Suara.com - Mantan Presiden Timor Leste Jose Ramos Horta memandang perbedaan peristiwa 1965 di Indonesia adalah normal. Sebab Indonesia mempunyai masyarakat dari berbagai lapisan.
"Saya rasa wajar jika terjadi banyak pandangan, terjadi kontroversi, ada yang menolak dan ada yang mendukung hal itu normal bagi bangsa Indonesia yang terdiri atas banyak lapisan masyarakat," kata Ramos Horta di Jakarta, Kamis (5/5/2016).
Di belahan dunia mana pun, bahkan Amerika Serikat yang telah lama mendukung sistem demokrasi sejak lama, juga akan bungkam ketika dibahas masalah sensitif seperti perbudakan. Lanjut Horta, perwakilan PBB untuk Perdamaian di Guinea-Bissau (UNIOGBIS) ini mengapresiasi Pemerintah Indonesia yang berani membicarakan luka lama bangsanya.
"Memutuskan untuk meninggalkan masa lalu, bukan berarti lupa peristiwa tersebut, tetapi meninggalkan luka dan menatap ke depan," kata dia lagi.
Ia mengatakan saat Timor Leste (dulu Timor Timur) memutuskan berpisah dari Indonesia, dia dikritik oleh berbagai pihak.
"Ya masa transisi sejak lepas Indonesia sangat sulit, saya dikritik oleh berbagai pihak, tetapi Timor Leste berusaha menghadapi masa lalunya. Sejarah itu meski kelam tetap kami ceritakan kepada anak sekolah agar tidak terulang pada masa depan," katanya pula.
Pada era Joko Widodo dan Jusuf Kalla, pemerintah berkomitmen untuk menyelesaikan kasus-kasus HAM berat yang terjadi di Indonesia, termasuk tragedi 1965-1966 yang memakan korban sekitar 500 ribu jiwa.
Tidak hanya itu, pemerintah juga ingin menyelesaikan kasus HAM yang terjadi di Papua. Ramos Horta juga diundang oleh Kemenko Politik, Hukum dan Keamanan ke Papua untuk mendengarkan masalah-masalah yang terjadi di Papua.
Dia sempat bertemu Gubernur Jayapura, tokoh masyarakat serta Kapolda Papua pada 2 Mei lalu. (Antara)
Berita Terkait
-
YPKP 65 Apresiasi Janji Luhut akan Investigasi 122 Kuburan Massal
-
Menkopolhukam Janji Investigasi Kuburan Massal Tragedi 1965
-
Kuburan Tragedi 1965 akan Ditelusuri untuk Hitung Jumlah Korban
-
Fadli Zon: Pemerintah Tak Boleh Minta Maaf ke PKI
-
Ditemui Tokoh Anti PKI, Fadli Zon Ingin Pemerintah Belajar '65
Terpopuler
- Jakarta Siap Pungut Pajak Mobil Listrik Tahun Ini, Kendaraan Mewah Kena hingga 75% PKB
- Dokter Tifa Menang, Sidang Kasus Ijazah Jokowi Resmi Dihentikan
- 6 Shio Paling Beruntung pada 23 Juli 2026, Keberuntungan Memihak
- Resmi Daftar Kemenkum, Partai Gerakan Rakyat Pastikan Usung Anies Baswedan Capres
- 5 Warna Lipstik Wardah untuk Bibir Hitam dan Kulit Sawo Matang
Pilihan
-
Febrie Adriansyah Resmi Ditahan Kejagung, Teriak Kriminalisasi Saat Digiring ke Mobil Tahanan
-
Takut Lumpuh, Hotman Paris Pilih Mundur Jadi Pengacara Febrie Usai Pijit di Bojong Gede Tak Mempan
-
Saraf Terjepit, Hotman Paris Putuskan Mundur Jadi Kuasa Hukum Eks Jampidsus Febrie Adriansyah
-
Dokter Tifa Menang, Sidang Kasus Ijazah Jokowi Resmi Dihentikan
-
Menang Lima Gol, Timnas Putri Indonesia Back to Back Juara AFF Women's Cup 2026
Terkini
-
Jangan Anggap Sepele Nyeri Pinggang Mendadak, Bisa Jadi Tanda Batu Saluran Kemih
-
Motul Perluas Jangkauan di Jawa Barat, Dorong Pertumbuhan Ekosistem Otomotif Nasional
-
Igor Tolic Beberkan Faktor X yang Bikin Persib Hajar Arema di Piala Presiden 2026
-
Naik Kereta untuk Liburan? Jangan Lupa Siapkan Antisipasi Jika Jadwal Berubah
-
Febrie Adriansyah Ditahan di Rutan KPK, Koalisi Sipil Desak Pengusutan Tuntas Tanpa Intervensi
-
MAXI Yamaha Day Jabar 2026 Pikat Komunitas dengan Budaya dan Alam Kuningan
-
Gap antara Kampus dan Industri Masih Lebar, Mahasiswa Bisa Rugi Kalau Tak Bersiap
-
Hanya Gara-gara Colokan Kabel, Bisnis MUA di Tuban Kebakaran Rugi Rp400 Juta
-
Tangis Ayah untuk NH, Dugaan Perundungan yang Berulang, Bocah Kelas 3 SD Meninggal
-
Gunung Anak Krakatau Erupsi Dua Kali: Abu Hitam Pekat Selimuti Langit Selat Sunda