News / Internasional
Rabu, 09 September 2015 | 15:46 WIB
Pengungsi asal Timur Tengah memasuki kawasan Eropa. (Reuters)

Suara.com - Dalam kurun waktu satu tahun terakhir, gelombang pengungsi besar-besaran melanda negara-negara Eropa. Fenomena ini membuat para pemimpin negara-negara Eropa berupaya keras mencari jalan keluar dari krisis tersebut.

Yang menjadi pertanyaan besar adalah mengapa jumlah pengungsi meningkat tajam tahun ini.

Meskipun peningkatan jumlah pengungsi yang melakukan perjalanan berbahaya menyeberangi laut dari Libya ke Italia tidak berubah secara signifikan, tidak demikian halnya dengan jalur penyeberangan lain. Menurut International Organization for Migration (IOM), ada peningkatan jumlah pengungsi yang menyeberangi laut Mediterania dari Turki menuju Yunani. Jalur ini dipandang lebih singkat dan lebih minim bahaya.

Sejauh ini, sudah ada 250.000 imigran dan pengungsi yang tiba di Yunani tahun ini. Jumlah ini meningkat ketimbang tahun 2014 yang hanya berjumlah 34.000 saja. Mayoritas pendatang adalah warga Suriah, negara yang sedang dilanda konflik. Sementara lainnya adalah warga Afghanistan, Albania, Pakistan dan Irak.

Ada dua jenis pengungsi yang masuk Eropa. Pertama, mereka yang menghindari konflik yang kian parah di Suriah. Kedua, mereka yang meninggalkan kamp-kamp pengungsian di negara-negara yang berbatasan dengan Suriah. Mereka yang ada di golongan kedua ini memilih pergi karena jatah bantuan makanan dari World Food Programme yang kian menipis karena pemotongan dana bantuan.

Berbeda dengan para imigran yang menyeberang dari Libya. Sebagian besar adalah warga Eritrea, Somalia, Sudan, Nigeria dan Mali yang melarikan diri dari kemiskinan, konflik, atau pemerintahan tangan besi. (Reuters)

Load More