Suara.com - Parlemen Malaysia akan bertemu dengan Perdana Menteri Najib Razak untuk melakukan hak bertanya soal skandal 'rekening gendut' 1Malaysia Development Bhd (1MDB). Hal itu akan dilakukan, Senin (19/10/2015) pekan depan.
Posisi PM Najib sampai saat ini belum goyang karena peran partainya UMNO di parlemen lebih mendominasi. Sementara publik menuntut agar Najib turun menyusul mosi tak percaya bergulir.
Posisi Najib pun makin genting di kala teman politisi satu partainya di parlemen berbalik bersikap tak percaya dengan Najib. Beberapa pemimpin senior dari UMNO, termasuk mantan wakil perdana menteri sekaligus calon penggantinya, Najib Muhyiddin Yassin menndukung gerakan mantan perdana menteri Mahathir Mohamad. Dia mengkritik Najib dan menginisiasi pemanggilan Najib untuk membicarakan skandal korupsi 1MDB.
"Kami telah memutuskan pada prinsipnya untuk memindahkan mosi tidak percaya di parlemen," kata anggota parlemen sekaligus pimpinan partai oposisi PKR, Tian Chua.
"Kami pasti perlu berkolaborasi dengan beberapa pemimpin dari koalisi yang berkuasa. Tapi sekarang ada kesempatan untuk mengesampingkan kepentingan lain dan fokus pada kasus skandal," lanjutnya.
Hanya saja penggalangan mosi tak percaya di parlemen sulit dilakukan, apalagi mempengarui partai pemerintahan. Blok oposisi di parlemen hanya 25 persen.
Hanya saja, tekanan untuk Najib bukan hanya mengandalkan skandal 1MDB saja. Misal saja pada pembahasan Trans-Pacific Partnership.
"Ada banyak cara untuk menyatakan keberatan. Bahkan jika parlemen menolak anggaran Najib, yang akan berarti tidak percaya terhadap Perdana Menteri. Ini akan menjadi hal serius," kata Wan Saiful Wan Jan, chief executive dari Institute untuk Demokrasi dan Urusan Ekonomi (IDEAS). (Reuters)
Tag
Berita Terkait
Terpopuler
- Dexlite Mahal, 5 Pilihan Mobil Diesel Lawas yang Masih Aman Minum Biosolar
- Sepeda Polygon Paling Murah Tipe Apa? Ini 5 Pilihan Ternyaman dan Tahan Banting
- Awas! Jakarta Gelap Gulita Besok Malam, Cek Daftar Lokasi Pemadaman Lampunya
- Warga 'Serbu' Lokasi Pembangunan Stadion Sudiang Makassar, Ancam Blokir Akses Pekerja
- Pakar UGM Bongkar 'Dosa' Satu Dasawarsa Jokowi: Aturan Dimanipulasi Demi Kepentingan Rente
Pilihan
-
Cek Fakta: Viral Pengajuan Pinjaman Koperasi Merah Putih Lewat WhatsApp, Benarkah Bisa Cair?
-
Jadi Tersangka Pelecehan Santri, Benarkah Syekh Ahmad Al Misry Sudah Ditahan di Mesir?
-
Kopral Rico Pramudia Gugur, Menambah Daftar Prajurit TNI Korban Serangan Israel di Lebanon
-
Ingkar Janji Taubat 2021, Syekh Ahmad Al Misry Resmi Tersangka Kasus Pelecehan Santri
-
Sebagai Ayah, Saya Takut Biaya Siluman Terus Menghantui Pendidikan Anak di Masa Depan
Terkini
-
Pemerintah Klaim Kenaikan BBM Nonsubsidi Tak Ganggu UMKM
-
Buntut Kekerasan di Yogyakarta, DPR Desak Evaluasi Total Daycare: Harus Ada Screening Digital
-
Kementerian HAM Kecam Keras Kasus Daycare Yogya: Masuk Kategori Pelanggaran Berat
-
Isu Reshuffle Menguat, Qodari: Sepenuhnya Hak Presiden Prabowo
-
Kondisi Membaik, Anggota TNI Korban Penganiayaan di Stasiun Depok Baru Ternyata Dinas di Kemhan
-
KemenPPPA Sebut Lonjakan Daycare di Indonesia Tak Diiringi Standar dan Legalitas
-
Diisukan Bakal Digeser dari KSP Saat Reshuffle Kabinet Hari Ini, Qodari Bilang Begini
-
Misteri Motif Penyiraman Air Keras di Cengkareng, Satu Orang Pelaku Kini Diperiksa Intensif
-
Awali Kunjungan di Papua Barat Daya, Mendagri Tito Tinjau Kawasan Pusat Pemerintahan
-
Harga Minyak Makin Amburadul Gara-gara Iran Perketat Blokir Selat Hormuz