Suara.com - Tim DVI menyarankan pencarian korban jatuhnya pesawat AirAsia QZ8501 juga dilakukan dengan menyisir pantai untuk mencari korban atau bagian tubuh korban yang mungkin terseret ombak hingga ke pantai.
"Makanya kami menyarankan pencarian juga dilakukan di pesisir pantai. Sekecil apa pun bagian tubuh yang ditemukan masih besar kemungkinan kita bisa mengidentifikasinya, khususnya melalui tes DNA," kata spesialis forensik Tim DVI, AKBP Summy Hastry Purwanti yang ditugaskan membantu identifikasi di Posko DVI di RSUD Sultan Imanuddin Pangkalan Bun, Rabu (7/1/2015).
Hingga Rabu siang atau hari ke-11 pencarian baru 40 dari 162 korban yang berhasil ditemukan dan sudah dievakuasi ke Surabaya.
Beberapa hari terakhir, kondisi fisik jenazah sudah semakin sulit dikenali, bahkan ada jenazah yang bagian tubuhnya sudah tidak utuh. Pembusukan lanjut membuat kondisi jenazah semakin lama semakin rusak sehingga sangat sulit dikenali secara kasat mata.
Dengan kondisi seperti itu harapan terbesar pengidentifikasi jenazah adalah melalui tes DNA. Apalagi sebagian jenazah ditemukan sudah tidak lagi terdapat properti seperti pakaian, perhiasan atau barang-barang lainnya untuk dicocokkan dengan antemortem korban sebelum meninggal, katanya.
Pengidentifikasian juga mulai sulit karena sudah ada jenazah yang ditemukan dengan kondisi tidak utuh lagi. Namun tes DNA masih bisa dilakukan dengan memeriksa tulang dan gigi, sedangkan sidik jari korban umumnya sudah sulit diidentifikasi akibat pembusukan lanjut, katanya.
"Tim DVI di Surabaya juga bisa melakukan pemeriksaan dalam terhadap jenazah, seperti untuk mengetahui apakah semasa hidup korban pernah melahirkan atau belum, pernah operasi usus buntu, pasang ring jantung, pen, cedera kepala dan lainnya. Itu nanti sangat membantu untuk mencocokkan dengan antemortem," kata Hastry.
Secara fisik luar, pengidentifikasian korban di air umumnya mudah dilakukan jika korban ditemukan maksimal hingga hari ketujuh setelah kecelakaan. Setelah itu, pengidentifikasian mulai sulit dilakukan karena kondisi jenazah mulai mengalami kerusakan.
Hastry menyebut penanganan korban pesawat AirAsia QZ8501 relatif lebih sulit karena merupakan kejadian terbuka (open disaster). Selain area pencarian yang bisa semakin meluas, kondisi jenazah juga cukup sulit ditemukan karena terpisah-pisah. Jika ditemukan, kondisi jenazah sudah rusak bahkan ada yang tidak utuh lagi.
"Ini open disaster, sama seperti saat tsunami dulu. Dulu juga saya ikut mengidentifikasi korban KM Senopati tahun 2012 di sini. Tapi kami pasti akan berusaha maksimal, sekecil apa pun bagian tubuh yang ditemukan," katanya.
Hastry mengatakan pengidentifikasian kecelakaan pesawat di Ukraina belum lama ini lebih mudah dibanding dihadapinya dalam pengidentifikasian korban AirAsia QZ8501 saat ini.
Penanganan di lokasi saat itu relatif lebih mudah karena lokasinya di darat dan areanya juga lebih mudah ditentukan. Selama 24 hari, Hastry membantu tim untuk mengidentifikasi korban kecelakaan tersebut. (Antara)
Berita Terkait
-
Bandara Ahmad Yani Semarang Kembali Buka Rute Internasional
-
Profil Ryan Harris, Keponakan Mantan Bos Air Asia yang Viral Gelar Royal Wedding Rp75 M
-
Ini Sumber Kekayaan Ryan Harris, Pantas Sanggup Undang Brian Eks Westlife dan Artis Mancanegara ke Nikahannya
-
Anak CEO Air Asia Pamer Jam Tangan Mewah Rp6 Miliar, Sebelum Gelar Pernikahan Fantastis Rp75 Miliar
-
Profil Gwen Asley: Anak Pengusaha yang Nikahi Anak CEO Air Asia dengan Biaya Rp 75 miliar
Terpopuler
- Daftar Harga Motor Listrik dengan Subsidi Pemerintah, Ada yang Cuma Rp5 Jutaan!
- Nasib Berubah, Ini 4 Shio yang Panen Keberuntungan dan Rezeki pada 29 Juli 2026
- 5 Sepatu Lari Terbaik Harga Rp200 Ribuan, Nyaman Dipakai untuk Daily hingga Trail Run
- Sempat Nganggur Gegara Timnas Indonesia, Roberto Mancini Resmi Latih Italia
- Survei SMRC: Elektabilitas Gerindra Anjlok Tajam, Peluang Jadi Partai Nomor 1 Terancam
Pilihan
-
Kematian Sutrimo dan Rangkaian Kejanggalan yang Muncul dari Kampung Halaman
-
Pengintai Misterius dan CCTV Mendadak, Kejanggalan di Rumah Sutrimo
-
Banyak Air Galon Isi Ulang di Bangka Barat Belum Diuji, Amankah Dikonsumsi Setiap Hari?
-
Dicecar 23 Pertanyaan Penyidik KPK, Ini Kata Plt Bupati Sukoharjo
-
Cuma Sisa Rp200 Juta! Perampok Rp1,2 Miliar di Kalideres Diciduk Usai Habiskan 1 M Dalam 8 Hari
Terkini
-
DPRD DKI Kebut Penyelesaian 220 Ribu Berkas Tanah, Sertifikat Warga Jadi Taruhan
-
Wali Kota Bandung Ngamuk Gegara Penebangan Pohon: Jangan Ketawa Lu, Gue Segel Ini Tempat!
-
Bela Prabowo, Hasan Nasbi: Yang Dimaksud Kelompok Pembuat Gaduh
-
Geger! Penemuan Mayat Terendam di Cianjur, Berawal dari Sepasang Sepatu Bot
-
BGN Curiga Ada Oknum di Balik Dana Rp311,2 Miliar Nyasar ke Rekening SPPG Bermasalah
-
Reuni Taufik Hidayat vs Lin Dan di Jakarta! 7 Peraih Emas Olimpiade Ramaikan Shuttle Open 2026
-
Heboh Isu Nikita Mirzani Diintimidasi di Penjara, Pihak Rutan Buka Suara
-
Bukan Sekadar Jago Debat, Ini Cara Mencetak Calon Diplomat dan Pemimpin Masa Depan Sejak Dini
-
Bulog Edukasi Masyarakat Kenali Mutu Beras, Pastikan Masyarakat Mendapatkan Informasi Tepat
-
Lari Sambil Selamatkan Bumi, PLN Electric Run 2026 Punya Misi Pangkas 24 Ton Emisi Karbon