Suara.com - Lima perempuan yang hadir sebagai korban pun menangis dan terisak-isak, saat menuturkan betapa beratnya siksaan seumur hidup yang harus mereka rasakan akibat tindakan lelaki cabul itu. Tapi mereka kemudian merasa cukup puas, karena sang penjahat akhirnya menerima ganjaran.
Sosok pesakitan itu adalah Garry John Jones, lelaki berusia 63 tahun yang dulunya terkenal antara lain sebagai binaragawan mantan Mr New Zealand, selain juga eks-pemilik gym di Rotorua. Dalam sidang di Pengadilan Tinggi Rotorua pada Jumat (6/3/2015), Jones akhirnya divonis 11 tahun penjara, karena dinilai bersalah atas lebih dari 40 dakwaan tindakan cabul (pelecehan dan kekerasan seks) yang melibatkan setidaknya delapan korban.
Jones sendiri sebenarnya sudah dinilai bersalah atas perbuatannya tersebut sejak November 2014 lalu. Namun Jones menolak dinyatakan bersalah atas sejumlah dakwaan lainnya, mulai dari perkosaan, perbuatan asusila dengan perempuan di bawah usia 12 tahun, asusila dengan perempuan berusia antara 12-16 tahun, penyerangan dengan tujuan seksual, pelanggaran seksual lewat hubungan seks tidak sah, serta dakwaan lelaki yang menyerang perempuan.
Perempuan yang kini rata-rata berusia sekitar 40-50 tahun itu diketahui masih merupakan gadis-gadis muda dan remaja saat menjadi korban aksi cabul Jones. Dalam sidang putusan hari ini, mereka memberikan pernyataan penuh emosi, sembari memaparkan akibat yang harus mereka rasakan dari perbuatan Jones.
Beberapa di antara mereka mengaku lari ke narkoba dan alkohol sejak menjadi korban tindak asusila itu. Salah seorang juga bercerita bahwa dirinya selama bertahun-tahun selalu takut saat mendengar pintu depan rumahnya terbuka. Sementara salah satu korban lainnya, bercerita betapa dia berkali-kali harus ketakutan bersembunyi di kolong tempat tidur, lantaran trauma akan kehadiran Jones dan perbuatan jahatnya.
"(Tapi) Saat saya tampil di sini, sebuah perasaan menenangkan datang padaku. Putusan (pengadilan) ini menjadi semacam musik di telingaku, bersama delapan perempuan cantik dan kuat yang telah kau kacaukan hidupnya," ucap salah seorang korban, yang ditujukan kepada Jones.
Meski begitu, secuil pembelaan masih sempat didengarkan dari kubu Jones di persidangan tersebut. Pengacara Jones, Tiffany Cooper, menggarisbawahi bahwa kliennya saat (perbuatannya) itu masih berusia antara 20-30-an tahun, atau masih sekitar sepertiga usianya kini. Jones juga disebut telah meraih berbagai prestasi dalam hidupnya, termasuk sebagai Mr New Zealand antara tahun 1997-1999 lalu, selain juga diklaim sebagai ayah, teman, dan anggota masyarakat yang baik.
Meski begitu, hakim John Fogarty tampaknya tidak terlalu banyak terpengaruh oleh unsur-unsur kebaikan tersebut. Hakim justru menegaskan bahwa Jones telah menyebabkan korbannya menderita rasa rendah diri, kekhawatiran mendalam, serta perasaan malu selama bertahun-tahun. Jones sendiri juga disebut masih terus membantah perbuatan jahatnya dan tidak tampak memiliki rasa penyesalan.
Di luar pengadilan, seusai sidang putusan itu, para perempuan korban Jones menunjukkan raut muka lumayan puas dengan hasil persidangan kali ini.
"Sekarang dia tidak bisa melakukan perbuatan itu lagi kepada orang lain," ujar salah satunya. [News.com.au]
Berita Terkait
Terpopuler
- Hadir ke Cikeas Tanpa Undangan, Anies Baswedan Dapat Perlakuan Begini dari SBY dan AHY
- 7 Rekomendasi Bedak Tabur yang Bagus dan Tahan Lama untuk Makeup Harian
- 30 Kode Redeem FF 25 Maret 2026: Klaim Bundle Panther Gratis dan Skin M14 Sultan Tanpa Top Up
- 5 Rekomendasi HP Samsung Terbaru Murah dengan Spek Gahar, Mulai Rp1 Jutaan
- Panas! Keluarga Bongkar Aib Bunga Zainal, Sebut Istri Sukhdev Singh Pelit hingga Nikah tanpa Wali
Pilihan
-
Skandal Rudapaksa Turis China di Bali: Pelaku Ditangkap Saat Hendak Kembalikan iPhone Korban!
-
Arus Balik Susulan, 14 Ribu Kendaraan Diprediksi Lewat GT Purwomartani Sabtu Ini
-
Fokus Timnas Indonesia, John Herdman Ogah Ikut Campur Polemik Paspor Dean James
-
Video Jusuf Kalla di Pesawat Menuju Iran adalah Hoaks
-
Kabais Dicopot Buntut Aksi Penyiraman Air Keras Terhadap Andrie Yunus
Terkini
-
Kecelakaan di Jatim Melonjak 78 Persen Saat Lebaran, Kapolda: Seimbang dengan Pergerakan Arus
-
Indonesia Siapkan Draft Element Paper untuk Perbaiki Tata Kelola Royalti Digital Global
-
Uni Emirat Arab: Amerika Harus Tuntaskan Iran, Tak Boleh Gencatan Senjata
-
Tergiur Penggandaan Black Dollar, WNA Korea Tertipu Duo Liberia di Jakarta
-
1.251 Dapur MBG Kena Sanksi, DPR Desak Pengawasan dan Sertifikasi Diperketat
-
Bisakah Pertanian Masyarakat Adat Menjawab Krisis Pangan Global? Ini Temuan Terbarunya
-
Transformasi Pengelolaan Kendaraan Operasional: Dari Beli ke Sewa
-
Karena Ini, Pengacara Eks Wamenaker Noel Tuding KPK Tebang Pilih
-
Perdagangan Kayu Ilegal Masih Marak, Bisakah Sains Forensik Jadi Solusi?
-
Berawal dari Perkelahian Adik, Pemuda di Maluku Tewas Dipukul Prajurit TNI