- Wamen Diktisaintek Stella Christie memakai pengalaman pendidikan luar negeri sebagai dasar perumusan kebijakan pendidikan di Indonesia.
- Pengalaman internasional Stella memberi pandangan tentang sistem pendidikan dan riset dunia yang cocok diterapkan di Indonesia.
- Stella menekankan pentingnya adaptasi sistem pendidikan tinggi Indonesia untuk menghasilkan SDM unggul dan berperan global.
Suara.com - Wakil Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Wamen Diktisaintek) Stella Christie mengungkapkan pelajaran penting yang ia dapatkan selama menempuh pendidikan di luar negeri, yang kini menjadi dasar pandangannya dalam merumuskan kebijakan pendidikan tinggi di Indonesia.
Stella mengatakan pengalaman belajar di luar negeri memberinya kesempatan untuk melihat berbagai macam sistem pendidikan dan riset di dunia, yang menurutnya relevan bagi inovasi pendidikan di Indonesia.
“Pengalaman yang paling real adalah bisa melihat berbagai macam sistem yang ada dan melihat berbagai macam sistem yang ada, sistem pendidikan, sistem riset di dunia ini memberikan pandangan untuk apa sebenarnya yang paling cocok untuk Indonesia, apa sebenarnya yang paling tepat untuk kita di Indonesia,” ujar Stella usai acara ThinkTNE Forum di Universitas Prasetiya Mulya, Tangerang, Rabu (4/2/2026).
Menurutnya, pengalaman internasional tersebut penting, terutama di tengah dinamika geopolitik global yang terus berubah. Stella mempertanyakan sejauh mana sistem pendidikan tinggi Indonesia saat ini mampu menghasilkan lulusan yang dapat beradaptasi dengan perubahan dunia.
“Kembali lagi, saya percaya pada saat ini, di masa geopolitik yang memang berubah, kita harus bisa beradaptasi. Jadi pertama yang kita tanyakan, apakah sistem pendidikan di Indonesia, pada saat ini berfokus kepada pendidikan tinggi, itu sudah menghasilkan lulusan yang mampu beradaptasi terhadap perubahan dunia,” ucapnya.
Stella menilai Indonesia memiliki peluang besar untuk menjadi pemain utama di kancah global jika sistem pendidikan nasional mampu menyiapkan sumber daya manusia yang unggul.
“Yang kedua, kita memikirkan kembali, Indonesia ini adalah negara yang harusnya, dan sekarang juga sudah mulai terjadi, mempunyai tempat yang besar di dunia. Kita nomor empat paling besar dari segi jumlah penduduk, tetapi kita juga mempunyai sumber daya alam yang begitu kaya, yang dibutuhkan oleh dunia,” kata Stella.
Ia menegaskan kondisi tersebut merupakan momentum bagi Indonesia untuk serius membangun kapasitas pendidikan agar dapat bersaing dan memainkan peran strategis di tengah peta pendidikan global.
“Dan inilah saatnya kita sungguh-sungguh membangun Indonesia, agar Indonesia juga menjadi player yang top di dunia,” tandasnya.
Baca Juga: Wamen Stella Christie: Indonesia Punya Kesempatan Pimpin Pendidikan Dunia
Stella Christie diketahui memiliki latar belakang pendidikan internasional yang beragam. Ia sempat menempuh pendidikan SMA di Jakarta, kemudian menyelesaikan pendidikan menengah atas di Red Cross Nordic United World College di Norwegia melalui beasiswa.
Setelah itu, ia melanjutkan studi ke Amerika Serikat dan meraih gelar sarjana Psikologi dari Harvard University pada 2004 dengan predikat magna cum laude with Highest Honors.
Stella kemudian melanjutkan pendidikan ke Northwestern University dan memperoleh gelar Ph.D. dalam psikologi kognitif pada 2010.
Setelah menyelesaikan pendidikan, Stella memulai karier akademik internasional. Ia pernah menjadi profesor di Swarthmore College, Pennsylvania, Amerika Serikat (2012–2018), sebelum akhirnya menjadi profesor tetap di Tsinghua University, Beijing, China, sejak 2018, salah satu universitas terkemuka di Asia.
Berita Terkait
-
Wamen Stella Christie: Indonesia Punya Kesempatan Pimpin Pendidikan Dunia
-
Urgensi Pendidikan Mitigasi Bencana Sejak Bangku Sekolah
-
Daftar Nama Sekolah Penerima Dana Program Sekolah Gratis dari Pemprov Papua Tengah
-
Lagu 'Rukun Sama Teman' Ciptaan Siapa? Kini Wajib Dinyanyikan saat Upacara Bendera
-
Guru Honorer: Solusi Darurat yang Menjadi Masalah Permanen
Terpopuler
- Gaji di Bawah Rp 8 Juta Kini Masuk Kategori Berpenghasilan Rendah
- 4 Genset Mini Portable Praktis dan Senyap, Solusi Saat Mati Listrik
- Mahasiswa UBK Tuntut Pengurus BEM Mundur usai Diduga Terima Suap dari Wapres Gibran
- Ikuti Jejak Hotel Sultan, Otto Hasibuan Diminta Ikhlas Lepas Lapangan Golf Ottolima ke Negara
- Isu Rapat Khusus Berisi Perintah Awasi Gibran, Gerindra Sebut Hanya Mengawasi Harga Sembako
Pilihan
-
Program Ayah Ambil Rapor Tuai Dilema, Anak Yatim hingga Buruh Harian Punya Cerita Berbeda
-
Jelang Lawan Mesir, Striker Iran Mehdi Taremi Ditahan Otoritas AS
-
Semua Pengurus BEM FH UBK Dipecat, Kasus Suap Rp 20 Juta dari Polisi
-
Satu Kapal Tanker Pertamina Lolos dari Selat Hormuz
-
Tahan Inggris, Pelatih Ghana Sindir VAR: Saya Tak Yakin Masih Berfungsi
Terkini
-
KPK Limpahkan Perkara Tersangka Terakhir Kasus Suap Impor di Bea Cukai ke Tahap Penuntutan
-
Razman Arif Nasution Resmi Dipenjara usai Divonis Cemarkan Nama Baik Hotman Paris
-
Jokowi Hadiri Rakorda PSI di Lampung, Siap Sampaikan Pandangan soal Politik Nasional
-
Mengapa Tekan Emisi Saja Tidak Akan Cukup Selesaikan Krisis Lingkungan? Studi Ungkap Caranya
-
Razman Nasution Resmi Ditahan di Lapas Cipinang, Buntut Kasus Hotman Paris
-
Gempa Venezuela Renggut 235 Jiwa, Krisis Medis Melanda Wilayah La Guaira
-
Sekolah Rakyat Rasa Militer? 1.000 Taruna Kemhan Bakal Diterjunkan Gembleng Disiplin Siswa
-
Ribuan Siswa Lolos PTN Memilih Tak Daftar Ulang, Sinyal Krisis Biaya Pendidikan?
-
Selat Hormuz Memanas Lagi, Serangan Drone Iran Menghentikan Evakuasi Kapal IMO
-
Dasco Pimpin Rapat Bareng Pemerintah dan Buruh, Antisipasi Badai PHK