News / Nasional
Senin, 12 Desember 2016 | 19:55 WIB
Ilustrasi Jurnalis [shutterstock]

Suara.com - Wartawan Aljazair keturunan Inggris tewas setelah mogok makan enam bulan di Aljir menentang penahanannya karena menerbitkan tulisan, yang dianggap menyerang Presiden Abdelaziz Bouteflika, kata pejabat penjara dan pengacara.

Pegiat hak asasi mendesak kematian Mohamed Tamalt diselidiki. Kelompok "Wartawan Tanpa Batas" (RSF) mengatakan berita duka itu adalah "pukulan telak bagi semua pihak, yang memperjuangkan kebebasan informasi di Aljazair".

Wartawan lepas dan penulis blog berusia 42 tahun itu dinyatakan menderita infeksi paru-paru saat dirawat rumah sakit di Aljir pada Minggu, kata pihak penjara.

"Saya mengumumkan bahwa Mohamed Tamalt, wartawan, tewas di rumah sakit Bab el-Oued setelah mogok makan lebih dari tiga bulan dan tiga bulan koma," kata pengacaranya, Amine Sidhoum lewat Facebook.

Tamalt, yang tinggal di London, ditahan petugas Aljazair pada Juni karena menyiarkan informasi, yang dianggap mengancam pemerintah, lewat Facebook.

Sebelum sidang, ia ditahan atas tuduhan "menghina Presiden" dan "mencemari nama baik lembaga publik".

Pria itu pun divonis dua tahun penjara karena dianggap melawan petugas, kata pegiat "Human Rights Watch".

"Pengacaranya perlu mengetahui dan menerima berkas medis wartawan itu," kata Yasmine Kacha, direktur RSF wilayah Afrika Utara. 

"Permintaan maaf secara terbuka mesti dibuat, ditujukan ke keluarga wartawan itu dan penyelidikan terkait mesti segera digelar," tambahnya.

Petugas penjara mengatakan Tamalt dirawat di rumah sakit karena menderita infeksi paru-paru. Ia juga menerima perawatan rutin sejak pertama kali mogok makan pada akhir Juni. (Reuters/Antara)

Load More