Suara.com - Nasiran (14), bocah berkelakuan ganjil asal Blang Pidie, Kabupaten Aceh Barat Daya, Provinsi Aceh, menderita gizi buruk. Nasiran bersama ibunya pernah dua kali dirawat di Rumah Sakit Zainoel Abidin karena kondisi kesehatan mereka.
Dokter penanggung jawab pasien sekaligus spesialis anak, Mars Nasrah, mengatakan Nasiran pertama kali dirujuk ke Rumah Sakit Umum Zainoel Abidin pada 28 Januari 2015 oleh petugas Rumah Sakit Umum Daerah Teuku Peukan, Aceh Barat Daya. Saat itu, pasien dirawat selama dua minggu.
Kondisi ketika itu, kata dia, tak jauh beda dengan keadaan sekarang, kurus dan berperilaku tidak sesuai dengan anak pada usianya. Sedangkan ibu dari Nasiran, lebih sehat dan tidak berkelakuan ganjil.
"Awalnya dia (Nasiran) dan ibunya dirawat oleh dokter lintas devisi. Dilakukan rehab medik, pengecekan mata, dan lainnya. Kita berikan asupan gizi agar dia bisa seperi anak-anak pada usianya," kata Mars Nasrah di Banda Aceh, Senin (11/5/2015).
Dikatakan, karena tidak ada satu pun anggota keluarga Nasiran yang bisa dihubungi, setelah dua minggu dirawat, petugas RSUZA berkoordinasi dengan perwakilan Pemerintah Kabupaten Aceh Barat Daya. Dari hasil komunikasi, Nasiran dan ibunya diputuskan untuk dibawa ke Rumah Sejahtera Darussaa'adah di kawasan Lampeunereut, Aceh Besar. Penyerahan keduanya juga diketahui oleh Dinas Sosial Provinsi Aceh.
"Setelah di sana (Rumah Sejahtera Darussaa'dah), keduanya sempat berobat jalan ke poliklinik RSUZA selama tiga kali. Tapi setelah itu, gak pernah lagi," ujarnya.
Setelah berbulan-bulan tak diketahui lagi nasib keduanya, baru pada 1 Mei 2015, Nasiran dan ibunya kembali muncul ke RSUZA. Menurut Mars, keduanya tiba di RSUZA juga karena dirujuk dokter spesialis anak RSUD Teuku Peukan Aceh Barat Daya. Kondisinya keduanya masih dalam keadaan yang sama dan tidak ditemani satupun pihak keluarga.
"Kondisinya memprihatinkan dan sama saja dengan waktu pertama kali datang. Keduanya langsung ditangani oleh bagian Hematoongkologi dan dokter lintas devisi," katanya.
Kata dia, berat badan Nasiran saat tiba di RSUZA hanya 15,6 kilogram dan kulitnya pucat. Kondisi itu, sangat tidak lazim pada anak usia 14 tahun. Kemudian, pola tingkah laku Nasiran juga tidak sesuai dengan anak yang hidup normal. Saat dilakukan pengecekan darah, tutur Mars, kadarnya juga rendah.
"Baru oleh devisi hemato ongkologi diserahkan kepada kami bagian nutrisi. Kita lakukan proses-proses lanjutan, agar dia bisa kembali sehat dan nutrisinya terpenuhi. Ini karena kita melihat ada persoalan gizi buruk di pasien," tuturnya.
Selama dirawat di RSUZA, kata Mars, dokter memberikan Nasiran terapi psikologi. Hal itu guna mengubah pola perilakunya.
"Dia tak bisa bicara kita duga karena tidak pernah melakukan interaksi sosial. Begitupun perilakunya, sebab tak ada interaksi. Ibunya bisu, maka tak ada komunikasi selain melalui isyarat. Sebab itu, untuk hal ini kita hadirkan juga seorang psikolog," katanya. [Alfiansyah Ocxie]
Tag
Terpopuler
- Istana Diminta Istirahatkan Qodari atau Demo Mahasiswa Bisa Makin Besar
- Ciri-Ciri Sepatu Berbahan Kulit Babi, Kenali sebelum Membeli
- 4 Sepatu Jalan Kaki Lokal Terbaik Harga Rp300 Ribuan Sesuai Review, Kualitas Jempolan
- 4 Pompa Air Kedalaman 20 Meter ke Atas, Hemat Listrik dan Tekanan Air Stabil
- Roy Suryo Ditangkap di Bintaro Terkait Kasus Ijazah Palsu Jokowi, Sempat Diancam Borgol
Pilihan
-
Salah Sasaran Evaluasi: Menilai Program MBG Lewat Respons Anak Itu Absurd
-
Dasco di Mobil Komando Aksi: Aspirasi Kawan-kawan Sudah Disampaikan, Hidup Mahasiswa!
-
Bukan Sekadar Karaoke, Orutaku Club Jadi Mesin Waktu Bagi Wibu Generasi 90-an
-
Kejagung Tetapkan Glory Harimas Sihombing Tersangka, Dugaan Jual Beli Titik Dapur MBG Terungkap
-
Wamensesneg Terluka Kena Batu, Kivlan Zen Berdarah Saat Eksekusi Hotel Sultan GBK Ricuh
Terkini
-
Viral Ajudan Danrem Lari Tanpa BIB di Jogja Marathon, Korem 072 Sebut Nomor Diduga Terlepas
-
Biar Tak Bolak-balik, Banggar DPR Langsung Getok Persetujuan Pagu Anggaran 7 Kemenko untuk 2027
-
Respon Cepat Aduan, Kemnaker Pastikan Aturan Outsourcing 2026 Bakal Direvisi
-
Akademisi UI Kritik Kehadiran Aparat di Kampus Saat Ujian Doktoral Dokter Tifa
-
Gubernur Jateng Garansi Izin Kapal Nelayan Kecil Gratis: Ketemu Pungutan, Laporkan!
-
iPhone XS Bekas Koruptor Laku Rp34 Juta, KPK Jamin Data Sudah Factory Reset
-
Qodari Tolak Negosiasi Program MBG, Pengamat Nilai Bisa Picu Protes Publik Lebih Besar
-
Bukan Dibegal, Dua Korban Tewas di Selokan Bekasi Ternyata Korban Tawuran
-
Rano Karno Menangis di Sidang Paripurna HUT Jakarta: 'Jejak Jutaan Langkah, Keringat, dan Harapan'
-
Menteri PPPA Ungkap Kondisi Perempuan yang Diduga Disekap Pacar Selama Tiga Tahun di Bandung