengan mereka," kata Matson dalam pesan yang dikirim kepada Observer.
Dalam akun Facebook-nya Read, pada Kamis (20/11/2014), menulis bahwa ia sedang bertempur di Suriah bagian utara. Read tampaknya baru tiba di Suriah, setelah menjalani latihan di Republik Cek bulan lalu.
Menurut Mark Campbell, seorang pejuang hak-hak masyarakat Kurdi di Inggris, Read dan Hughes kini berada di Suriah bergabung dengan YPG di Rojava.
Berita Terkait
Terpopuler
- Pentagon Gelar Karpet Merah, Sjafrie Sjamsoeddin Dituding Bawa Agenda Akses Bebas di Langit RI
- 6 Sabun Cuci Muka yang Bagus untuk Memutihkan Wajah dan Harganya
- AS Blokade Semua Pelabuhan Iran Senin Hari Ini, Harga BBM Langsung Naik
- 7 HP Murah di Bawah Rp1 Juta Paling Layak Beli di 2026, Performa Oke Buat Harian
- 7 HP Samsung Seri A yang Sudah Kamera OIS, Video Lebih Stabil
Pilihan
-
Bukan Merger, Willy Aditya Ungkap Rencana NasDem-Gerindra Bentuk 'Political Block'
-
Habis Kesabaran, Rossa Ancam Lapor Polisi Difitnah Korban Operasi Plastik Gagal
-
Konflik Geopolitik Tak Pernah Belanja di Warung, Tapi Pelaku UMKM Semarang Dipaksa Akrobat
-
Kenapa CFD di Kota Lain Lancar, Tapi Palembang Macet? Ini Penyebab yang Terungkap
-
JK Dilaporkan ke Polisi, Juru Bicara Jelaskan Konteks Ceramah
Terkini
-
Dipolisikan Faizal Assegaf ke Polda Metro, Jubir KPK Santai: Itu Hak Konstitusi, Kami Hormati
-
Analis Selamat Ginting: Gibran Mulai Manuver Lawan Prabowo Demi Pilpres 2029
-
Andi Widjajanto: Selat Malaka Adalah Choke Point yang Bisa Seret Indonesia ke Konflik Global
-
Produk Makanan Segera Punya Label Gula, Garam, Lemak Level A-D: Dari Sehat hingga Berisiko
-
Sebut Prabowo-Gibran Beban Bangsa, Dosen UNJ Ubedilah Badrun Resmi Dipolisikan
-
Mahfud MD Bongkar 'Permainan' Pejabat di Balik Pelarian Koruptor Rp189 Triliun
-
Habiburokhman ke Kapolri: Jangan Risau Ada Oknum, yang Penting Institusi Berani Tindak Tegas
-
Kasus Suap PN Depok, KPK Telusuri Riwayat Mutasi Dua Hakim Tersangka
-
Kepala Dishub DKI Jadi Calon Wali Kota Jaksel, DPRD Soroti Ego Sektoral dan Lambannya Birokrasi
-
Biaya Haji 2026 Tak Naik, Tapi Sumber Dana Rp1,77 Triliun Masih Gelap