Suara.com - Api kembali membakar ratusan hektare kawasan hutan Taman Nasional Way Kambas di Lampung Timur, Lampung, diduga kebakaran ini disebabkan ulah manusia.
Kepala Seksi III Wilayah Balai Taman Nasional Way Kambas (TNWK), Antonius Febri, saat dihubungi di Lampung Timur, Minggu (6/9/2015), membenarkan adanya kawasan hutan TNWK yang terbakar itu.
"Saat ini ada satu titik kawasan hutan yang terbakar di Wilayah III Taman Nasional Way Kambas," ujar Febri pula.
Menurutnya, penyebab kebakaran itu diduga karena ulah manusia atau pemburu liar yang biasa melakukan perburuan di dalam kawasan hutan TNWK itu.
"Secara teori, sebenarnya secara alami hutan TNWK tidak bisa terbakar karena perlu panas hingga 40 derajat Celsius lebih untuk bisa terbakar secara alami. Ini analisa kami," ujar dia lagi.
Febri menyatakan, hingga Minggu petang ini, dirinya bersama tim pemadam kebakaran sedang melakukan upaya memadamkan api yang masih terus berkobar membakar hutan TNWK itu.
"Kami bersama tim masih di lokasi memadamkan api, bersama-sama tim pemadam kebakaran yang dibantu masyarakat mitra Polhut, masyarakat umum, dibantu unsur TNI dan kepolisian," kata Febri.
Dia menjelaskan, kebakaran hutan di TNWK setidaknya telah terjadi sejak Juni lalu, dan hingga saat ini dari rentang bulan Juni hingga September 2015 sedikitnya 400 hektare lebih kawasan hutan di areal Seksi III TNWK telah terbakar.
"Di Seksi III Way Penet luas hutan yang terbakar sejak Juni 2015 hingga saat ini mencapai 400--500 hektare," ujarnya pula.
Febri juga menyatakan, kebakaran telah terjadi hampir di semua seksi wilayah hutan TNWK itu.
Dia menyebutkan, hutan TNWK terbagi menjadi tiga seksi dan wilayah, yaitu Seksi I Wilayah Way Kanan, Seksi II Wilayah Way Bungur, dan Seksi III Wilayah Way Penet.
Sedangkan pada seksi I Wilayah Way Kanan dan Seksi II Wilayah Way Bungur, ia mengaku tidak mengetahui data luas wilayah hutan yang telah terbakar.
"Saya tidak bisa menyebutkan jumlah luas hutan di seksi yang lain, karena saya menangani seksi III Way Penet," kata Febri lagi. (Antara)
Berita Terkait
-
Inpres Larangan Bakar Hutan Segera Terbit, Pemerintah Diminta Libatkan Masyarakat Adat
-
Gunung Merapi Ungup-ungup Terbakar, Api Mendekati Jalur Kawah Ijen
-
Karhutla Indonesia: 22 Kasus Masuk Tahap Penyelidikan
-
Karhutla Terus Berulang, ICW Desak Pemerintah Stop Kasih Izin Konsesi ke Perusahaan
-
Sampurna Mati Tragis, Pakar UGM Sebut Kematian Satwa Karhutla Cuma Sebagian Kecil Realita
Terpopuler
- 4 Shio Beruntung Hari Ini 3 September 2026, Kesulitan Karier dan Keuangan Segera Berakhir
- Emil Audero Cabut, Cesc Fabregas Blak-blakan Dibuat Kecewa Kiper Como
- Maarten Paes Mulai Kehilangan Tempat di Ajax, Petinggi PSSI Pasang Badan
- Powder Foundation Wardah untuk Kulit Sawo Matang Shade Apa? Ini 5 Pilihannya
- 5 Shio Beruntung Hari Ini 4 September 2026, Urusan Mulai Lancar
Pilihan
-
Muncul Kubah Lava Baru di Gunung Anak Krakatau, PVMBG Jawab Kekhawatiran Potensi Tsunami
-
Gunung Anak Krakatau Erupsi Tengah Malam: Fenomena Lava Air Mancur Muncul
-
Gunung Anak Krakatau Meletus Abu Membubung 15 Km, BMKG Jepang Pantau Ancaman Tsunami
-
Gempa M 5,3 Guncang Cilacap Siang Ini, Getaran Terasa hingga DIY dan Jabar
-
Api Masih Merah! 105 Personel Cari Korban Kebakaran Apartemen Pavilion Tanah Abang yang Terjebak
Terkini
-
The Monster in the Lake, Petualangan Eric Si Bebek Melawan Ketakutan
-
Rumah Menghadap Timur Menurut Feng Shui, Bawa Hoki atau Tidak?
-
Sering Mati Lampu Bikin Saya Memutuskan Pindah Provider ke XL
-
Brakkk! KA Wijaya Kusuma Tertemper Mobil di Perlintasan Jember, Satu Orang Luka Berat
-
Lupakan Bolak-balik Aplikasi, Lenovo Qira Disiapkan Jadi AI yang Menghubungkan Aktivitas Digital
-
Teka Teki Masa Depan Saddil Ramdani, Pamit dari Persib, Diego Michiels: Welcome Bro
-
5 Rekomendasi Aplikasi Catatan Kuliah Terbaik di Tablet Android, Praktis dan Rapi
-
Review Good Will Hunting: Saat Logika Jenius Tak Cukup untuk Menyembuhkan Luka Masa Lalu
-
Tarif Masuk Ragunan Diwacanakan Naik Jadi Rp10 Ribu, Fasilitas dan Keamanan Jadi Sorotan
-
IHSG Menguat, Asing Jualan Rp29,7 Miliar Pekan Ini