- Presiden Kuba Miguel Díaz-Canel menyatakan kesiapan melawan agresi militer Amerika Serikat demi mempertahankan kedaulatan serta revolusi negaranya.
- Pengetatan blokade energi oleh Amerika Serikat memicu krisis listrik dan ancaman kekurangan pangan yang parah di Kuba.
- Pemerintah Kuba menolak bernegosiasi terkait perubahan sistem politik meskipun berada di bawah tekanan besar dari pihak Washington.
Suara.com - Presiden Kuba, Miguel Díaz-Canel, melontarkan pernyataan keras terhadap Presiden Amerika Serikat Donald Trump di tengah meningkatnya ketegangan antara kedua negara.
Dalam wawancara dengan NBC, Díaz-Canel menegaskan Kuba siap menghadapi kemungkinan serangan militer dari Amerika Serikat.
“Jika itu terjadi, akan ada perlawanan, dan jika kami harus mati, kami akan mati,” ujarnya.
Pernyataan tersebut muncul saat Kuba bersiap menghadapi dampak kebijakan tekanan dari Washington.
Sejak Desember lalu, AS memperketat blokade terhadap Venezuela yang berdampak pada pasokan minyak ke Kuba.
Langkah itu memperburuk krisis energi di negara tersebut, yang kini mengalami pemadaman listrik meluas dan ancaman kekurangan pangan.
Díaz-Canel menegaskan bahwa pemerintahannya tidak akan mundur meski berada di bawah tekanan berat.
Ia bahkan menyatakan siap mengorbankan nyawa demi mempertahankan revolusi Kuba.
“Saya tidak takut. Saya siap memberikan hidup saya untuk revolusi,” katanya.
Baca Juga: Diancam Trump Bakal Dikirim ke Neraka, Iran Siapkan 'Pusaran Maut' di Selat Hormuz
Díaz-Canel juga menambahkan bahwa tidak ada alasan bagi AS untuk melakukan agresi militer terhadap negaranya.
Kuba saat ini menghadapi krisis berlapis, mulai dari kekurangan listrik hingga pasokan makanan yang menipis.
Pemerintah mengakui situasi sulit, namun menegaskan bahwa kondisi tersebut diperparah oleh blokade yang semakin ketat.
“Kami menghadapi dampak akumulatif dari blokade, ditambah pengetatan terbaru, termasuk blokade energi,” ujar Díaz-Canel.
Di tengah tekanan internasional, peluang dialog antara Kuba dan Amerika Serikat disebut semakin kecil.
Díaz-Canel menilai sulit mempercayai komitmen Washington, terutama setelah serangan terhadap Iran saat negosiasi berlangsung.
Berita Terkait
-
Diancam Trump Bakal Dikirim ke Neraka, Iran Siapkan 'Pusaran Maut' di Selat Hormuz
-
Sindiran Telak Mark Carney ke Trump, Kanada Perkuat Gerakan Boikot Produk AS
-
Kisah Anak-anak Iran di Tengah Perang: Aku Stres Banyak Suara Ledakan, Berlindung Agar Tak Terbunuh
-
Harga Plastik Melonjak, Bisakah Momentum Ini Dorong Gaya Hidup Lebih Ramah Lingkungan?
-
Wapres AS Kena Troll Kedubes Iran: Gagal Pimpin Negosiasi dan Disorot Usai Orban Kalah Pemilu
Terpopuler
Pilihan
-
AS Blokade Semua Pelabuhan Iran Senin Hari Ini, Harga BBM Langsung Naik
-
Balas Rhoma Irama, LMKN Jelaskan Akar Masalah Royalti Musik Dangdut Jadi Rp25 Juta
-
Buat Kaum dengan Upah Pas-pasan, Nabung dan Investasi Adalah Kemewahan
-
Resmi! Liliek Prisbawono Jadi Hakim MK Gantikan Anwar Usman
-
Apartemen Bassura Jadi Markas Vape Narkoba, Wanita Berinisial E Diciduk Bersama Ribuan Barang Bukti!
Terkini
-
Dinilai Lebih Cepat dan Presisi, Bagaimana Teknologi AI BRIN Bantu Petakan Pesisir Pantura?
-
Diancam Trump Bakal Dikirim ke Neraka, Iran Siapkan 'Pusaran Maut' di Selat Hormuz
-
BMKG Rilis Peringatan Dini Hujan Ekstrem di Jabodetabek Hingga 17 April
-
Sindiran Telak Mark Carney ke Trump, Kanada Perkuat Gerakan Boikot Produk AS
-
Sinergi BNI dan Pemerintah Dorong Hunian Layak serta Ekonomi Rakyat di Manado
-
Kisah Anak-anak Iran di Tengah Perang: Aku Stres Banyak Suara Ledakan, Berlindung Agar Tak Terbunuh
-
Cuaca Ekstrem Terjang Jaktim Kemarin, Belasan Pohon Tumbang Timpa Ruko dan Kendaraan Warga
-
Wapres AS Kena Troll Kedubes Iran: Gagal Pimpin Negosiasi dan Disorot Usai Orban Kalah Pemilu
-
Warga Iran Lega Gencatan Senjata, Tapi PHK Sudah di Mana-mana dan Hidup 'Ngap-ngapan'
-
Unggah Foto Bak Yesus, Trump Serang Paus Leo XIV: Dasar Pemimpin Lemah!