Suara.com - Sun Mingmei selalu ingin punya anak kedua. Akhirnya, Agustus lalu dia habil kembali. Dia dan suaminya bersuka cita.
Namun, Cina melarang penduduknya mempunyai dua anak. Kalau pun bisa mempunyai dua anak, dia harus membayar denda lebih dari 200.000 yuan atau sekitar 31.250 dolar AS.
Tapi Mei merasa tak mampu. Akhirnya, dia memutuskan untuk menggugurkan anaknya saat usia 2 bulan dalam kandungan.
"Saya tidak tahu apakah itu seorang gadis atau laki-laki. Seandainya aku tahu, aku akan berjuang untuk membuat keputusan," curhat Mei kepada CNN.
Sialnya, dua bulan kemudian pemerintah Cina menyatakan kebijakan satu anak berakhir mulai Januari 2016. Warga Cina bisa memiliki 2 anak. Kebijakan sejak tahun 2000 itu memang sangat kontroversial. Negara barat menilai kebijakan itu melanggar HAM.
"Saya sedikit menyesal untuk menyerah kepada bayi saya belum lahir ketika saya mendengar berita itu," kata Mei.
CNN melansir, jutaan perempuan di Cina dipaksa untuk mengakhiri kehamilan anak kedua mereka karena dianggap hamil ilegal. Kementerian Kesehatan Cina mencatat ada 7 juta perempuan Cina menggugurkan kehabilannya. Mereka dipaksa. Human Rights Watch mengatakan jika tindakan itu koersif.
Lu Jiehua, seorang ahli demografi di Universitas Peking mengatakan kebijakan 'dua anak' ini bisa memicu ledakan bayi pada tahun 2017 dan 2018. Diperkirakan 20 juta anak-anak akan lahir pada 2017.
Dia mengatakan tingkat kelahiran lebih tinggi akan membantu Cina mengatasi krisis populasi muda. Sekarang kebanyakan penduduk Cina tidak produktif atau kebanyakan orangtua. (CNN)
Berita Terkait
Terpopuler
- Gaji di Bawah Rp 8 Juta Kini Masuk Kategori Berpenghasilan Rendah
- 4 Genset Mini Portable Praktis dan Senyap, Solusi Saat Mati Listrik
- Mahasiswa UBK Tuntut Pengurus BEM Mundur usai Diduga Terima Suap dari Wapres Gibran
- Ikuti Jejak Hotel Sultan, Otto Hasibuan Diminta Ikhlas Lepas Lapangan Golf Ottolima ke Negara
- 4 Bohlam Lampu Emergency LED Terbaik Otomatis Nyala saat Mati Listrik, Lebih Aman Tanpa Lilin
Pilihan
-
Program Ayah Ambil Rapor Tuai Dilema, Anak Yatim hingga Buruh Harian Punya Cerita Berbeda
-
Jelang Lawan Mesir, Striker Iran Mehdi Taremi Ditahan Otoritas AS
-
Semua Pengurus BEM FH UBK Dipecat, Kasus Suap Rp 20 Juta dari Polisi
-
Satu Kapal Tanker Pertamina Lolos dari Selat Hormuz
-
Tahan Inggris, Pelatih Ghana Sindir VAR: Saya Tak Yakin Masih Berfungsi
Terkini
-
3 Manajer KDMP-KNMP Meninggal, Amnesty Desak Latsarmil Dihentikan
-
Gempa Besar Venezuela: Ribuan Orang Hilang Dampaknya Sampai Sejauh 1700 Km
-
Fadli Zon Dorong Cerita Rakyat Jadi Gerakan Nasional, Bukan Sekadar Warisan Budaya
-
KPK Cecar Eks Sekjen MPR Maruf Cahyono Soal Bukti-Bukti Gratifikasi Rp17 Miliar
-
Gus Ipul Ajak SP2MI Ambil Peran di Program Sekolah Rakyat
-
19 Ribu Anak Garut Putus Sekolah, Bupati 'Todong' ASN hingga Pengusaha Jadi Orang Tua Asuh!
-
Riset Ungkap Skema Hibah dan Pinjaman Lunak Paling Efektif Danai PLTS Komunitas
-
Hari Pelaut Sedunia, Pelindo Dukung Potensi Ekonomi di Selat Malaka
-
Prabowo Percepat Pengembangan Mobil Nasional hingga Farmasi, Kampus Diminta Kejar Kebutuhan SDM
-
Geledah Kantor BKP Sumsel, KPK Temukan Bukti Upaya Ubah Opini WTP Usai Bupati Muara Enim Kena OTT