- PDIP memutuskan mengambil peran sebagai penyeimbang dalam pemerintahan Presiden Prabowo, bukan sebagai oposisi formal.
- Posisi penyeimbang memungkinkan PDIP mendukung program pro-rakyat sambil tetap mengkritik kebijakan yang tidak sejalan.
- Menurut kader, sistem presidensial Indonesia tidak mengenal istilah oposisi, sehingga pilihannya adalah di dalam atau di luar pemerintahan.
Suara.com - Teka-teki sikap politik PDI Perjuangan (PDIP) di era pemerintahan Presiden Prabowo Subianto akhirnya terjawab dengan satu kata, penyeimbang. Namun, pilihan kata ini memicu pertanyaan, apa bedanya dengan oposisi, dan bukankah ini sikap yang mendua?
Kader Muda PDIP, Aryo Seno Bagaskoro, menegaskan bahwa pilihan untuk menjadi penyeimbang adalah keputusan rasional yang telah dipikirkan secara matang, bukan sikap abu-abu.
Ia lantas menjelaskan, posisi ini memungkinkan PDIP untuk tetap objektif, mendukung program yang pro-rakyat, sekaligus mengkritik kebijakan yang dianggap tidak sejalan dengan kepentingan publik.
PDIP memastikan tidak akan menjadi penghalang buta bagi pemerintahan. Jika ada program yang dinilai baik dan bermanfaat bagi masyarakat, partai berlambang banteng ini justru akan berada di garda terdepan untuk mendukungnya.
"Bahwa hal-hal yang baik, program-program yang baik, capaian yang baik kami harus dukung, itu kami rasa sebagai satu bentuk rasionalitas politik," kata Seno di sela Rakernas ke-5 PDIP di Beach City International Stadium (BCIS), Ancol, Jakarta Utara, Minggu (11/1/2026).
Bukan Oposisi, Ini Logika Konstitusinya
Lalu, mengapa tidak sekalian mendeklarasikan diri sebagai oposisi? Seno memberikan penjelasan mendalam dari sudut pandang sistem ketatanegaraan Indonesia. Menurutnya, konsep "oposisi" tidak dikenal dalam sistem presidensial yang dianut Indonesia.
Istilah oposisi, kata Seno, lebih relevan dalam sistem parlementer di mana ada blok pemerintah dan blok penentang yang jelas. Dalam logika oposisi, apa pun yang dilakukan pemerintah akan selalu dianggap salah karena tujuannya adalah menjadi antitesis.
"Di dalam konstitusi kita, kita tidak mengenal yang namanya oposisi karena kalau kita pakai sistem secara berpikir oposisi, apa pun yang dilakukan pemerintah pasti kami akan anggap salah. Karena tujuannya adalah ya sudah ini sebagai suatu bentuk cermin penggala, kami akan menjadi suatu bentuk antitesis," terang Seno.
Baca Juga: PSI Incar Jawa Tengah Jadi Kandang Gajah, Hasto PDIP Kasih Respons Santai, Begini Katanya
Ia menegaskan bahwa dalam sistem presidensial, pilihannya sederhana, berada di dalam atau di luar pemerintahan. PDIP memilih untuk berada di luar, namun dengan peran aktif sebagai penyeimbang.
"Tetapi logikanya di dalam pemerintahan Indonesia yang menganut asas presidensial maka tidak ada oposisi. Maka sebetulnya kalau ditarik lagi logikanya, tidak ada koalisi. Yang ada adalah di dalam atau di luar pemerintahan," sambung Seno.
Dengan posisi ini, PDIP memposisikan diri sebagai mitra kritis sekaligus mitra strategis bagi pemerintahan Prabowo. Mereka akan memberikan dukungan pada saat-saat genting jika visi pemerintah sejalan dengan ideologi kerakyatan.
"Sehingga pada saat-saat penting, saat-saat genting, kami tentu akan mengambil suatu sikap yang langsung itu mendukung visi dari pemerintah presiden apabila visinya itu kemudian punya napas ideologi yang berpihak kepada rakyat," kata Seno.
Bukti Konkret Sikap Tidak Mendua
Untuk menepis tudingan bersikap mendua, politikus PDIP Guntur Romli menantang publik untuk melihat rekam jejak partai selama ini. Menurutnya, sikap sebagai penyeimbang sudah dipraktikkan dan terbukti konsisten.
Guntur menegaskan bahwa menjadi penyeimbang bukan berarti mendukung semua kebijakan pemerintah. Ia lantas membeberkan sejumlah sikap tegas PDIP yang sering kali berseberangan dengan kekuatan politik mayoritas.
"Yang mungkin sekarang masih banyak yang bertanya, apakah ini sikap yang mendua atau apa pun? Tapi bisa dicek sendiri bagaimana sikap PDI Perjuangan sendiri selama ini," kata Guntur.
"Misalnya isu penolakan Soeharto menjadi pahlawan, nuntut bencana di Sumatra menjadi bencana nasional, dan saat ini sendirian mendukung Pilkada secara langsung dan menolak Pilkada melalui DPRD. Itulah sikap dari PDI Perjuangan," sambung Guntur.
Berita Terkait
-
PSI Incar Jawa Tengah Jadi Kandang Gajah, Hasto PDIP Kasih Respons Santai, Begini Katanya
-
Rakernas I 2026: PDIP Bakal Umumkan Sikap Resmi Terkait Wacana Pilkada di Akhir Acara
-
Megawati di HUT ke-53 PDIP: Politik Adalah Alat Pengabdian, Bukan Sekadar Kejar Jabatan
-
Megawati Dorong Politik Berbasis Kearifan Lokal: Peradaban Diukur dari Cara Menghormati Bumi
-
Instruksi Tegas Megawati di HUT ke-53 PDIP: Kader Wajib Jaga Alam, Hingga Lawan Keserakahan
Terpopuler
- Bedak Tabur atau Bedak Padat Dulu? Panduan Makeup Flawless Tahan Lama
- 4 Sabun Cuci Muka yang Bagus untuk Memutihkan Sesuai Review Pembeli
- 4 Shio yang Menarik Keberuntungan 12 Juli 2026, Masa Sulit Diprediksi Berakhir
- Aisyah Zakkiyah, Komisaris Baru PTPP yang Viral Punya Gaji dan Tunjangan Miliaran
- Bedak Tabur Apa yang Bikin Glowing dan Tahan Lama? Ini 5 Rekomendasi sesuai Review dan Harga
Pilihan
-
Ada Ancaman Teror Bom, Seluruh Siswa dan Guru SDN 15 Srengseh Sawah Dipulangkan
-
Hari Pertama Sekolah Mencekam! SDN Srengseng Sawah 15 Diteror Bom, Gegana dan Densus 88 Turun Tangan
-
Iran Luncurkan Serangan Balasan ke Amerika, Serbuan Drone Meluncur
-
Garda Revolusi Iran Tutup Lagi Selat Hormuz Sampai Batas Waktu Tak Ditentukan
-
Jadi Tersangka Bareng Eks Jampidsus Febrie, Don Ritto Sudah Ditahan di Rutan Polda Metro Jaya
Terkini
-
Gubernur Bobby Nasution Tegaskan Komite Sekolah Jangan Jadi Beban Peserta Didik
-
Bukan Emas Biasa, KPK Ajak Ahli Antam dan Pegadaian Cek 55 Kg Platinum Bupati Langkat
-
Asabri hingga PLTU, 3 Kasus yang Jerat Eks Jampidsus Febrie Sebabkan Negara Rugi Rp34,6 Triliun!
-
Hindari Kesan Tebang Pilih, Kejagung Diminta Tak Beri Perlakuan Khusus pada Febrie Adriansyah
-
Kebakaran Maut Bar di Bangkok Tewaskan 27 Orang, KBRI: Tidak Ada Korban WNI
-
Niat Selamatkan Surat Berharga, Detik-detik Nenek di Pulogadung Tewas Terbakar Bersama Anak dan Cucu
-
Cegah Konflik Kepentingan, Legislator Desak Perombakan Penyidik Jampidsus di Kasus Febrie Adriansyah
-
Jalan Kebon Sirih Menyempit Jadi Dua Lajur, Kemacetan Mengular Hampir 1 Kilometer
-
Hinca Panjaitan Tegaskan Penyerahan Kasus Febrie Adriansyah ke Kejagung Tak Tabrak KUHAP
-
Jangan 'Jeruk Makan Jeruk!', DPR Minta Kasus Eks Jampidsus Febrie Tak Ditangani Mantan Anak Buahnya