Suara.com - Politisi Partai Keadilan Sejahtera (PKS) Iskan Qolba Lubis menilai tragedi Mina yang mengakibatkan 717 jemaah haji tewas dikarenakan adanya faktor ketidakdisplinan para jamaah haji saat menjalankan ritual lempar jumroh.
"Seringkali jamaah negara lain tidak disiplin. Jumlah sangat besar, panik," kata Iskan saat dihubungi suara.com, Kamis (24/9/2015)
Terkait insiden ini, semestinya pemerintah Arab Saudi bisa mengatur jumlah kouta jamaah haji yang ingin melakukan lempar jumroh.
"Harus bisa diantisipasi pemerintah Arab Saudi, pengaturan kuota harus diatur lagi. Kadang-kadang jamaah haji non kloter mereka juga ikut haji," kata dia.
Dikatakan Iskan, sebenarnya pemeritah Arab Saudi sudah memisahkan jalur jamaah haji. Misalkan dari jamaah afrika dan asia, atau dari negara lainnya.
"Menurut saya ini kan manajemen manusia, bisa diantipasi. Tidak bisa disalahkan juga pemerintah Arab Saudi. Banyak juga jemaah dari kita kurang disosialisasikan soal aturan di sana," katanya.
Sebelumnya diberitakan, Informasi terkini dari perwakilan Kementerian Luar Negeri Indonesia menyebutkan, korban tewas Jemaah haji WNI menyusul tragedi Mina bertambah menjadi tiga orang.
Keterangan yang diperoleh suara.com pada Kamis malam (24/9/2015), dari Direktur Perlindungan WNI Lalu Muhammad Iqbal yang mengutip dari keterangan Wakil Duta besar RI Sunarko di Riyadh menyampaikan kalau korban berjenis kelamin dua lelaki dan satu perempuan.
“Sampai pukul 16:00 waktu Arab Saudi, dapat diidentifikasi 3 (tiga) Wni jemaah haji meninggal akibat musibah mina, yaitu: (1) Hamid Atuwi (laki laki) asal Surabaya (2) Saiyah (petempuan) asal Batam (3) jemaah laki laki yang belum diketahui namanya, karena tidak ada gelang identitas di tangan, namun diketahui berasal dari probolinggo, Safari Travel,” tulis keterangan tersebut.
Berita Terkait
Terpopuler
- Urutan Skincare Wardah Pagi dan Malam untuk Usia 50 Tahun ke Atas
- Ini 4 Smartphone Paling Diburu di Awal Januari 2026
- 5 Sepatu Nike Diskon hingga 40% di Sneakers Dept, Kualitas Bagus Harga Miring
- 5 Tablet dengan SIM Card Harga Rp1 Jutaan untuk Multitasking Anti Ribet
- Beda dengan Inara Rusli, Wardatina Mawa Tolak Lepas Cadar Demi Uang
Pilihan
-
UMP Minim, Biaya Pendidikan Tinggi, Warga Jogja Hanya jadi Penonton Kemeriahan Pariwisata
-
Cek Fakta: Video Rapat DPRD Jabar Bahas Vasektomi Jadi Syarat Bansos, Ini Faktanya
-
Dipecat Manchester United, Begini Statistik Ruben Amorim di Old Trafford
-
Platform Kripto Indodax Jebol, Duit Nasabah Rp600 Juta Hilang Hingga OJK Bertindak
-
4 HP RAM 12 GB Paling Murah Januari 2026, Pilihan Terbaik untuk Gaming dan Multitasking
Terkini
-
Gedung Kedubes AS Diguncang Protes, Massa Buruh: Jangan Sampai Indonesia Jadi Sasaran Berikutnya
-
Peta Aceh Harus Digambar Ulang, Desa-Dusun di 7 Kabupaten Hilang Diterjang Bencana
-
Korupsi Mukena dan Sarung Bikin Negara Rugi Rp1,7 M, Pejabat-Anggota DPRD Diseret ke Meja Hijau
-
Ada Menteri Kena Tegur Prabowo di Retret Hambalang?
-
Geger Video Mesum Pasangan Misterius di Pos Polisi Tulungagung, Pelaku Diburu
-
Bupati Bekasi Ade Kuswara Ogah Bicara soal Dugaan Kasih Duit ke Kajari
-
Indonesia Dinominasikan Jadi Presiden Dewan HAM PBB, Apa Syarat Kriterianya?
-
Mendagri Dorong Percepatan Pendataan Rumah Rusak Pascabencana Sumatra
-
KPK 'Korek' Ketum Hiswana Migas di Pusaran Korupsi Digitalisasi SPBU Pertamina
-
Kejar Target Sebelum Ramadan, Satgas Galapana DPR RI Desak Sinkronisasi Data Huntara di Aceh