- Ahok geram dicecar motif pelaporan kasus korupsi LNG Pertamina di persidangan.
- Basuki Tjahaja Purnama tegaskan pelaporan korupsi LNG demi selamatkan uang negara.
- Hakim tengahi ketegangan antara Ahok dan pengacara terdakwa korupsi LNG Pertamina.
Suara.com - Suasana persidangan kasus dugaan korupsi pengadaan Liquefied Natural Gas (LNG) PT Pertamina di Pengadilan Tipikor Jakarta Pusat, Senin (2/3/2026), mendadak tegang saat Basuki Tjahaja Purnama alias Ahok memberikan kesaksian.
Mantan Komisaris Utama Pertamina tersebut tidak dapat menyembunyikan kekesalannya saat dicecar tim penasihat hukum salah satu terdakwa, Hari Karyuliarto, mengenai motif di balik pelaporan kasus tersebut.
Ahok menegaskan bahwa tindakannya menyeret persoalan ini ke ranah hukum semata-mata dilakukan untuk melindungi perusahaan dari praktik korupsi.
“Saya paling benci jika ada korupsi di dalam institusi mana pun tempat saya berada,” tegas Ahok dengan nada tinggi di hadapan majelis hakim.
Mantan Gubernur DKI Jakarta ini menekankan komitmennya untuk bertindak tegas terhadap siapa saja yang berani menyalahgunakan keuangan negara.
“Saya sangat benci itu! Makanya akan saya sikat, akan saya lawan!” lanjutnya penuh penekanan.
Ketegangan bermula ketika pengacara terdakwa mempertanyakan pengetahuan Ahok mengenai realisasi pembayaran kontrak LNG Corpus Christi yang dimulai pada 2019. Pihak pengacara menuding Ahok memiliki maksud terselubung karena melaporkan kasus tersebut, padahal perusahaan diklaim sempat meraup keuntungan.
Mendengar tudingan tersebut, Ahok langsung membantah. Ia menyatakan bahwa laporannya didasarkan pada dokumen resmi dari jajaran direksi.
“Saya tidak punya niat menjadikan beliau tersangka. Jadi, jangan menuduh saya seperti itu,” sanggah Ahok di ruang sidang.
Baca Juga: Blak-blakan di Sidang, Ahok Cium Upaya 'Sembunyikan' Rugi Pengadaan LNG Pertamina ke Cucu Perusahaan
Ia bahkan menantang penasihat hukum untuk memanggil jajaran direksi jika meragukan keterangannya dalam Berita Acara Pemeriksaan (BAP).
“Jika meragukan, silakan panggil direksi sebagai saksi Anda. Tanyakan kepada mereka mengapa dalam laporan resmi rapat BOD-BOC disebutkan adanya potensi kerugian ratusan juta,” cetusnya.
Melihat tensi yang kian memanas, hakim ketua terpaksa mengintervensi perdebatan antara saksi dan penasihat hukum. Hakim meminta seluruh pihak untuk tetap tenang dan mengedepankan objektivitas selama proses pembuktian berlangsung.
“Persidangan ini harus berjalan dengan tenang. Jangan terbawa emosi,” ujar hakim menengahi suasana.
Tag
Berita Terkait
Terpopuler
- Janji Ringankan Kasus, Oknum Jaksa di Banten Ancam Korban Bayar Rp2 Miliar atau Dihukum Berat
- 5 HP Murah Terbaru Lolos Sertifikasi di Indonesia, Usung Baterai Jumbo hingga 7.800 mAh
- 6 Bedak Tabur Tahan Air, Makeup Tetap Mulus Meski Keringatan Seharian
- 69 Kode Redeem FF Max Terbaru 14 April 2026: Ada Skin Chromasonic dan Paket Bawah Laut
- Misteri Lenyapnya Bocah 4 Tahun di Tulung Madiun: Hanya Sekedip Mata Saat Ibu Mencuci
Pilihan
-
Beban Ganda Wanita Saat WFH: Terjebak Laptop dan Pekerjaan Rumah Tangga
-
Hore! Jogja Berlakukan Perpanjangan STNK Tanpa KTP Asli, Calo PajakMakin Terhimpit
-
Daftar Starting XI Timnas Indonesia U-17 vs Malaysia: Dava Yunna Masih Jadi Tumpuan!
-
Jateng Belum Ikut-ikut Kebijakan KDM, Bayar Pajak Kendaraan Masih Pakai KTP Pemilik Lama
-
Ketua Ombudsman RI Hery Susanto Jadi Tersangka Kejagung, Tangan Diborgol
Terkini
-
Misteri Kerangka Manusia Nyangkut di Sampah Citarum, Ciri Kawat Jadi Kunci
-
Sapu Jalan Berujung Maut: Petugas PPSU Tewas Ditabrak Mobil Oleng di Pejaten
-
Petani Tembakau Madura Desak Pemerintah Ubah Kebijakan Rokok Ilegal
-
DKI Jakarta Berangkatkan 7.819 Jemaah Haji, Pemprov Siapkan 117 PPIH
-
Tangisan Anak di Serpong Utara Ungkap Penemuan Jasad Wanita Dalam Rumah
-
Aksi Kamisan ke-904 Soroti Militerisasi Sipil: Impunitas Masih Berulang
-
Tim Advokasi Minta MK Batalkan Pasal Kontroversial UU TNI, Soroti Ruang Sipil dan Impunitas
-
Cueki Permintaan Trump, Presiden Lebanon Ogah Bicara dengan Benjamin Netanyahu
-
Gelar KWP Awards 2026, Ariawan: Pers dan Parlemen Wajib Kolaborasi untuk Negara
-
Mengenal Piramida Budaya Perkosaan: Dari Obrolan Digital hingga Kekerasan Nyata