Suara.com - Presiden Amerika Serikat (AS) Barack Obama, bertemu muka dengan Presiden Kuba, Raul Castro, di Havana, Kuba, Senin (21/3/2016) waktu setempat. Dalam pertemuan tersebut, Obama mendesak agar pemerintah Kuba menegakkan hak asasi manusia, sedangkan Castro meminta AS segera mencabut embargo ekonomi yang membelenggu negara tersebut selama 54 tahun.
Kunjungan Presiden Amerika Serikat Barack Obama ke Kuba sejak Minggu (20/3/2016) menjadi sorotan dunia internasional. Obama jadi presiden AS pertama yang berkunjung ke Kuba dalam 88 tahun terakhir dengan tujuan memperbaiki hubungan bilateral.
Pertemuan yang dilanjutkan dengan konferensi pers bersama antara Obama dan Castro pun berlangsung dalam suasana penuh keakraban, sebuah pemandangan langka dan bersejarah antara dua pemimpin negara yang pernah bermusuhan di era Perang Dingin. Namun, tak jarang suasana menegang saat Castro menjawab pertanyaan wartawan asing yang hadir dalam konferensi pers tersebut.
Berikut ini beberapa poin penting, namun juga unik dan tak terduga, dalam konferensi pers antara Obama dan Castro sebagaimana dirangkum dari Reuters dan Guardian.
1. Obama mendesak, Castro mengelak
Dalam konferensi pers yang diawali dengan canda tawa tersebut, Obama memuji Castro karena bersedia berdiskusi secara terbuka. Obama menegaskan, hubungan kedua negara akan berkembang hanya jika Kuba bersedia meningkatkan kualitas penegakkan hak asasi manusia di negaranya.
"Tanpa itu, saya rasa hubungan itu akan menjadi amat tidak nyaman," kata Obama dalam konferensi pers yang disiarkan langsung oleh televisi nasional Kuba.
"Amerika berpijak pada demokrasi. Kami percaya bahwa kebebasan berpendapat dan kebebasan berkumpul serta kebebasan memeluk agama bukan saja nilai-nilai yang dimiliki Amerika, namun juga nilai universal," sambung Obama.
Menanggapi pernyataan Obama, Castro mengatakan bahwa tak ada satu negara di dunia pun yang mampu menegakkan hak asasi manusia sepenuhnya.
"Ada 61 instrumen internasional intuk mengetahui berapa banyak negara di dunia yang memathui seluruh hak asasi manusia dan hak rakyat," kata Castro.
"Negara mana yang mematuhi semuanya? Anda tahu? Saya tahu. Tidak ada. Tak satupun negara. Beberapa negara menegakkan beberapa hak asasi manusia, sebagian lainnya mematuhi hak asasi manusia yang lain," sambung Castro.
Menurutnya, argumen soal hak asasi manusia tidak bisa digunakan untuk konfrontasi politik. Castro lalu bercerita soal sistem kesehatan Kuba yang diklaimnya sudah baik, juga soal undang-undang pengupahan tenaga kerja yang sama antara lelaki dan perempuan.
2. Pertama kalinya Raul Castro menerima tanya jawab dengan wartawan.
Konferensi pers bersama dengan Obama menjadi konferensi pers pertama di mana Raul Castro bersedia menerima dan menjawab pertanyaan yang diajukan wartawan. Pasalnya, kebebasan media di Kuba sebelumnya amat dikendalikan oleh pemerintah.
Sejak menggantikan sang kakak, pemimpin revolusi Kuba, Fidel Castro, yang sakit pada 2008, Raul Castro tak pernah sekalipun bertanya jawab dengan wartawan, terlebih wartawan asing. Tanya jawab tersebut pun disiarkan langsung oleh televisi nasional Kuba.
3. Raul Castro merasa terganggu dengan pertanyaan wartawan.
Raul Castro, sang mantan jenderal tentara itu pun menjawab dengan nada tinggi, saat seorang wartawan menanyakan hal yang sensitif padanya. Ia menjawab dengan keras ketika ditanyai soal keberadaan tahanan politik di Kuba.
"Katakan pada saya sekarang. Tahanan politik yang mana? Sebutkan saya sebuah nama, atau nama-nama mereka," kata Castro.
"Jika memang ada tahanan politik, mereka akan dibebaskan sebelum matahari terbenam," sambungnya.
Lansiran Huffington Post, mengutip data Cuban Observatory for Human Rights, hingga akhir tahun lalu, tercatat ada beberapa lusin tahanan politik di Kuba. Senada dengan laporan tersebut, ajudan senior Obama, Ben Rhodes, mengatakan bahwa Kuba memiliki tahanan politik dan mengatakan bahwa AS sudah memberikan daftar nama tersebut kepada Kuba. Castro mengklaim bahwa tahanan tersebut, yang sebagian terdiri atas kelompok yang berseberangan dengan pemerintah, adalah tahanan kriminal biasa.
4. Raul Castro menolak pertanyaan tambahan
Raul Castro, sang presiden berusia 84 tahun menghardik reporter yang ingin bertanya soal hak asasi manusia. Ia bersikeras hanya akan menjawab satu pertanyaan saja.
Dengan nada bergurau, Obama mencoba mendorong Castro untuk menjawab satu pertanyaan lagi. Namun, Castro bersikeras dengan keputusannya.
5. Castro desak AS cabut embargo dan kembalikan Teluk Guantanamo pada Kuba.
Raul Castro meminta Obama untuk mencabut embargo yang membelenggu Kuba selama 54 tahun. Ia juga meminta AS mengembalikan Teluk Guantanamo, yang kini dijadikan pangkalan militer serta penjara tahanan terorisme, kepada Kuba.
Obama tidak merespon permintaan Castro soal Guantanamo. Namun, ia menjanjikan bahwa embargo ekonomi atas Kuba akan dicabut.
6. Castro mengangkat tangan Obama.
Di akhir konferensi pers, Castro memegang pergelangan tangan Obama lalu mengangkatnya. Tampaknya Castro ingin membentuk lambang kemenangan dengan kedua tangan mereka.
Namun, alih-alih mengepalkan tangannya, Obama justru membiarkan tangannya terbuka. Pemandangan ini menjadi unik dan terabadikan dalam foto.
Berita Terkait
-
Setelah Iran, AS Serang Kuba? Miguel Daz-Canel: Saya Siap Mati Demi Revolusi!
-
Pernyataan Donald Trump soal AS Incar Kuba Jadi Sorotan Dunia
-
Donald Trump Beri Sinyal Kuba Jadi Target Operasi Militer AS Berikutnya Setelah Iran dan Venezuela
-
Donald Trump Blokade Minyak Kuba, Raul Castro Turun Gunung
-
4 Ucapan Kontroversial Trump di Depan Donatur Partai Republik: Serang Media AS hingga Obama
Terpopuler
- Pentagon Gelar Karpet Merah, Sjafrie Sjamsoeddin Dituding Bawa Agenda Akses Bebas di Langit RI
- 7 HP Murah di Bawah Rp1 Juta Paling Layak Beli di 2026, Performa Oke Buat Harian
- AS Blokade Semua Pelabuhan Iran Senin Hari Ini, Harga BBM Langsung Naik
- 5 Rekomendasi Parfum Lokal yang Wanginya Segar seperti Malaikat Subuh
- 67 Kode Redeem FF Max Terbaru 13 April 2026: Sikat Item Undersea, Evo Draco, dan AK47
Pilihan
-
CFD Ampera Bikin Macet, Akademisi: Ada yang Salah dari Cara Kota Diatur
-
Polisi: Begal Petugas Damkar Tertangkap Saat Pesta Narkoba Didampingi Wanita di Pluit
-
Warga Sambeng Borobudur Terancam Kehilangan Mata Air, Sendang Ngudal Dikepung Tambang
-
Rivera Park Tebo Terancam Lagi, Tambang Ilegal Kembali Beroperasi Saat Wisatawan Membludak
-
Bukan Merger, Willy Aditya Ungkap Rencana NasDem-Gerindra Bentuk 'Political Block'
Terkini
-
Bukan Cuma Fisik, Chat Mesum Termasuk Kekerasan Seksual: Pakar Soroti Kasus Mahasiswa UI
-
Tuduh Jubir KPK Sebar Fitnah Soal Sitaan Barang, Faizal Assegaf Lapor ke Dewas
-
Aktivis Sambut Seruan Dasco: Persatuan Nasional Lebih Krusial daripada Opini Disharmoni
-
Solusi Macet Jakarta? DKI Bangun Flyover Latumenten dan Bintaro Puspita Hingga 2030
-
Pemprov DKI Siap Siaga Hadapi KLB Keracunan Pangan, Perketat Pengawasan MBG di Sekolah
-
Sandiaga Uno Sebut Ekonomi Hijau Kunci Utama Ciptakan Lapangan Kerja Masa Depan
-
Ngaku Jadi Korban 'Deepfake' AI, Rismon Sianipar Bantah Fitnah Jusuf Kalla: Itu Video Rekayasa!
-
Bantah Terima Uang Miliaran, Rismon Sianipar Ungkap Alasan Pilih Damai di Kasus Ijazah Jokowi
-
Legislator Golkar Tagih Revisi UU Pemilu: Banyak Putusan MK Mendesak Segera Ditindaklanjuti
-
Ketegangan di Yerusalem Meningkat usai Pemasangan Pintu Besi di Kawasan Bersejarah