News / Nasional
Selasa, 05 Mei 2026 | 21:31 WIB
Ilustrasi ESG. [Dok Pexels].
Baca 10 detik
  • Perusahaan di Indonesia masih kesulitan menerapkan strategi keberlanjutan karena minimnya visibilitas data operasional yang akurat dan real-time.
  • Penggunaan teknologi Internet of Things menjadi solusi penting untuk mengoptimalkan kinerja armada serta memantau emisi karbon secara efektif.
  • TransTRACK mengadakan pelatihan pada 8 Mei 2026 guna meningkatkan kompetensi profesional dalam mengelola data untuk operasional rantai pasok berkelanjutan.

Suara.com - Di tengah tekanan penurunan emisi karbon dan efisiensi biaya logistik, banyak perusahaan di Indonesia masih tersendat pada satu persoalan mendasar,  eksekusi berbasis data. Meski komitmen terhadap prinsip Environmental, Social, and Governance (ESG) kian meluas, implementasi di lapangan belum sepenuhnya berjalan efektif.

Sejumlah perusahaan bahkan masih berada pada tahap awal integrasi data operasional. Dampaknya, proses pengambilan keputusan, terutama terkait efisiensi armada dan pengurangan emisi, kerap tidak akurat dan sulit diukur. Inefisiensi pun terus berulang, mulai dari rute distribusi yang tidak optimal hingga kendaraan yang terlalu lama berada dalam kondisi idle.

Founder & CEO TransTRACK, Anggia Meisesari, menegaskan bahwa persoalan utama saat ini bukan lagi soal kesadaran akan pentingnya keberlanjutan.

“Saat ini tantangan terbesar dalam implementasi sustainability supply chain bukan lagi pada awareness, tetapi pada eksekusi berbasis data. Banyak perusahaan sudah memiliki komitmen ESG, tapi belum memiliki visibilitas data yang cukup untuk mengidentifikasi sumber inefisiensi dan emisi secara real-time,” ujarnya.

Minimnya visibilitas data membuat banyak perusahaan kesulitan mengidentifikasi titik-titik pemborosan dalam operasional. Tanpa data yang akurat dan real-time, strategi keberlanjutan kerap berhenti sebagai rencana, tanpa mampu diterjemahkan menjadi aksi konkret yang berdampak.

Kondisi ini juga berdampak langsung pada upaya penurunan emisi karbon. Tanpa sistem pemantauan yang terukur, perusahaan tidak hanya kesulitan menekan emisi, tetapi juga tidak memiliki dasar yang kuat untuk mengevaluasi kebijakan yang telah dijalankan.

Untuk menjawab tantangan tersebut, pendekatan berbasis teknologi mulai didorong, salah satunya melalui pemanfaatan sistem manajemen armada berbasis Internet of Things (IoT). Sistem ini memungkinkan pemantauan performa kendaraan secara real-time, sekaligus membantu perusahaan mengidentifikasi sumber inefisiensi dan menghitung emisi karbon berdasarkan aktivitas operasional.

Namun, mereka menilai bahwa adopsi teknologi saja tidak cukup. Kesiapan sumber daya manusia tetap menjadi faktor krusial dalam memastikan data dapat diolah menjadi keputusan yang tepat.

Sebagai bagian dari upaya tersebut, perusahaan tersebut melalui TransTRACK Academy menggelar Mini Bootcamp Sustainable Supply Chains pada 8 Mei 2026. Program ini dirancang berbasis studi kasus untuk mendorong pemahaman aplikatif, sekaligus membantu para profesional menerjemahkan strategi keberlanjutan berbasis data ke dalam praktik operasional sehari-hari.

Baca Juga: 5 Realita Pahit Krisis Air di TTS NTT: Dari Ancaman Stunting hingga Beban Berat Anak Perempuan

Load More