Suara.com - Bakal calon Gubernur DKI Jakarta, Yusril Ihza Mahendra menggelar pertemuan dengan sejumlah alumni aktivis mahasiswa angkatan Malari (peristiwa malapetaka Januari 1974). Mereka bertemu di Warung Kopi Phoenam, Jalan Wahid Hasyim No 88, Jakarta Pusat, Senin (11/4/2016).
Dalam pertemuan itu para aktivis mahasiswa angkatan 1960-1970an ini menyatakan dukungan terhadap Yusril maju memimpin Ibu Kota dalam pilgub 2017 nanti.
Salah satu tokoh aktivis Malari, Salim (66) mengatakan telah mengenal Yusril sejak zaman mahasiswa dan peristiwa Malari 1974. Ia menyatakan dukungan terhadap Yusril untuk memimpin Ibu Kota.
"Kita butuh pemimpin yang berani menegakkaan keadilan dan berpihak pada rakyat. Bung Yusril adalah tokoh yang tepaat untuk memimpin Jakarta yang berkeadilan dan membela rakyat," kata Salim.
Dalam kesempatan itu, Yusril mengaku dirinya belajar hukum terdorong atas peristiwa Malari. Saat itu terjadi penangkapan para aktivis mahasiswa oleh rezim Soeharto. Ia mengaku banyak belajar dari para seniornya aktivis Malari dan kelompok Masyumi.
"Pada waktu peristiwa Malari saya datang ke Jakarta. Ketika beliau-beliau ini (aktivis mahasiswa) ditangkap, hal itu yang mendorong saya untuk belajar hukum guna membela rakyat dan menegakkan keadilan. Saya masih ingat tim pembela hukumnya, salah satunya Djamaluddin Datuk Singo Mangkuto, dia orang Masyumi. Dia juga membela Kartosuwiryo di pengadilan," ujar Yusril.
Pakar hukum tatanegara ini menuturkan niatnya semakin teguh untuk maju menjadi cagub DKI karena Pemprov sekarang banyak melakukan penggusuran terhadap warga kecil yang semakin terpinggirkan.
"Saya berniat maju Gubernur DKI karena melihat kondisi Jakarta banyak permasalahan sekarang. Saya membaca pernyataan Jokowi tahun 2012. Dia bilang tidak akan menggusur orang-orang kecil. Tapi setelah Jokowi selesai menjadi Gubernur, sekarang digantikan Pak Ahok ini kok jadi melakukan penggusuran warga terhadap warga kecil," kata dia.
"Saya berangkat dari suatu keprihatinan, saya ingin membangun Jakarta yang lebih baik, tanpa mengedepankan kekuasaan, tapi kepentingan rakyat dari segalanya," tutup dia.
Berita Terkait
Terpopuler
- 5 Rekomendasi Serum Malam untuk Hempas Flek Hitam Usia 50 Tahun ke Atas
- Kecil tapi Lega: Hatchback Bermesin Avanza Kini Cuma 50 Jutaan, Makin Layak Dilirik?
- Promo JCO Mei 2026, Paket Hemat Donat dan Kopi yang Sayang Dilewatkan
- Work to Run: 5 Sepatu Lari Hitam Polos yang Tetap Rapi di Kantor dan Nyaman Dipakai Lari
- 5 HP Redmi RAM 8 GB Memori 256 GB Termurah di Bawah Rp1,5 Juta, Spek Juara
Pilihan
-
10 WNI Diamankan di Arab Saudi Terkait Haji Ilegal, Kemenhaj Pastikan Tak Akan Intervensi
-
Serangan Mematikan Rusia Jelang Gencatan Senjata, 26 Warga Ukraina Tewas
-
Bejatnya Kiai Cabul Ashari di Pati: Ngaku Keturunan Nabi hingga Istri Orang Bebas Dicium
-
Mengungkap Jejak Pelarian Kiai Cabul Pati: Terendus Ritual di Kudus, Kini Raib Bak Ditelan Bumi
-
Diterpa Kontroversi dan Dilaporkan ke Bareskrim Terkait Ceramah JK, Ade Armando Mundur dari PSI
Terkini
-
Hujan Masih Guyur Jabodetabek di Tengah Kemarau, Begini Penjelasan BMKG
-
Bertemu Prabowo 2,5 Jam, Mahfud MD Blak-blakan Soal 'Penyakit' di Tubuh Polri
-
Bukan Misi Rahasia! BAIS TNI: Motif Anggota Siram Air Keras ke Andrie Yunus karena Sakit Hati
-
KPK Cecar Fadia Arafiq Soal Penukaran Valas yang Diduga dari Hasil Korupsi
-
Kena Penggusuran, Belasan Penghuni Rumdis PAM Jaya Benhil Dapat Rp50 Juta dan Rusun Gratis
-
Niat Mulia Berujung Duka: Pria Berbaju Koko Tewas Dihantam KRL Saat Lerai Tawuran di Duren Sawit
-
Alibi Janggal Anggota BAIS Penyiram Air Keras Andrie Yunus saat Diinterogasi Atasan
-
Serangan Israel ke Lebanon Selatan Tewaskan 2.702 Orang, Lukai Ribuan Warga Sipil Sejak Maret
-
Mendagri: Penghargaan Daerah Jadi Instrumen Tampilkan Kinerja Nyata Kepala Daerah
-
Jadi Tersangka, Pengemudi Pajero Sport Penabrak Pedagang Buah di Kalimalang Tak Ditahan