Suara.com - Petugas satwa liar Zimbabwe, Selasa (28/7/2015) waktu setempat mendakwa Walter James Palmer, seorang pemburu asal Amerika Serikat (AS) telah membunuh singa tertua dan paling terkenal di Zimbabwe. Walter disebut tanpa seizin pihak berwenang membayar 50 ribu dolar atau hampir Rp700 juta kepada dua oknum untuk memancing singa tersebut menuju kematiannya.
"Singa bernama Cecil itu dipancing keluar dari Taman Nasional Hwange dengan menggunakan umpan, kemudian ditembak oleh Walter James Palmer," kata kepala Satuan Tugas Pelestarian Zimbabwe Johnny Rodrigues.
Kelompok konservasi LionAid mengatakan, Cecil terluka akibat terkena panah, dan tidak segera ditembak mati hingga 40 jam kemudian.
Palmer, seorang dokter gigi dari Minnesota menuai kritikan luas di media sosial karena membunuh Cecil. Ia mengakui telah mengupah beberapa pemandu profesional yang memiliki izin untuk berburu dengan menggunakan busur. Ia mengaku sangat menyesal telah menewaskan singa tersebut.
"Sepengetahuan saya, semua yang terkait soal wisata ini adalah sah dan ditangani dan dijalankan dengan tepat," kata Palmer seperti dikutip portal berita Star Tribune.
Rodrigues mengatakan Palmer membayar pemburu Zimbabwe Theo Bronkhorst dan pemilik taman berburu swasta Honest Ndlovu, untuk memancing keluar singa berumur 13 tahun itu.
Bronkhorst dan Ndlovu akan menghadapi dakwaan perburuan, di Hwange atas pembunuhan singa itu pada 1 Juli lalu. Jika terbukti bersalah, keduanya bisa dituntut untuk membayar denda senilai 20 ribu dolar atau lebih dari Rp260 juta, namun pengadilan juga bisa menjatuhkan hukuman penjara tambahan.
Palmer mengatakan tidak dihubungi oleh otoritas di Zimbabwe maupun Amerika Serikat dan akan membantu upaya penyelidikan.
"Saya tidak tahu bahwa singa yang saya bunuh itu adalah singa terkenal, favorit setempat, ada tali leher, dan merupakan bagian dari sebuah studi, sampai perburuan itu berakhir," kata Palmer.
"Saya bergantung pada keahlian pemandu lokal profesional saya untuk memastikan perburuan yang sah," katanya.
Perburuan Palmer sebelumnya juga mendapat pemeriksaan ketat. Pada 2008, ia mengaku bersalah telah berbohong kepada petugas kehidupan liar AS mengenai seekor beruang hitam yang dibunuhnya di Wisconsin dua tahun sebelumnya.
Palmer dituduh membunuh beruang itu sekitar 40 mil di luar zona yang diizinkan, menyeret jasad beruang kembali masuk ke kawasan yang diizinkan, dan berbohong dengan mengatakan bahwa beruang itu dibunuh di lokasi itu. Ia dihukum dengan satu tahun masa percobaan dan denda 2.938 dolar.
Komentar-komentar yang muncul di Twitter soal Palmer di antaranya, "Anda ini seorang manusia yang menjijikkan" dan "kapan musim berburu Walter Palmer dimulai".
Cecil, singa berbulu surai hitam menjadi daya tarik bagi pengunjung Taman Nasional Hwange dan sudah seringkali menjadi objek sesi fotografi. Kepala dan kulit Cecil ditemukan dan akan digunakan sebagai bukti di pengadilan, kata Rodrigues.
Di Zimbabwe, singa bukan merupakan binatang dilindungi. Tapi, hasil penyelidikan menunjukkan perburuan oleh Cecil tersebut ilegal karena pemilik lahan tidak mengalokasikan singa dalam kuota perburuannya untuk 2015, kata Otoritas Manajemen Taman dan Hidupan Liar Zimbabwe (ZPWMA) dan ZTCF dalam sebuah pernyataan.
"Oleh karenanya, semua pihak yang terlibat dalam kasus ini akan diajukan ke pengadilan menghadapi dakwaan perburuan," kata pakar konservasi.
Zimbabwe mengeluarkan izin tahunan yang membolehkan para pemburu asing membunuh satwa liar seperti gajah, kerbau, dan singa, dan mengatakan bahwa kebijakan ini dibuat untuk mengumpulkan uang bagi konservasi. (Reuters)
Berita Terkait
-
Meski Tuai Kontroversi, Studi Sebut Pemotongan Cula Badak Terbukti Kurangi Perburuan Liar
-
Cara Pelaku Perburuan Liar Badak Jawa Masuk TNUK Terbongkar, Mereka Punya Data Penting Ini
-
26 Badak Jawa Mati di Tangan Pemburu, Pelaku Berjumlah 13 Orang
-
Diduga Punya Opsetan Kulit Harimau, Berapa Harta Kekayaan Bamsoet?
Terpopuler
- Link Download Gratis Ebook PDF Buku Broken Strings, Memoar Pilu Karya Aurelie Moeremans
- 5 Sampo Penghitam Rambut yang Tahan Lama, Solusi Praktis Tutupi Uban
- 5 Mobil Nissan Bekas yang Jarang Rewel untuk Pemakaian Jangka Panjang
- 4 Bedak Wardah Terbaik untuk Usia 50 Tahun ke Atas, Bantu Samarkan Kerutan
- 7 Sepatu Skechers Wanita Tanpa Tali, Simple Cocok untuk Usia 45 Tahun ke Atas
Pilihan
-
John Herdman Termotivasi Memenangi Piala AFF 2026, Tapi...
-
Purbaya Sebut Bisnis Sektor Media Cerah: Saham DIGI, TMPO, dan VIVA Langsung Ceria
-
Dari 'Kargo Gelap' Garuda ke Nakhoda Humpuss: Kembalinya Ari Askhara di Imperium Tommy Soeharto
-
Tanpa Bintang Eropa, Inilah Wajah Baru Timnas Indonesia Era John Herdman di Piala AFF 2026
-
Hari Ini Ngacir 8 Persen, Saham DIGI Telah Terbang 184 Persen
Terkini
-
Dedi Mulyadi dan Willy Bongkar Sisi Gelap Gunung Emas: 70 Ribu Gurandil dan Raup 250 Ton Emas Sehari
-
Ada Proyek Pipa PAM Jaya, Dishub DKI Terapkan Rekayasa Lalin di R.A. KartiniFatmawati Mulai Besok
-
Malam-malam Mendiktisaintek Brian Yuliarto Datangi Istana, Dibonceng Patwal
-
Suara.com Bersama LMC Gelar 'AI Tools Training for Journalists' di Yogyakarta
-
Pengaduan Pelanggaran Hak Anak ke KPAI Melonjak, Identitas 66 Persen Pelaku Tidak Diungkap
-
Antisipasi Banjir, Pemprov DKI Perpanjang Operasi Modifikasi Cuaca Hingga 22 Januari
-
Hirup Udara Bebas, Laras Faizati Ingin Ziarah ke Makam Ayah Hingga Main ke Mal
-
Pakar Hukum Sebut Pilkada Lewat DPRD Suburkan Oligarki dan Renggut Kedaulatan Rakyat
-
Mendagri Pimpin Rakor Satgas Percepatan Rehabilitasi dan Rekonstruksi Pascabencana Sumatra
-
DPRD DKI Pastikan Tiang Monorel Rasuna Said Kembali ke Adhi Karya usai Dibongkar Pemprov