Suara.com - Pendidikan seksual terhadap anak-anak sangat minim, bahkan masih dianggap tabu di tengah masyarakat Indonesia. Hal ini menjadi salah satu faktor anak-anak jadi sasaran dan korban eksploitasi pedofilia.
Koordinator Presidium Forum Alumni Aktivis Perhimpunan Pers Mahasiswa Indonesia (FAA PPMI), Agung Sedayu mengatakan setiap anak memiliki hak tumbuh kembang yang baik, termasuk dalam hal pendidikan seksual. Namun pendidikan seksual yang baik terhadap anak masih menjadi barang langka di negeri ini.
"Keluarga, lingkungan, bahkan sekolah masih menjadikan seksual sebagai barang tabu untuk dibicarakan. Itu sebabnya anak secara diam-diam mencari tahu sendiri melalui berbagai sarana dan pergaulan di luar pengawasan orang tua," kata Agung dalam diskusi di sebuah kafe kawasan Pasar Festival, Kuningan, Jakarta Selatan, Minggu (21/2/2016).
Padahal, lanjut dia, teknologi informasi dan kemudahan akses internet sudah sangat maju. Anak-anak saat ini sangat mudah mengakses internet dengan bebas..
"Akibatnya, anak yang belum paham konsekuensi aktivitas seksual yang mereka lakukan itu menjadi rentan terperosok dalam pergaulan seksual bebas bahkan menjadi korban eksploitasi seksual orang dewasa," ujar Agung.
Dia menjelaskan, beberapa waktu lalu masyarakat dihebohkan dengan munculnya akun Twitter @GayKids_botplg yang memasang, memamerkan foto serta pelajar SMP dan SMA secara fulgar dan menyebut mereka sebagai anak-anak gay. Akun Twitter ini salah satu contoh bentuk eksploitasi seksual terhadap anak.
"Perbuatan eksploitasi seksual, pedagangan anak, dan praktik fedofilia jelas sebuah kejahatan serius. Polisi harus tegas menindak dan menghukum siapapun pelakunya," tegas dia.
Sementara itu, sikap intoleran, eksklusi dan diskriminasi membuat kelompok minoritas LGBT dalam posisi yang rumit. Masyarakat dengan modal stigma negatif cenderung sembrono mengaitkan keberadaan minoritas LGBT sebagai tersangka utama fedofilia atau predator pemburu anak-anak.
"Padahal kejahatan seksual terhadap anak bisa dilakukan oleh siapa saja," jelas Agung.
Kebencian dan sikap mendiskriminasi kelompok minoritas LGBT jelas bukan soslusi untuk menekan angka korban perilaku menyimpang pedofilia atau mengakhiri eksploitasi seksual pada anak.
"Memberikan ruang pendidikan seksual yang wajar dan seimbang dengan tingkat pertumbuhan anak nampaknya lebih tepat, ketimbang menduga pemilik akun twitter Gaykids adalah generasi muda yang sesaat tak bermoral. Perlu komitmen dari semua pihak melawan prilaku pedofilia," kata dia.
Berita Terkait
Terpopuler
- Mengenal Lisda Cancer, Perwira Tinggi Polri yang Pensiun Tak Lama Usai Jadi Brigjen
- Pelatih FC Twente Usir Mees Hilgers: Saya Tak Berharap Dia Kembali ke Klub!
- PIP Termin II 2026 Kapan Cair? Ini Jadwal Lengkap dan Cara Ceknya agar Dana Tidak Hangus!
- Skenario Timnas Indonesia Jika Imbang atau Kalah dari Vietnam di Piala AFF 2026
- Sunscreen Apa yang Bagus untuk Menghilangkan Flek Hitam di Wajah? Ini 3 Rekomendasi sesuai Review
Pilihan
-
Aktris Sali Irsalina Dianiaya Pacar di Fatmawati, Mata Lebam Hingga Diselamatkan Polantas
-
Dipilih Lewat Seleksi Ketat, Bank Dunia Kembali Tunjuk Sri Mulyani Duduki Jabatan Strategis
-
Pagar Besi di Mal-mal, Benarkah untuk Antisipasi Plot Kerusuhan Agustus?
-
Desa Kecil, Mimpi Mendunia: Ketika Kolaborasi Mengubah Wajah Kemiren
-
Kejagung Geledah Rumah Eks Jampidsus Febrie yang Pernah Dijaga TNI
Terkini
-
Tunda Kenaikan Gaji Kepala Daerah! Korupsi Itu Soal Integritas, Bukan Kurang Penghasilan
-
Industri Kecantikan Indonesia Makin Bergairah, Inovasi dan Teknologi Jadi Kunci Persaingan
-
Dari Kulit hingga Tekstil Ramah Lingkungan, Tren Fashion Masa Depan Makin Berkelanjutan
-
Wali Kota Solo Tegaskan Tak Toleransi Miras Ilegal, Empat Outlet Ditutup
-
Dari AI hingga Alat Diagnostik Presisi, Inovasi Teknologi Dorong Deteksi Penyakit Lebih Cepat
-
Watak Weton Rabu Pon Milik Presiden Prabowo Subianto, Simak Kelebihan dan Kekurangannya
-
BPS Ungkap Penjualan Truk hingga Pikap Melonjak 38,76%
-
Mendagri Siapkan Tiga Langkah Sebagai Solusi Operasional Gaji Pegawai Pemda
-
BRI Dukung Optimalisasi Dana SAL, Perkuat Penyaluran Kredit ke Sektor Produktif
-
Deposit Judi Online Piala Dunia 2026 Tembus Rp1 Triliun! QRIS Paling Banyak Disalahgunakan