Suara.com - Sebanyak 903 orang warga eks-Gafatar, Sabtu (30/1/2016), dipulangkan ke daerah masing-masing dengan menggunakan KRI Teluk Penyu dari Pelabuhan Dwikora Pontianak menuju Pelabuhan Tanjung Priok.
"KRI Teluk Penyu meninggalkan Pelabuhan Dwikora untuk mengangkut warga eks Gafatar tadi sekitar pukul 10.00 WIB," kata Kapendam XII Tanjungputa Kolonel (Inf) Mukhlis di Pontianak.
Mukhlis menjelaskan, dengan dipulangkannya sebanyak 903 warga eks Gafatar tersebut, maka tempat penampungan sementara para eks Gafatar itu ditutup, karena tempat Bekangdam XII/TPR tersebut akan digunakan untuk sebanyak 700 prajurit yang akan bertugas di perbatasan Kalimantan Barat, menggantikan prajurit sebelumnya.
"Kalaupun masih ada warga eks Gafatar yang akan dipulangkan, nantinya adalah kewenangan dari Pemerintah Provinsi Kalbar, karena kami hanya bertugas menampung saja, sebelum dipulangkan ke daerah masing-masing," ungkapnya.
Sebelumnya, Gubernur Kalbar, Cornelis dengan tegas mengatakan dirinya menolak dikembalikannya sejumlah anggota eks Gafatar asal Boyolali ke Kalbar, dengan meminta kepada bupati Mempawah untuk membuat surat pindah bagi sejumlah eks anggota Gafatar yang telah memiliki KTP Mempawah.
"Memang ada beberapa eks anggota Gafatar asal Boyolali yang sudah memiliki KTP Mempawah dan rencananya akan dikembalikan lagi oleh pemerintah Boyolali ke Mempawah terkait hal itu. Namun, saya sudah meminta kepada bupati Mempawah untuk membuat surat pindah agar mereka tidak lagi dikembalikan ke Mempawah," katanya.
Menurut Cornelis, KTP yang dimiliki eks anggota Gafatar asal Boyolali tersebut dinilai tidak sah karena didapat dengan prosedur yang tidak resmi.
"Ini juga tentu menjadi kesalahan kepala desa yang ada di Kalbar, karena saya nilai terlalu baik menerima masyarakat luar menjadi warga kita dan kedepan ini harus diperbaiki dan ini harus menjadi pelajaran bagi kita," kata Cornelis.
Terpopuler
- Daftar Prodi Berpotensi Ditutup Imbas Fokus Industri Strategis Nasional
- 5 Parfum Scarlett yang Wanginya Paling Tahan Lama, Harga Terjangkau
- Perjalanan Terakhir Nuryati, Korban Tragedi KRL Bekasi Timur yang Ingin Menengok Cucu
- Membedah 'Urat Nadi' Baru Lampung: Shortcut 37 KM dan Jalur Ganda Siap Usir Macet Akibat Babaranjang
- 5 Rekomendasi Sepeda Roadbike Rp1 Jutaan, Cocok untuk Pemula hingga Harian
Pilihan
-
7 Sabun Mandi Cair Wangi Mewah yang Bikin Rileks Setelah Pulang Kerja, Ada yang Mirip Aroma Spa
-
Mantan Istri Andre Taulany Dilaporkan ke Polisi, Diduga Aniaya Karyawan
-
Stasiun Bekasi Timur akan Kembali Beroperasi Lagi Siang Ini
-
Truk Tangki BBM Meledak Hebat di Banyuasin, 4 Pekerja Terbakar saat Api Membumbung Tinggi
-
RS Polri Berhasil Identifikasi 10 Jenazah Korban Tabrakan Kereta di Bekasi Timur, Ini Nama-namanya
Terkini
-
Mitos Zona Aman Gerbong Tengah: Mengapa Usul Menteri PPPA Dinilai Tak Sentuh Akar Masalah?
-
Demi Wujudkan Kesejahteraan, Wamendagri Ribka Minta Papua Dukung Asta Cita Presiden
-
Dosen Diduga Terlibat Kasus Daycare Little Aresha, Begini Respons UGM
-
Wamendagri Wiyagus: Perkuat Peran Damkar, Satpol PP dan Satlinmas untuk Lindungi Masyarakat
-
Prabowo Kumpulkan 1.500 Komandan Satuan TNI di Bogor: Kobarkan Semangat Maju Tak Gentar
-
Respons Pratikno Soal Kasus Daycare Aceh: Ada Proses Hukum, Trauma Healing hingga Penutupan
-
Ketum Posyandu Tri Tito Karnavian Dorong Pemulihan Warga Huntara Aceh Utara: Bansos dan Senam Sehat
-
Marak Kasus Kekerasan Anak, Menko PMK Instruksikan Pemda Audit Seluruh Daycare
-
Tak Ikut di Monas, Perisai dan GMNI: May Day Itu Bentuknya Harus Perlawanan, Bukan Lagi Pesta Pora
-
3 WNI Diciduk di Makkah Terkait Haji Ilegal, Ada Petugas yang Terlibat?