Suara.com - Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Mendikbud) Muhadjir Effendy menilai perlu dibangun sekolah dengan fasilitas asrama (boarding school) di daerah perbatasan. Itu dilakukan agar pendidikan di daerah itu kualitasnya tidak kalah dengan negara tetangganya.
"Selama ini pemerintah daerah di kawasan perbatasan belum menggarap masalah pendidikan ini dengan maksimal. Sehingga perlu diambil alih pemerintah pusat, termasuk para pengajarnya. Untuk iu perlu dibangun semacam 'boarding school' di daerah perbatasan tersebut," kata Mendikbud di sela kunjungannya di Universitas Negeri Malang (UNM), Minggu (7/8/2016).
Masalah pendidikan di daerah perbatasan menjadi bahasan pokok dalam diskusi antara Mendikbud dengan jajaran Rektorat UM yang diwakili Wakil Rektor I UNM, Haryono.
Pada awalnya diskusi itu membahas mengenai Sarjana Mendidik di Daerah Terdepan Terluar Dan Tertinggal (SM3T) namun berkembang membahas berbagai hal terkait pendidikan di Tanah Air ke depan. Untuk pendidikan ke depan, Mendikbud minta UM dan Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) untuk membuat platform pendidikan ideal di Indonesia.
Saat ini, lanjut Muhadjir, kabinet fokus pada ketidakmerataan pendidikan, bahkan Presiden Joko Widodo minta tidak hanya dilakukan reformasi, tetapi perubahan radikal, termasuk bagaimana membangun pendidikan di daerah perbatasan dengan negara lain.
Selain membahas pendidikan di daerah perbatasan, Mendikbud juga mendapat masukan soal keberadaan guru yang menjadi komoditas politik pada saat ada pemilihan umum daerah (Pilkada).
Masukan itu antara lain mengenai dampaknya pada guru yang tidak mendukung calon tertentu, karena status mereka sebagai PNS daerah, meski gaji mereka dari pusat. Sementara itu Haryono mengatakan akan menindaklanjuti berbagai topik diskusi dan permintaan Mendikbud tersebut.
"Untuk merealisasikan itu semua diperlukan konsep holistik. Namun yang pasti UM akan membantu, termasuk gagasan 'full day school' Senin hingga Jumat dan Sabtu libur," katanya.
Pada kesempatan itu Mendikbud juga menyampaikan permintaan maafnya kepada para pejabat dan seluruh civitas akademika UM, karena selama ini dirinya lebih dikenal sebagai Rektor UMM daripada sebagai dosen PLS (Pendidikan Luar Sekolah) di UNM.
"Saya minta maaf karena lebih dikenal sebagai Rektor UMM, namun setelah jadi menteri, akhirnya banyak yang tahu saya adalah warga UM. Saya rasa banyak yang ingin tahu siapa diri saya setelah presiden memilih saya menjadi menteri. Karena itu, rekam jejak saya sekarang banyak diketahui masyarakat, termasuk sebagai dosen UM," urainya. (Antara)
Tag
Berita Terkait
Terpopuler
- 5 Rekomendasi Motor Gigi Tanpa Kopling: Praktis, Irit, dan Tetap Bertenaga
- 5 Rekomendasi HP Layar Lengkung Murah 2026 dengan Desain Premium
- 5 Lipstik Ringan dan Tahan Lama untuk Usia 55 Tahun, Warna Natural Anti Menor
- Kenapa Angin Kencang Hari Ini Melanda Sejumlah Wilayah Indonesia? Simak Penjelasan BMKG
- 5 Sunscreen Jepang untuk Hempaskan Flek Hitam dan Garis Penuaan
Pilihan
-
Promo Suuegeerr Alfamart Jelang Ramadan: Tebus Minuman Segar Cuma Rp2.500
-
Menilik Survei Harvard-Gallup: Bahagia di Atas Kertas atau Sekadar Daya Tahan?
-
ESDM: Harga Timah Dunia Melejit ke US$ 51.000 Gara-Gara Keran Selundupan Ditutup
-
300 Perusahaan Batu Bara Belum Kantongi Izin RKAB 2026
-
Harga Emas Bisa Tembus Rp168 Juta
Terkini
-
Baru Tiba dari Luar Negeri, Prabowo Langsung Kumpulkan Menteri di Hambalang
-
Mayat Wanita Membusuk di Kali Pesanggrahan, Suami Histeris di TKP, Ada Apa?
-
Seskab Ungkap Percakapan Prabowo dan Zidane di Swiss, Bahas Rencana Besar?
-
Badan Geologi Ingatkan Longsor Susulan Masih Mengintai Cisarua, Ini Pemicunya
-
Percepatan Relokasi dan Tata Ruang Aman Jadi Fokus Mendagri Pascabencana
-
Langsung Ditelepon Prabowo, Menteri Trenggono Ungkap Kondisinya Usai Pingsan Saat Upacara
-
Bantah Tebang Pilih, Satgas Ungkap Proses di Balik Perintah Prabowo Sikat 28 Izin Perusahaan
-
Pengamat Nilai Pengacara Nadiem Tak Siap Hadapi Jaksa, Apa Alasannya?
-
Kasus Suami Jadi Tersangka Usai Bela Istri dari Jambret di Sleman, Ini Kronologi Versi Polisi
-
JPO 'Melayang' JIS-Ancol Bakal Jadi Ikon Baru Jakarta, Kapan Bisa Digunakan?