News / Metropolitan
Senin, 31 Oktober 2016 | 15:41 WIB

Suara.com - Ketua Umum PDI Perjuangan Megawati Soekarnoputri menyinggung aksi demonstrasi 'Bela Islam', Jumat (4/11/2016). Demo ini terkait dugaan penistaan agama yang dilakukan oleh Gubernur DKI Jakarta Basuki Tjahaja Purnama atau Ahok terhadap Al Quran Surat Al Maidah ayat 51.

Hal ini disampaikan saat meresmikan acara Pelatihan Mubaligh Kebanggsaan dengan tema 'Meneguhkan Islam Rahmah: Islam Nusantara Berkemajuan untuk Indonesia Raya' yang diselenggarakan Baitul Muslimin Indonesia, di Kantor DPP PDI Perjuangan, Menteng, Jakarta, Senin (31/10/2016).

"Kalau dengar, karena ini sudah bukan rumor lagi, di mana saja sudah diumumnkan, katanya tanggal 4 mau ada demo besar-besaran," ujar Mega dalam sambutannya.

Menurutnya, aksi demontrasi merupakan hak politik setiap warga negara yang ingin menyampaikan aspirasinya. Namun dia mempertanyakan aksi demonstrasi seperti apa yang dimaksud.

"Kalau urusan demo sebenarnya sejak zaman reformasi diizinkan. Sudah merupakan hak politik bagi mereka yang ingin menyampaikan aspirasi. Persoalannya demo seperti apa yang akan dilakukan," kata Mega.

Ia mengaku heran dengan persoalan yang menurutnya tidak membangun iklim yang kondusif, yang bisa menyebabkan kegaduhan.

"Loh ko persoalan satu orang, ributnya satu jagat, " jelasnya.

Tak hanya itu, presiden kelima itu meminta para demonstran yang akan menggelar demo untuk tidak berbuat onar.

"Kalau tanggal 4 November itu yang dikatakan, maaf akan jihad segala begini akan memasukkan orang yang akan bertindak kekerasan. Ini pemerintah Republik Indonesia tidak bisa diinjak begitu sja. Boleh kalau demo damai, tapi tidak bikin keonaran," ungkapnya.

Dalam acara tersebut dihadiri oleh calon wakil gubernur DKI Jakarta Djarot Saiful Hidayat, politisi PDI Perjuangan Hamka Haq, Ketua Pengurus Besar Nahdlatul Ulama Said Aqil Siradj, Sekretaris Umum Pengurus Pimpinan Pusat Muhammadiyah Abdul Mu'ti, Sekretaris Jeneral PDIP Hasto Kristiyanto dan mantan Ketua MPR Sidarto Danusubroto.

Load More