Suara.com - Kasus kekerasan kepada anak kembali marah di media massa sejak terbongkarnya kasus penelantaran anak di Cibubur. Hanya saja kasus serupa sudah terjadi, namun tak diliput media massa.
Jauh sebelum kasus ini mencuat, Susilo Bambang Yudhoyono pernah mengeluarkan Instruksi Presiden Nomor 5 Tahun 2014 tentang Gerakan Nasional Anti Kejahatan Seksual Terhadap Anak. Inpres itu dikeluarkan 11 Juni 2014 saat SBY masih jadi Presiden.
Dalam Inpres itu tertulis semua menteri, Jaksa Agung, Kapolri, Kepala Lembaga non Pemerintah, Gubernur dan Walikota harus pencegahan dan pemberantasan kejahatan seksual terhadap anak. Bahkan masyarakat dan dunia usaha dilibatkan.
Belum cukup instruksi tersebut, SBY pun memerintahkan Menko Kesejahteraan Rakyat yang saat itu dijabat Agung Laksono untuk mengoordinasikan kebijakan terkait dengan pencegahan dan pemberantasan kejahatan seksual terhadap anak. Agung harus melaporkan kepada Presiden atas pelaksanaan GN-AKSA 3 bulan sekali.
SBY juga memerintahkan untuk menghukum berat pelaku kejahatan seksual dan kekerasan kepada anak. Bahkan SBY saat itu memerintahkan Menteri Dalam Negeri untuk meningkatkan pemberian fasilitasi dan dukungan kebijakan kepada pemerintah daerah dalam pelaksanaan pencegahan dan pemberantasan kejahatan seksual terhadap anak.
Menurut Pemerhati Anak, Seto Mulyadi atau Kak Seto, itu belum cukup. Negara harus kembali mencanangkan gerakan anti kekerasan kepada anak. Bahkan aksi ini harus dilakukan secara terus menerus, bukan hanya simbol tanpa gerakan nyata.
"Inpres, tapi kurang menggelegar. Mungkin pas nanti Hari Anak Nasional, Pak Jokowi harus mencanangkan kembali," jelas Kak Seto saat ditemui suara.com di kediamannya di Tangerang Selatan, Selasa (19/5/2015) siang.
Pencipta 'Si Komo' itu mengatakan Indonesia terancam tidak mempunyai generasi unggul jika anak-anak tidak diperhatikan dan mendapatkan kekerasan dari lingkungannya.
"Kalau kita ingin memiliki bangsa yang besar, bangsa itu harus dibangun dari sekarang. Jadi mulai pemimpin-pemimpinnya. Bukan hanya cerdas, kreatif, ganteng, tapi pemimpin yang hatinya juga bersih. Tidak Kejam, tidak penuh kekerasan, tidak emosional. Itu bisa tercapai kalau dari kecil anak-anak dihargai hak-haknya. Sekarang kalau kayak begini-begini terus, lihat saja nanti. Kekerasan mudah di mana-mana. Sampai lembaga terhormat saja ada kekerasan, begitu kalah, jungkirkan kursi, berantem. Karena tanpa sadar beliau-beliu dari kecil ini dididik dengan kekerasan," papar Seto.
Seto mengatakan rata-rata pertahun Komnas Anak, KPAI dan Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak menerima 3.000 aduan kekerasan kepada anak. Jumlah ini menandakan masyarakat masih sedikit yang berani mengadukan kasus kekerasan anak.
"Saya bertemu dengan aktivis perlindungan anak dari Inggris, dia bilang di Inggris rata-rata pertahun 300.000 kasus kekerasan pada anak. Penduduknya hanya sekitar 65 jutaan. Tapi karena mereka berani melapor. Di sini tidak berani melapor atau tidak dilaporkan," jelas dia.
Berita Terkait
Terpopuler
- 6 Rekomendasi Sepatu Lokal Rp 200 Ribuan, Kualitas Bintang Lima
- 7 Parfum Lokal Wangi Segar Seperti Habis Mandi, Tetap Clean Meski Cuaca Panas Ekstrem
- 5 HP Samsung Galaxy A 5G Termurah Mulai Rp1 Jutaan, Performa Gak Kaleng-kaleng
- 7 Sepatu Lari Lokal yang Wajib Masuk List Belanja Kamu di Awal Mei, Nyaman dan Ramah Kantong
- Promo Alfamart Double Date 5.5 Hari Ini, Es Krim Beli 1 Gratis 1
Pilihan
-
16 Korban Tewas Bus ALS Terbakar di Muratara Berhasil Dievakuasi, Jalinsum Masih Mencekam
-
'Celana Saya Juga Hancur', Cerita Saksi yang Kena Sisa Air Keras Saat Bantu Andrie Yunus
-
Kala Harga Kebutuhan Meroket, Menulis Jadi Andalan Saya untuk Nambal Dompet
-
Hakim Gemas Anggota BAIS Siram Air Keras ke Andrie Yunus: Amatir Banget, Malu-maluin!
-
10 WNI Diamankan di Arab Saudi Terkait Haji Ilegal, Kemenhaj Pastikan Tak Akan Intervensi
Terkini
-
Wamendagri Bima: Sinkronisasi Program Pusat dan Daerah Penting dalam Penyusunan RKP
-
Geruduk DPRD DKI, Aktivis Endus 'Bau Busuk' Dugaan Korupsi Proyek RDF Rorotan Rp 1,3 Triliun
-
Dituding jadi Biang Kerok Laga Persija vs Persib Batal di Jakarta, GRIB Jaya Buka Suara
-
Anak-anak Kena ISPA hingga Pneumonia, Warga Terdampak RDF Rorotan Siapkan Gugatan Class Action
-
Kriminolog Soroti Penangkapan 8 Teroris Poso: Sel Radikal Masih Aktif Beregenerasi
-
Endus Bau Amis Korupsi RDF Rorotan, Massa Geruduk Gedung DPRD DKI: Pansus Jangan Mati Suri!
-
Teruskan Perjuangan Kakak, Menkes Beri Beasiswa Pendidikan Dokter untuk Adik Mendiang Myta Aprilia
-
UHN dan CISDI Gandeng Harvard Medical School, Bangun Pusat Riset Kesehatan Primer di RI
-
Hanya Modal Gunting, Pemuda di Kalideres Gasak Honda Scoopy di Halaman Rumah
-
Eks Kasat Narkoba Polres Bima Digelandang ke Bareskrim, Terseret TPPU Koko Erwin