News / Internasional
Selasa, 10 Maret 2026 | 22:02 WIB
Kepala Keamanan Nasional Iran Ali Larijani (kiri) dan Presiden AS Donald Trump (kanan). [Suara.com]
Baca 10 detik
  • Kepala Keamanan Nasional Iran, Ali Larijani, mengancam Presiden Trump agar berhati-hati terhadap eliminasi dirinya.
  • Ancaman balasan ini muncul setelah Trump mengancam akan menyerang Iran dua puluh kali lebih keras jika minyak diblokade.
  • Iran melancarkan serangan lanjutan ke Israel dan Teluk, menyebabkan harga minyak mentah Brent melonjak tajam.

Suara.com - Kepala Keamanan Nasional Iran, Ali Larijani, mengancam Presiden AS Donald Trump melalui pesan daring, berhati-hati agar tidak tereliminasi alias mati. 

Dikutip dari Al Jazeera, Selasa (10/3/2026), Ali Larijani menulis pesan tersebut setelah Trump mengancam akan menyerang Iran "dua puluh kali lebih keras" jika Teheran menghentikan aliran minyak melalui Selat Hormuz.

"Bangsa Iran yang berkorban tidak takut dengan ancaman kosong Anda. Bahkan mereka yang lebih besar dari Anda pun tidak dapat melenyapkan Iran. Hati-hati jangan sampai Anda sendiri yang dilenyapkan," tulis Ali Larijani.

Iran telah dituduh merencanakan upaya pembunuhan terhadap Trump di masa lalu.

Pihak Teheran terus melancarkan serangan balasan pada hari Selasa, terhadap Israel dan negara-negara Arab Teluk.

Mereka terus menekan Timur Tengah dalam perang yang dimulai oleh Israel dan Amerika Serikat, yang telah menyebabkan harga minyak melonjak dan mengejutkan perekonomian global.

Selain menembakkan rudal dan drone ke Israel dan pangkalan Amerika di wilayah tersebut, Iran juga menargetkan infrastruktur energi dan lalu lintas melalui Selat Hormuz, jalur air vital untuk perdagangan minyak, yang menyebabkan harga minyak meroket.

Serangan-serangan tersebut tampaknya bertujuan untuk menimbulkan dampak ekonomi global yang cukup besar guna menekan AS dan Israel untuk mengakhiri serangan mereka.

Minyak mentah Brent, standar internasional, melonjak hingga hampir USD120 pada hari Senin sebelum turun kembali, tetapi masih berada di sekitar USD90 per barel pada hari Selasa, hampir 24 persen lebih tinggi daripada saat perang dimulai pada 28 Februari.

Baca Juga: Cek Fakta: Benarkah Insinyur India Ditangkap di Bahrain karena Jadi Mata-mata Mossad?

Trump, yang sebelumnya mengatakan bahwa perang dapat berlangsung selama sebulan atau lebih, berusaha untuk meredam kekhawatiran yang berkembang bahwa perang tersebut dapat berlangsung lebih lama lagi, dengan mengatakan bahwa itu "akan menjadi serangan jangka pendek."

Tertawakan Trump

Namun, pihak Teheran semakin menunjukkan tanda-tanda peperangan jangka panjang  setelah para petingginya secara terbuka menertawakan klaim Donald Trump.

Menteri Luar Negeri Iran, Abbas Araghchi, menegaskan negaranya akan terus bertempur selama diperlukan, sekaligus mematahkan pernyataan Trump yang menyebut konflik akan berakhir "segera".

Pernyataan keras dari Teheran ini bukan sekadar retorika. Tak lama setelah Trump memberikan jaminan berakhirnya perang, Iran justru meluncurkan gelombang serangan baru terhadap negara-negara Teluk yang menjadi sekutu Amerika Serikat.

Hal ini membuktikan bahwa klaim Washington mengenai kendali situasi berbanding terbalik dengan fakta di lapangan.

Load More