Suara.com - Lima petugas kepolisian Dallas, Amerika Serikat, pada Jumat (8/7/2016), tewas sementara enam lainnya luka-luka dalam unjuk rasa memprotes penembakan yang menewaskan dua lelaki kulit hitam oleh polisi di Oakland, pekan ini. Pelaku penembak polisi belum teridentifikasi.
Polisi menahan tiga orang sesudah penyergapan penembakan pada Kamis malam, yang polisi gambarkan direncanakan dan dilaksanakan dengan hati-hati.
Polisi berada dalam kebuntuan berkepanjangan hingga Jumat pagi dengan tersangka lain di garasi pusat kota, tempat terjadi baku tembak, kata pejabat.
Pejabat Gedung Putih berbicara dengan Wali Kota Dallas Mike Rawlings tentang penembakan itu, yang mengubah pusat kota salah satu kota terbesar Amerika Serikat itu menjadi tempat besar sebaran kejahatan dan membuka sepanjang jalan tempat perusahaan besar, rumah makan dan gedung pengadilan.
Presiden Barack Obama, yang mengunjungi Polandia, diberi tahu, kata juru bicara.
Belum ada keterangan tentang alasan serangan penembak gelap di unjuk rasa pusat kota itu, salah satu dari yang banyak diadakan di kota besar di seluruh Amerika Serikat pada Kamis.
Polisi New York melakukan lebih dari selusin penangkapan pada Kamis malam, sementara pengunjuk rasa secara singkat menutup salah satu jalan utama Chicago.
Kepala polisi Dallas, David Brown, menyatakan penembak itu, beberapa di ketinggian, menggunakan senapan penembak gelap dalam menyasar petugas dalam yang tampaknya serangan tergalang.
"Mereka bekerja dengan senapan, segitiga di ketinggian di titik berbeda di pusat kota tempat unjuk rasa berakhir," kata Brown dalam jumpa pers, dengan menambahkan bahwa satu warga juga terluka.
"Ini menjadi malam mengerikan. Kami dengan sedih melaporkan bahwa petugas kelima meninggal," kata polisi Dallas di Twitter.
Terburuk Wali Kota Rawlings menyarankan warga menjauh pada Jumat pagi saat polisi menyisir daerah tempat wilayah luas dikepung dan pengangkutan dihentikan. Pejabat pusat juga menghentikan lalu lintas udara niaga daerah itu ketika helikopter polisi melayang di atas tempat tersebut.
"Mimpi terburuk kami terjadi," kata wali kota itu, "Ini adalah saat memilukan bagi kota Dallas." Daerah kota besar Dallas-Fort Worth adalah salah satu tempat terpadat di negara itu dan ditinggali lebih dari tujuh juta orang.
Penggunaan kekerasan oleh polisi terhadap warga Amerika Serikat-Afrika di kota dari Ferguson, Missouri, ke Baltimore sampai New York memicu unjuk rasa, yang kadang-kadang keras, dalam dua tahun belakangan dan melahirkan gerakan Masalah Nyawa Hitam.
Kemarahan melonjak ketika petugas terlibat dalam kejadian seperti itu dibebaskan dalam pengadilan atau tidak diperkarakan sama sekali.
Penembakan itu terjadi saat unjuk rasa sebagian besar damai terjadi di seluruh Amerika Serikat sesudah penembakan Philando Castile, 32, oleh polisi di dekat St. Paul, Minnesota, Rabu malam. Pacarnya menayangkan video langsung adegan berdarah itu di Internet beberapa menit sesudahnya, yang ditonton secara luas.
Tersangka dalam ketegangan Texas itu mengatakan kepada polisi bahwa akhirnya datang dan lebih banyak polisi akan terluka dan tewas.
Brown mengatakan, tersangka itu juga mengatakan kepada polisi bahwa ada bom di semua tempat di garasi tersebut dan pusat kota.
Polisi mengatakan menanyai dua penumpang Mercedes, yang mereka berhentikan setelah kendaraan itu melesat di jalan pusat kota dengan seorang pria melemparkan tas disamarkan ke bagian belakang mobil itu. Seorang wanita juga ditahan di dekat garasi tempat kebuntuan itu berlangsung.
"Kami sangat berhati-hati dalam bertindak agar tidak melukai petugas kami atau menempatkan mereka dalam bahaya. Kami belum sepenuhnya nyaman dengan semua tersangka tertangkap," kata Brown.
"Kami terbuka bagi setiap alasan tentang mengapa ini terjadi dan bagaimana itu terjadi," kata Brown.
Rawlings kemudian mengunjungi yang terluka di rumah sakit Parkland, rumah sakit sama tempat Presiden John F Kennedy dilarikan sesudah ditembak di Dallas pada November 1963.
Tayangan televisi menunjukkan kehadiran besar polisi, dengan petugas berlindung di balik kendaraan di jalan.
Salah satu petugas tewas diketahui bernama Brent Thompson, 43, petugas di Angkutan Cepat Daerah Dallas. (Antara/Reuters)
Tag
Terpopuler
- 5 Rekomendasi Serum Malam untuk Hempas Flek Hitam Usia 50 Tahun ke Atas
- Kecil tapi Lega: Hatchback Bermesin Avanza Kini Cuma 50 Jutaan, Makin Layak Dilirik?
- Promo JCO Mei 2026, Paket Hemat Donat dan Kopi yang Sayang Dilewatkan
- Work to Run: 5 Sepatu Lari Hitam Polos yang Tetap Rapi di Kantor dan Nyaman Dipakai Lari
- 5 HP Redmi RAM 8 GB Memori 256 GB Termurah di Bawah Rp1,5 Juta, Spek Juara
Pilihan
-
Bejatnya Kiai Cabul Ashari di Pati: Ngaku Keturunan Nabi hingga Istri Orang Bebas Dicium
-
Mengungkap Jejak Pelarian Kiai Cabul Pati: Terendus Ritual di Kudus, Kini Raib Bak Ditelan Bumi
-
Diterpa Kontroversi dan Dilaporkan ke Bareskrim Terkait Ceramah JK, Ade Armando Mundur dari PSI
-
Lolos Blokade AS! Kapal Tanker Iran Rp 3,8 T Menuju Riau, Kemlu RI: Tak Langgar Hukum
-
Kapal Perang AS Dihantam 2 Rudal karena Coba Masuk Selat Hormuz, Klaim Iran
Terkini
-
Letjen TNI Agus Widodo Dikabarkan Resmi Jabat Wakil Kepala BIN, Gantikan Komjen Imam Sugianto
-
Nyawa di Ujung Shift: Mengungkap Jam Kerja Tak Manusiawi Dokter Internship dan Regulasi Kemenkes
-
Sama dengan TNI, Prabowo Batasi Jabatan Anggota Polri di Luar Institusi
-
Komitmen ESG Meningkat, Mengapa Data Logistik Masih Jadi Tantangan di Lapangan?
-
KPK Ingatkan Tunjangan Hakim Ad Hoc Harus Beriringan dengan Perbaikan Sistem Peradilan
-
AI Diklaim Bisa Jadi Solusi Mitigasi Banjir Rob dan Krisis Air Bersih, Gimana Caranya?
-
Indonesian Proposal Jadi Fokus Pertemuan Indonesia dan United Kingdom Intellectual Property Office
-
Idul Adha 2026 Tanggal Berapa? Penetapan Versi Muhammadiyah dan Pemerintah Diprediksi Sama
-
33 Tahun Kasus Marsinah Stagnan, Aktivis: Keadilan Tidak Bisa Digantikan Seremoni Gelar Pahlawan!
-
Daftar Harga Kambing Kurban 2026 Terbaru Mulai Rp1 Jutaan, Cek Rekomendasinya di Sini!