News / Nasional
Kamis, 27 November 2014 | 10:15 WIB
Ketua Umum Partai Golkar Aburizal Bakrie [suara.com/Kurniawan Mas'ud]

Suara.com - Anggota Presidium Penyelamat Partai Golkar Zainal Bintang menilai Aburizal Bakrie telah melakukan penyimpangan konstitusi partai sehingga memicu ketegangan di internal organisasi seperti yang terjadi sekarang.

"Kalau sekarang terjadi ketegangan, saya berani katakan itu terjadi karena ARB lakukan penyimpangan kostitusi," kata Ketua Koordinator Pusat Eksponen Tri Karya Golkar itu kepada suara.com, Kamis (27/11/2014).

Zainal menjelaskan berdasarkan rapat pleno DPP yang diselenggarakan Januari 2014 diputuskan Munas IX Golkar digelar pada Januari 2015, hal ini juga sesuai rekomendasi Rapimnas 2009.

"Nah ini kan pleno, tapi setelah dibawa ke Rapimnas di Yogya (2014), ternyata keputusan itu diobrak-abrik oleh suara koor 30 DPD (dari 34 DPD). Tiba-tiba suaranya sama semua, satu kalimat, ibaratnya copy paste. Mereka mengatakan: kami minta Munas dipercepat 30 November dan minta ARB jadi ketua umum lagi," kata Zainal.

Zainal menilai keputusan tersebut tidak dibuat melalui proses yang demokratis. Dia juga curiga suara 30 DPD tingkat I itu tak murni dari hati nurani.

Lalu, keputusan Yogya itulah yang kemudian dibawa ke Jakarta, ke dalam rapat pleno DPP yang mengagendakan pembentukan panitia munas dua hari yang lalu.

"Nah suara dari Yogya ini bermasalah di Jakarta, yang akibatnya terjadi perkelahian dua kali berturut-turut. Terjadi tendang-tendangan di sana," kata Zainal.

Perkelahian terjadi antara pendukung Aburizal Bakrie dan pendukung Agung Laksono. Agung Laksono yang sekarang menjadi Ketua Presidium Penyelamat Partai Golkar menginginkan agar kader Golkar tetap konsisten menyelenggarakan Munas IX di bulan Januari 2015.

"Ini tidak ada syuting film laga, kok tiba-tiba berkelahi," kata Zainal dengan nada bercanda.

Menurut Zainal bentrok fisik tersebut merupakan akumulasi dari ketidakpuasan atau kejengkelan terhadap keputusan Rapimnas Yogya.

Terjadinya insiden tersebut, kata Zainal, juga membuktikan kalau wibawa Aburizal sebagai ketua umum Partai Golkar sudah tidak ada.

Selain itu, kata Zainal, memanasnya situasi Golkar saat ini merupakan tnda Aburizal gagal mengelola manajemen partai.

"Dua kali berturut-turut berkelahi di DPP, itu gara-gara dia. Kita, Golkar, belum ada sejarah orang berkelahi di DPP," kata Zainal.

Zainal menambahkan, "Jadi saya ingin katakan, ARB itu lebih baik lempar handuk saja (mundur)."

Zainal meminta Aburizal tidak melawan aspirasi yang menghendaki Munas IX digelar 15 Januari 2015.

Tag

Load More