- Kepala Keamanan Nasional Iran, Ali Larijani, mengancam Presiden Trump agar berhati-hati terhadap eliminasi dirinya.
- Ancaman balasan ini muncul setelah Trump mengancam akan menyerang Iran dua puluh kali lebih keras jika minyak diblokade.
- Iran melancarkan serangan lanjutan ke Israel dan Teluk, menyebabkan harga minyak mentah Brent melonjak tajam.
Suara.com - Kepala Keamanan Nasional Iran, Ali Larijani, mengancam Presiden AS Donald Trump melalui pesan daring, berhati-hati agar tidak tereliminasi alias mati.
Dikutip dari Al Jazeera, Selasa (10/3/2026), Ali Larijani menulis pesan tersebut setelah Trump mengancam akan menyerang Iran "dua puluh kali lebih keras" jika Teheran menghentikan aliran minyak melalui Selat Hormuz.
"Bangsa Iran yang berkorban tidak takut dengan ancaman kosong Anda. Bahkan mereka yang lebih besar dari Anda pun tidak dapat melenyapkan Iran. Hati-hati jangan sampai Anda sendiri yang dilenyapkan," tulis Ali Larijani.
Iran telah dituduh merencanakan upaya pembunuhan terhadap Trump di masa lalu.
Pihak Teheran terus melancarkan serangan balasan pada hari Selasa, terhadap Israel dan negara-negara Arab Teluk.
Mereka terus menekan Timur Tengah dalam perang yang dimulai oleh Israel dan Amerika Serikat, yang telah menyebabkan harga minyak melonjak dan mengejutkan perekonomian global.
Selain menembakkan rudal dan drone ke Israel dan pangkalan Amerika di wilayah tersebut, Iran juga menargetkan infrastruktur energi dan lalu lintas melalui Selat Hormuz, jalur air vital untuk perdagangan minyak, yang menyebabkan harga minyak meroket.
Serangan-serangan tersebut tampaknya bertujuan untuk menimbulkan dampak ekonomi global yang cukup besar guna menekan AS dan Israel untuk mengakhiri serangan mereka.
Minyak mentah Brent, standar internasional, melonjak hingga hampir USD120 pada hari Senin sebelum turun kembali, tetapi masih berada di sekitar USD90 per barel pada hari Selasa, hampir 24 persen lebih tinggi daripada saat perang dimulai pada 28 Februari.
Baca Juga: Cek Fakta: Benarkah Insinyur India Ditangkap di Bahrain karena Jadi Mata-mata Mossad?
Trump, yang sebelumnya mengatakan bahwa perang dapat berlangsung selama sebulan atau lebih, berusaha untuk meredam kekhawatiran yang berkembang bahwa perang tersebut dapat berlangsung lebih lama lagi, dengan mengatakan bahwa itu "akan menjadi serangan jangka pendek."
Tertawakan Trump
Namun, pihak Teheran semakin menunjukkan tanda-tanda peperangan jangka panjang setelah para petingginya secara terbuka menertawakan klaim Donald Trump.
Menteri Luar Negeri Iran, Abbas Araghchi, menegaskan negaranya akan terus bertempur selama diperlukan, sekaligus mematahkan pernyataan Trump yang menyebut konflik akan berakhir "segera".
Pernyataan keras dari Teheran ini bukan sekadar retorika. Tak lama setelah Trump memberikan jaminan berakhirnya perang, Iran justru meluncurkan gelombang serangan baru terhadap negara-negara Teluk yang menjadi sekutu Amerika Serikat.
Hal ini membuktikan bahwa klaim Washington mengenai kendali situasi berbanding terbalik dengan fakta di lapangan.
Berita Terkait
-
Cek Fakta: Benarkah Insinyur India Ditangkap di Bahrain karena Jadi Mata-mata Mossad?
-
Putra Menkeu Israel Nyaris Tewas! Serpihan Mortir Hizbullah Tembus Perut
-
Duet AS-Israel Tak Kunjung Sukses Atasi Serangan Balik Iran, 'Epic Fury' Diledek Jadi 'Epic Failure'
-
Tampang Insinyur India Diduga Agen Mossad, Bocorkan Lokasi Strategis Negara Sekutu AS
-
Ratusan Prajurit Amerika Mulai Membelot, Muak dengan Pembantaian Siswi SD di Minab
Terpopuler
- Malaysia Tegur Keras Menkeu Purbaya: Selat Malaka Bukan Hanya Milik Indonesia!
- Lipstik Merek Apa yang Tahan Lama? 5 Produk Lokal Ini Anti Luntur Seharian
- 5 Pilihan Jam Tangan Casio Anti Air Mulai Rp100 Ribuan, Stylish dan Awet
- Warga 'Serbu' Lokasi Pembangunan Stadion Sudiang Makassar, Ancam Blokir Akses Pekerja
- 5 HP Infinix Rp3 Jutaan Spek Dewa untuk Gaming Lancar
Pilihan
-
Jadi Tersangka Pelecehan Santri, Benarkah Syekh Ahmad Al Misry Sudah Ditahan di Mesir?
-
Kopral Rico Pramudia Gugur, Menambah Daftar Prajurit TNI Korban Serangan Israel di Lebanon
-
Ingkar Janji Taubat 2021, Syekh Ahmad Al Misry Resmi Tersangka Kasus Pelecehan Santri
-
Sebagai Ayah, Saya Takut Biaya Siluman Terus Menghantui Pendidikan Anak di Masa Depan
-
Rugikan Negara Rp285 T, Eks Dirut Pertamina Patra Niaga Alfian Nasution Dituntut 14 Tahun Bui
Terkini
-
UU PPRT Resmi Disahkan, Migrant Watch Peringatkan Risiko Eksploitasi Jika Tanpa Upah Minimum
-
7 RW di Kemayoran Ogah Ikut Musrenbang, Rano Karno Ungkap Biang Masalah 35 Tahun
-
31.000 Rumah Terdampak Bencana Terima Dana Stimulan Perbaikan Hunian
-
BPJS Ketenagakerjaan Gandeng NU, Bidik Perlindungan Pekerja Informal Skala Nasional
-
Ribuan Pelari Ramaikan Adhyaksa International Run 2026, BNI Dukung Sport Tourism di Bali
-
Arab Saudi Belasungkawa Gugurnya Prajurit TNI Praka Rico Pramudia Akibat Serangan Israel
-
Misi Militer Penuh Ironi: Teknisi AS Dicakar Monyet Saat Menuju Medan Konflik Selat Hormuz
-
Benjamin Netanyahu Akui Sempat Jalani Terapi Kanker Prostat Diam-diam
-
Mahasiswa Doktoral USF Tewas Misterius, Diduga Dibunuh Teman Sekamar
-
Penasihat Hukum Nadiem Mangkir dari Sidang, Pengamat: Bisa Dikategorikan Contempt of Court