News / Metropolitan
Kamis, 02 Februari 2017 | 17:17 WIB
Ketua Umum PBNU Said Aqil Siradj didampingi Sekretaris Jenderal PBNU Helmy Faishal Zaini memberikan keterangan di gedung PBNU, Jakarta, Kamis (17/11). [suara.com/Oke Atmaja]

Suara.com - Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama Said Aqil Siradj sudah memaafkan calon gubernur petahana Basuki Tjahaja Purnama (Ahok) terkait polemik sikap Ahok dan pengacara terhadap Ketua Umum Majelis Ulama Indonesia Ma'ruf Amin ketika menjadi saksi di persidangan dugaan penodaan agama.

"Kami sudah saling memaafkan, Ahok sudah minta maaf. Tapi Ahok yang rugi sendiri," ujar Said di kantor pusat PBNU, Jakarta Pusat, Kamis (2/2/2017).

Said hanya menyayangkan sikap Ahok dan tim pengacara yang cenderung tak menghormati Ma'ruf, padahal Ma'ruf sudah bersedia hadir.

"Ma'ruf kyai sepuh, simbol NU, simbol MUI, simbol ulama Indonesia, sangat disayangkan. Kedatangannya di pengadilan untuk menjadi saksi harus ditaati, dia datang sendiri, pada hal itu bisa diwakilkan, kan? Kenapa, karena dia ingin menegakkan keadilan seadil-adilnya, kita hargai dong, nggak bisa dilecehkan seperti itu," kata Said.

Untuk kembali menyejukkan suasana setelah situasi politik memanas selama dua hari terakhir, PBNU sudah bersikap. Dan semalam, Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman Luhut Binsar Panjaitan, Kepala Kepolisian Daerah Metro Jaya Inspektur Jenderal Mochamad Iriawan, dan Panglima Kodam Jaya Mayor Jenderal Teddy Lhaksmana sowan ke rumah Ma'ruf Amin di Koja, Jakarta Utara.

"Itu kan semalam Pak Luhut dan pangdam, dan kapolda. Hasil tadi malam, Pak Luhut, pangdam itu kan, clear," kata dia.

Setelah dikunjungi ketiga tokoh, Ma'ruf menyatakan memaafkan sikap Ahok.

Lain kali, Ahok disarankan untuk mengedepankan etika dan sopan santun.

"Seorang pemimpin harus santun, bicara hati-hati, mulutmu harimaumu," kata Said. [Linda Juliawanti]

Load More