News / Internasional
Senin, 18 Juli 2016 | 05:41 WIB
Polisi bersenjata lengkap berjaga-jaga di lokasi kejadian penembakan yang menewaskan tiga anggota polisi Baton Rouge, Lousiana AS, Minggu (17/7). (Reuters/Joe Penney)

Suara.com - Seorang lelaki bersenjata menembak mati tiga polisi dan melukai tiga orang lainnya di ibukota Louisiana, Amerika Serikat Minggu (17/7/2016). Kejadian ini terjadi hanya beberapa hari setelah polisi menembak seorang lelaki kulit hitam di daerah itu dan memicu protes nasional yang menyebabkan 'pembantaian' lima polisi Dallas.

Para petugas itu menanggapi panggilan dari seorang lelaki di Baton Rouge yang membawa senjata ketika tembakan dilepaskan sekitar pukul 09:00 waktu setempat (1400 GMT).

Korban tewas adalah dua petugas polisi Baton Rouge dan satu wakil sheriff. Pelaku kemudian juga tewas dalam baku tembak dengan polisi. Ia sempat menembaki kelompok pertama.

Kolonel Mike Edmonson, pengawas dari Kepolisian Negara Bagian Louisiana, dalam keterangannya mengatakan  bahwa tersangka, yang diidentifikasi sebagai Gavin Long dari Kansas City, Missouri, diyakini telah beraksi sendirian.

Penyidik ​​menduga panggilan darurat 911 mungkin telah digunakan untuk menarik polisi ke lokais kejadian perkara.

Belum jelas apakah ada hubungan antara penembakan dan kerusuhan baru-baru terkait pembunuhan polisi laki-laki hitam di Baton Rouge dan Minnesota. Pihak berwenang tidak memberikan informasi apapun tentang kemungkinan motif si penembak.

Presiden Barack Obama mengutuk serangan itu, bersumpah bahwa keadilan akan ditegakkan  dan meminta warganya bersatu daripada terjebak dalam retorika yang bisa memecah-belah.

"Kita sebagai bangsa harus tegas dan jelas bahwa tidak membenarkan kekerasan pada penegakan hukum," kata Obama dalam sambutannya dari Gedung Putih.

Gubernur Louisiana John Bel Edwards menyebut penembakan ini sebagai sebuah serangan keji  yang tidak akan mempunyai tujuan. (Reuters)

Load More