News / Nasional
Senin, 04 April 2016 | 14:40 WIB
Menteri Luar Negeri Retno Marsudi memberi keterangan pers mengenai penyanderaan warga negara Indonesia oleh kelompok militan Abu Sayyaf di Jakarta, Kamis (31/3/2016). [suara.com/Kurniawan Mas'ud]

Suara.com - Menteri Luar Negeri Retno LP Marsudi mengatakan bahwa dirinya telah melaporkan kepada Presiden Joko Widodo hasil pertemuannya dengan Pemerintah Filipina mengenai pembebasan sepuluh anak buah kapak (ABK) WNI yang disandera oleh kelompok milisi Abu Sayyaf. Retno baru saja kembali dari Filipina setelah ditugaskan Jokowi untuk berkoordinasi dengan Pemerintah Filipina mengenai langkah-langkah pembebasan 10 WNI yang disandera.

‎"Saya telah melaporkan kepada Presiden RI mengenai dua perkembangan utama. Pertama mengenai upaya pembebasan 10 ABK kita dan laporan hasil kunjungan saya ke Manila. Semuanya sampaikan kepada Presiden dan saya mohon maaf untuk detailnya tidak dapat sampaikan di depan publik," kata Retno di komplek Istana Kepresidenan, Jakarta, Senin (4/4/2016).

Dia menjelaskan inti pertemuan Retno mewakili Presiden Jokowi dengan Pemerintah Filipina adalah upaya pemebebasan 10 ABK tersebut mengetumakan keselamatan sandera dari berbagai opsi yang ada.

"Intinya adalah bahwa kami dari Pemerintah, semua secara terkoordinir bekerja terus bersama dengan Pemerintah Filipina untuk upaya pembebasan 10 ABK tersebut. Sekali lagi keselamatan ABK menajadi acuan utama dari semua opsi yang masih terbuka ini," ‎ujar dia.

Kedua, Retno melaporkan perkembangan tiga ABK WNI yang sempat disandera ketika perampokan ABK terhadap kapal berbendera Malaysia di perairan Ligitan telah dibebaskan dan selamat.

"Saya juga melaporkan ke Presiden mengenai status WNI kita, tiga orang yang selamat dari upaya perompakan yang terjadi beberapa waktu lalu di dekat Sabah," kata dia.

Load More