News / Internasional
Selasa, 10 Maret 2026 | 20:38 WIB
Ilustrasi mortir Hizbullah [Istimewa]
Baca 10 detik
  • Putra Menkeu Israel, Benya Hebron, terluka serius akibat serangan mortir di perbatasan Lebanon pada Jumat, 6 Maret 2026.
  • Serpihan mortir merobek hati Benya dan nyaris mengenai pembuluh darah utama, berbeda dengan laporan media Israel sebelumnya.
  • Insiden ini terjadi di tengah meningkatnya ketegangan antara Israel dan Hizbullah di sepanjang perbatasan utara kedua negara.

Suara.com - Putra Menteri Keuangan Israel, Benya Hebron mengalami luka serius setelah serangan mortir yang menyasar pasukan Israel di perbatasan Lebanon.

Menkeu Israel, Bezalel Smotrich mengungkapkan bahwa putranya, Benya termasuk di antara delapan tentara yang terkena serangan tersebut.

Serangan itu terjadi pada Jumat, 6 Maret 2026, saat pasukan Israel berada di wilayah perbatasan Lebanon.

“Serpihan mortir menembus punggung dan perutnya,” tulis Smotrich melalui akun X miliknya, Selasa (10/3/2026).

Smotrich menjelaskan putranya langsung dilarikan ke rumah sakit untuk mendapatkan perawatan darurat.

Menurut Smotrich, hasil pemeriksaan dokter menunjukkan serpihan ledakan tersebut merobek bagian hati putranya dan berhenti sangat dekat dengan pembuluh darah terbesar di perut.

“Jika pembuluh darah itu sampai rusak, kondisinya bisa jauh lebih parah dan bahkan mengancam nyawa,” katanya.

Pernyataan dari Smotrich ini membantah pemberitaan dari media Israel KAN, melaporkan bahwa kondisi putra Smotrich tidak serius. “Cedera yang dialami tergolong ringan,” demikian laporan KAN.

Sementara itu menurut laporan media Turki, Anadolu Ajansi, insiden serangan kepada militer Israel terjadi di sepanjang perbatasan utara yang berbatasan langsung dengan Lebanon.

Baca Juga: Duet ASIsrael Tak Kunjung Sukses Atasi Serangan Balik Iran, 'Epic Fury' Diledek Jadi 'Epic Failure'

KAN menyebutkan bahwa bentrokan terjadi di area perbatasan Lebanon, namun tidak menjelaskan secara rinci lokasi tepatnya.

Smotrich menambahkan bahwa beberapa rekan satu unit putranya juga mengalami luka serius akibat serangan tersebut.

Sebagai anggota kabinet yang ikut mengambil keputusan militer, Smotrich mengaku sangat menyadari konsekuensi berat dari perang.

“Setiap keputusan menyangkut hidup dan mati para tentara, termasuk anak saya sendiri dan tentara Israel lainnya yang saya anggap seperti anak saya,” katanya.

Ketegangan antara Israel dan Hizbullah dalam beberapa hari terakhir kembali meningkat tajam. Militer Israel melancarkan serangan udara dan artileri ke sejumlah wilayah di Lebanon selatan dan timur.

Target serangan disebut sebagai infrastruktur militer milik Hezbollah.

Load More