Suara.com - Politikus PDI Perjuangan Henry Yosodiningrat mempertanyakan kebenaran cerita terpidana mati kasus narkoba Freddy Budiman yang ditulis oleh Koordinator Komisi untuk Orang Hilang dan Korban Tindak Kekerasan Haris Azhar dengan judul 'Cerita Busuk dari Seorang Bandit'.
Pendiri Gerakan Nasional Anti Narkotika ini mengatakan pernyataan Freddy perlu dipertimbangkan kebenarannya. Apalagi, Freddy adalah bandar sekaligus pemadat narkoba.
"Pertama, yang bercerita adalah Freddy Budiman, orang yang kita tahu sendiri tindak pidana yang dia lakukan, bagaimana jahatnya dia. Bagaimana bila dia juga sebagai pengguna tingkat berat, (pernyataan) itu bisa saja ngaco, halusinasi, dan sebagainya. Sosok itu yang menimbulkan keraguan untuk mempercayai kebenarannya," kata Henry saat dihubungi, Kamis (4/8/2016).
Selain itu, Henry juga mempertanyakan mengenai waktu pengungkapan informasi ini oleh Haris yang mendekati waktu eksekusi Freddy. Padahal, informasi Haris ini didapat sejak 2014 lalu. Meskipun Haris beralasan tidak mau mengungkapkan pada tahun 2014 karena berbarengan dengan Piplres 2014.
"Saya nggak bisa menilai alasan itu, tapi kenapa baru sekarang? Kemudian setelah dikonfirmasi kepada pihak yang dimaksud, ternyata semua menyangkal dan tidak ada buktinya," tutur Hendry.
Dalam tulisan Haris, Freddy mengaku memiliki beking dalam menjalankan bisnis narkobanya. Beking ini meliputi dari instansi TNI, Polri, BNN dan Bea Cukai. Kesemuanya, mendapatkan bayaran dari Freddy mencapai miliaran rupiah.
Menurutnya, bila benar apa yang dikatakan Freddy, itu semua bisa dibuktikan dengan menelusuri kurun waktu dan tokoh-tokoh yang dekat dengan Freddy.
Henry menambahkan, jika memang ada kebenaran dari cerita Freddy ini, maka keburukan itu harus disapu secara bersih tanpa pandang bulu.
"Tapi kalau sebaliknya, harus dibersihkan nama baik mereka yang kecipratan selama ini. Bahwa Polri, TNI, dan BNN, melaporkan itu sah-sah saja," kata dia.
Henry menilai, tulisan Haris adalah langkah yang gegabah. Apalagi, pengakuan Haris, tanpa ada bukti yang otentik.
"Iya dong (gegabah). Karena ini bukan menyangkut oknum tapi institusi," kata Anggota Komisi II DPR RI ini.
Berita Terkait
Terpopuler
- Dicukur Timnas Indonesia 5-1, Pemain Naturalisasi Kamboja Jadi Sasaran Kemarahan Fans
- 4 Serum Wardah untuk Mengecilkan Pori, Kulit Halus dan Mulus Bertahap
- Daftar Harga Motor Listrik dengan Subsidi Pemerintah, Ada yang Cuma Rp5 Jutaan!
- Nasib Berubah, Ini 4 Shio yang Panen Keberuntungan dan Rezeki pada 29 Juli 2026
- Siapa Ipda Ambarita? Ini Profil Polisi yang Viral Saat Pengamanan Bentrok Matraman
Pilihan
-
Kematian Sutrimo dan Rangkaian Kejanggalan yang Muncul dari Kampung Halaman
-
Pengintai Misterius dan CCTV Mendadak, Kejanggalan di Rumah Sutrimo
-
Banyak Air Galon Isi Ulang di Bangka Barat Belum Diuji, Amankah Dikonsumsi Setiap Hari?
-
Dicecar 23 Pertanyaan Penyidik KPK, Ini Kata Plt Bupati Sukoharjo
-
Cuma Sisa Rp200 Juta! Perampok Rp1,2 Miliar di Kalideres Diciduk Usai Habiskan 1 M Dalam 8 Hari
Terkini
-
Jika Tim 9 Gagal, KPK Disebut Wajib Ambil Alih Kasus Febrie Adriansyah
-
Sungai Cileungsi Menghitam, DLH Bogor Gandeng Polda Jabar Bidik 5 Perusahaan
-
Diperiksa Kejagung Terkait Dugaan Kasus, Kekayaan Kasi Pidsus Bogor Capai Rp6,1 Miliar Tanpa Utang
-
Kembalikan Hak Pejalan Kaki, Satpol PP Bandung Ratakan 36 Bangunan Liar di Jalan Rajiman
-
Sempat Sebut PDIP, Ustaz Das'ad Latif Edit Unggahan soal Putusan MK Larang Dana Pendidikan untuk MBG
-
Kejagung Bongkar Alasan Periksa Tan Kian dan Ferry Boboho di Kasus Febrie Adriansyah
-
Alasan Keselamatan, Kejagung Titipkan Ferry Boboho Saksi Kunci Kasus TPPU Febrie Adriansyah ke LPSK
-
Angela Tanoesoedibjo Apresiasi Legislator yang Dinilai Berdampak bagi Masyarakat
-
Arus Peti Kemas IPC TPK Panjang Melonjak 73,7 Persen
-
Gandeng TP PKK Hingga Tingkat RT, Bupati Bogor Rudy Susmanto Pacu Kesejahteraan Warga